KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Memasuki wilayah rimba persilatan

Malam baru saja merangkak naik, meninggalkan bias jingga yang perlahan tertelan oleh pekatnya kegelapan hutan purba di perbatasan wilayah rimba persilatan. Angin malam berhembus kencang, membawa aroma lembap tanah basah, humus busuk, dan desau daun-daun lebar yang bergesekan bagai bisikan makhluk tak kasat mata. Di bawah naungan kanopi pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi menutupi cahaya bintang, enam orang pendekar berjalan beriringan dengan langkah sangat hati-hati.

Di barisan paling depan, Arya berjalan dengan pandangan awas. Ujung sepatu kainnya menyentuh tanah secara perlahan, menguji setiap jengkal pijakan agar tidak salah melangkah. Di tangan kanannya, pedang warisan leluhur tergenggam erat, bilahnya yang dingin memantulkan sedikit cahaya kunang-kunang hutan.

"Berhenti sebentar," bisik Arya pelan, mengangkat tangan kirinya ke udara untuk memberi tanda kepada rombongan di belakangnya.

Seluruh rombongan langsung menghentikan langkah tanpa suara sedikit pun. Ki Ageng Wira, yang berjalan tepat di belakang Arya, menyipitkan matanya menatap kegelapan di hadapan mereka. Di sebelah Ki Ageng, Dewi Kirana merapatkan jubah ungunya, sementara Ki Sasmita dan dua orang murid senior mengatur napas agar suara mereka tidak memecah keheningan malam yang mencekam.

"Ada apa, Arya? Apakah kau mencium bau aneh di depan?" tanya Ki Sasmita berbisik, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin malam.

Arya mengangguk pelan, kepalanya sedikit miring mendengarkan suara-suara kecil di antara pepohonan. "Bukan hanya bau aneh, Tetua Sasmita. Perhatikan jajaran pohon pinus di sebelah kiri jalur kita. Jarak antara batang pohon pertama dan kedua terlihat tidak wajar, seolah-olah ada pola yang sengaja diatur oleh tangan manusia, bukan alam."

Ki Ageng Wira melangkah maju mendekati Arya, lalu melemparkan sehelai daun kering ke arah depan. Begitu daun itu melintasi garis batas antara dua pohon pinus tersebut, sebuah desingan tajam terdengar memecah keheningan.

Syuuung!

Tiga anak panah kecil berlapis racun hitam melesat sangat cepat dari balik semak-semak, menembus ruang kosong tempat daun itu melayang, dan menancap sangat dalam di batang pohon di seberang jalan. Ujung anak panah langsung mengeluarkan asap mendesis tipis, menandakan racun yang melapisinya adalah jenis racun peluluh tulang yang sangat mematikan.

Dewi Kirana menahan napas, matanya membelalak kaget melihat kecepatan mekanisme jebakan tersebut. "Luar biasa licik! Jika tadi kita melangkah tanpa perhitungan, nyawa kita pasti sudah melayang dalam sekejap."

"Ini baru permulaan," ucap Ki Ageng Wira dengan nada datar namun penuh ketegasan, sementara matanya menatap tajam ke dalam lorong gelap rimba persilatan di hadapan mereka. "Wilayah ini dikenal sebagai Rimba Tengkorak Hitam. Konon, siapa pun yang masuk ke sini tanpa petunjuk yang benar tidak akan pernah bisa keluar hidup-hidup. Tetaplah waspada dan jangan pernah lepaskan pandangan kalian dari bayangan di tanah."

❖ ❖ ❖

Setelah berhasil melewati jebakan panah beracun pertama, rombongan melanjutkan perjalanan dengan tingkat kewaspadaan yang berlipat ganda. Namun, hutan purba ini seolah tidak pernah kehabisan cara untuk menyambut para tamu tak diundang dengan kematian. Tanah yang mereka pijak perlahan mulai melunak, berubah menjadi lumpur hitam pekat yang mengeluarkan gelembung-gelembung udara beracun.

"Awas! Ini rawa pengisap!" seru Arya saat menyadari tanah di bawah kaki kanannya mendadak amblas sedalam setengah meter.

Tanpa sempat menarik kakinya, lumpur hitam itu mulai menyedot tubuhnya ke bawah dengan kekuatan isapan yang luar biasa besar. Arya mencoba menjejakkan tenaga dalamnya untuk melompat, tetapi beratnya beban dan kelembapan lumpur membuat gerakannya tertahan.

"Arya, raih tangan ini!" bentak Ki Ageng Wira dengan cepat. Tanpa ragu, Ki Ageng mengalirkan tenaga dalam ke telapak tangannya lalu mengulurkannya ke arah Arya.

Arya menggapai tangan sang guru sekuat tenaga. Dengan satu sentakan kuat yang disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi, Ki Ageng Wira berhasil mengangkat tubuh Arya keluar dari kubangan lumpur maut tersebut dan mendaratkannya di atas batu besar yang kering.

"Terima kasih, Guru," ucap Arya terengah-engah, pakaian bagian bawahnya kini kotor berlumuran lumpur hitam yang berbau busuk menyengat.

"Jangan lengah! Lumpur ini bukan sekadar rawa biasa," ujar Ki Sasmita sambil menunjuk ke arah permukaan air lumpur yang bergejolak hebat.

Dari dalam lumpur hitam itu, puluhan akar berduri tajam tiba-tiba mencuat keluar seperti ribuan tangan kerangka yang mencoba meraih pergelangan kaki mereka. Akar-akar tersebut bergerak liar, meliuk-liuk di udara mencari mangsa.

"Rawa Berdarah! Akar-akar ini digerakkan oleh energi hitam dari pendekar aliran sesat!" seru Dewi Kirana, langsung menghunus pedang peraknya. Sinar keperakan terpancar dari bilah pedangnya saat ia menebas ke bawah, memotong beberapa akar berduri yang hampir menyentuh kakinya.

"Potong pangkalnya, jangan biarkan mereka melilit kaki kita!" perintah Ki Ageng Wira.

Pertempuran singkat melawan tumbuhan aneh itu terjadi dalam keheningan malam. Setiap kali akar ditebas, cairan kental berwarna merah pekat memercik keluar dari batangnya, menyebarkan bau amis yang memualkan perut. Berkat kerjasama yang padat dan ketepatan jurus para pendekar, seluruh akar berduri berhasil dipangkas habis dalam waktu singkat. Namun, nafas mereka mulai memburu, dan keringat dingin bercampur lumpur mulai membasahi sekujur tubuh. Perjalanan baru berjalan seperempat jalan, tetapi tenaga fisik dan mental mereka sudah terkuras cukup banyak oleh rentetan jebakan yang mematikan ini.

Lihat selengkapnya