KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Penyergapan pertama di Hutan Kabut

Desir angin malam di Hutan Kabut Hitam membawa hawa lembap yang menusuk tulang. Pepohonan purba berkanopi rapat menutupi cahaya bulan, menyisakan kegelapan pekat yang hanya ditembus oleh kilatan mata kunang-kunang liar. Di antara akar-akar beringin raksasa yang mencengkeram tanah basah, Arka dan Tera melangkah dengan sangat berhati-hati. Setiap jejak kaki mereka diredam oleh lapisan lumut tebal, namun ketegangan di udara tidak bisa disembunyikan.

"Kita sudah berjalan selama tiga jam di dalam labirin kabut ini, Arka," bisik Tera dengan suara tertahan. Ia merapatkan jubah abu-abunya untuk menghalau dingin yang kian menggigit kulit. "Hutan ini terasa semakin menyesakkan. Rasanya kabut ini tidak sekadar ubat air biasa, melainkan kabut beracun yang sengaja diciptakan untuk mengaburkan arah."

Arka menghentikan langkahnya secara perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada Tera agar tetap waspada dan tidak bersuara keras. Di punggung tangan kanannya, simbol teratai bercahaya emas samar-samar memancarkan pendar hangat di balik kain pembungkus tipis.

"Kau benar, Tera. Kabut ini memiliki sirkulasi energi yang tidak wajar," jawab Arka pelan, matanya tajam memindai kegelapan di hadapan mereka. "Sejak kita memasuki perbatasan Hutan Kabut Hitam ini sore tadi, aku bisa merasakan kehadiran mata-mata yang mengintai dari atas dahan-dahan tinggi. Mereka tidak berniat menyerang langsung, melainkan sengaja menggiring kita masuk ke dalam perangkap."

Tera menelan ludah dengan susah payah, jemarinya secara refleks meraba hulu pedang pendek di pinggangnya. "Kelompok pembunuh bayaran dari Sekte Bayangan Malam? Apakah berita tentang Kitab Teratai Agung di tubuh kita sudah menyebar sejauh ini ke wilayah barat?"

"Sudah pasti," balas Arka dingin. "Kabar tentang ledakan spiritual di reruntuhan Pertapaan Langit Biru beberapa waktu lalu mustahil bisa disembunyikan dari telinga para pendekar aliran sesat. Bagi mereka, kita berdua bukan lagi sekadar manusia biasa, melainkan wadah berjalan yang memuat harta karun paling diincar di jagat persilatan."

Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung hantu malam memecah keheningan, disusul oleh suara desisan angin yang tidak wajar dari arah timur laut. Suhu di sekitar mereka mendadak turun drastis, membuat embun di ujung-ujung daun berubah menjadi kristal es kecil yang rapuh.

"Mereka datang," geram Arka, menghunus pedangnya setengah jalan. Logam pedang itu bergesekan pelan dengan sarungnya, memantulkan kilau perak di tengah remang-remang malam.

Tera merapatkan posisinya di punggung Arka, membentuk formasi pertahanan ganda yang telah mereka latih selama perjalanan panjang ini. "Jangan beri mereka celah, Arka. Kita hadapi bersama!"

Tanpa aba-aba lebih lanjut, bayangan-bayangan hitam legam mulai meluncur turun dari atas dahan-dahan pohon purba bagaikan hantu tanpa suara. Puluhan jarum beracun melesat menembus kabut, mengarah langsung ke titik-titik mematikan di tubuh Arka dan Tera. Penyergapan pertama di Hutan Kabut Hitam resmi dimulai, menguji sejauh mana warisan takdir di dalam tubuh mereka sanggup bertahan menghadapi maut yang mendatangi.

❖ ❖ ❖

Desingan puluhan jarum beracun membelah udara dengan kecepatan luar biasa. Arka bergerak secepat kilat, memutar pedangnya membentuk perisai angin melingkar yang menepis sebagian besar jarum-jarum tersebut hingga terpental jatuh ke tanah dan mendesis mengeluarkan asap ungu pekat.

Tring! Tring! Tring!

"Awas di sebelah kiri, Tera!" seru Arka, melompat dan mengayunkan kakinya untuk menghantam sesosok bayangan berpakaian serba hitam yang melompat dari balik semak belukar.

Tera tidak tinggal diam. Begitu mendengar peringatan Arka, ia merendahkan tubuhnya, menghindari tebasan pedang melengkung yang nyaris merobek lehernya. Dengan gerakan luwes, Tera memutar tubuh dan menghujamkan pedang pendeknya ke arah rusuk musuh tersebut.

Surg!

Darah segar terpercik ke atas lumut hitam. Pembunuh bayaran berzirah kain hitam itu mengerang tertahan sebelum tubuhnya ambruk ke tanah. Namun, kematian satu orang sama sekali tidak menghentikan laju kelompok tersebut. Dari balik kabut tebal, belasan sosok serupa bermunculan dengan gerakan akrobatik yang mematikan, mengepung Arka dan Tera dalam lingkaran ketat.

"Kalian kira bisa keluar hidup-hidup dari Hutan Kabut Hitam setelah mencuri warisan Sekte Bayangan Malam?" sebuah suara serak terdengar menggelegar di antara pepohonan, memantul ke segala arah tanpa bisa dideteksi dari mana asal sumbernya.

Arka berdiri tegak di samping Tera, napasnya mulai sedikit memburu akibat tenaga dalam yang terkuras untuk menangkis rentetan serangan kilat tersebut. "Sekte Bayangan Malam? Sejak kapan Kitab Teratai Agung menjadi milik sekte rendahan seperti kalian? Kitab itu memilih kami atas kehendaknya sendiri!"

"Ancaman sombong dari anak kemarin sore!" balas suara serak itu dengan nada penuh ejekan. "Tunjukkan diri kalian, para pemimpin bayangan! Cincang tubuh mereka, ambil simbol di tangan mereka, dan bawa kepala mereka ke hadapan ketua besar!"

Lihat selengkapnya