Deru angin malam menggulung debu tanah perbatasan bagai barisan hantu yang kelaparan, bergesekan dengan bilah-bilah baja yang bergetar di dalam sarungnya. Di balik parit pertahanan terdepan, kegelapan malam bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah selimut hidup yang menyembunyikan ribuan pasang mata penuh kebencian. Bau anyir darah kering dan mesiu basah mengambang pekat di udara, menandakan bahwa pertempuran besar antara hidup dan mati tinggal menghitung detik.
Fathan berdiri tegak di atas gundukan tanah liat yang mengeras, jubah perangnya berkibar liar diterpa badai malam. Tangannya yang kokoh mencengkeram erat tombak bermata ganda pusaka leluhur, sementara napasnya diatur selaras dengan denyut tenaga dalam di dalam dantiannya. Di sampingnya, Galin meregangkan otot-otot lengannya yang kekar, memutar pedang besar berbobot puluhan kati dengan gerakan melingkar yang menciptakan suara desingan tajam memecah kesunyian malam.
"Kau yakin mereka akan mengambil jalur utama ini, Fathan?" tanya Galin pelan, matanya menyipit menembus pekatnya kabut yang merayap dari lembah di bawah sana. "Pasukan Golongan Hitam terkenal licik. Bisa saja mereka mengirim bayangan untuk mengecoh kita dari sayap kiri."
Fathan menggeleng perlahan, pandangannya tidak pernah lepas dari garis cakrawala yang gelap gulita. "Tidak, Galin. Berdasarkan laporan para pengintai tadi sore, Jenderal Bahtra tidak punya waktu untuk bermain trik kotor lagi. Mereka membawa gerombolan besar dan mesin pendobrak benteng. Jalur utama ini adalah jalan terpendek untuk menembus garis pertahanan kita sebelum fajar menyingsing."
"Baguslah kalau begitu," gerutu Galin dengan senyum menyeringai tipis, memperlihatkan barisan giginya di balik cahaya bulan yang pucat. "Aku sudah bosan berlatih di kamp pengungsian. Saatnya bilah pedang ini mencicipi darah para bajingan itu lagi."
"Jangan meremehkan mereka, Galin," ucap Fathan memperingatkan dengan nada berat. "Meskipun kita memegang posisi geografis yang menguntungkan di atas bukit ini, jumlah mereka setidaknya sepuluh kali lipat dari pasukan kita di barisan depan. Kita berdua ditugaskan di sini bukan untuk mencari nama, melainkan sebagai batu karang pertama yang harus menahan hantaman ombak."
"Aku tahu batas kemampuanku, kawan," jawab Galin mantap, menepuk pundak Fathan dengan tangan kirinya yang berlapis pelindung baja. "Selama aku berdiri di sini, tidak ada satu pun makhluk dari Golongan Hitam yang bisa melewati garis ini hidup-hidup."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Suara jangkrik dan burung malam yang biasanya menghiasi hutan perbatasan seolah lenyap seketika, tertelan oleh gelombang aura pembunuh yang merambat naik dari dasar lembah. Pepohonan di lereng bukit mulai berguncang hebat, bukan karena terpaan angin, melainkan karena getaran ribuan kaki pasukan musuh yang berlari serempak dalam formasi tempur yang teratur.
"Mereka datang," bisik Fathan tajam, mengalirkan tenaga dalam ke seluruh urat nadinya hingga tombak di tangannya memancarkan pendar cahaya keemasan yang samar.
❖ ❖ ❖
Dari balik selimut kabut tebal, ribuan sosok berjubah hitam legam mulai menampakkan wujud mereka bagaikan air bah yang tumpah dari pegunungan. Di barisan paling depan, puluhan algojo bertubuh kekar memanggul kapak raksasa bermata dua, berlari dengan teriakan perang yang menggetarkan dada dan meremukkan nyali orang-orang penakut. Sorot mata mereka tampak merah dipenuhi nafsu pembantaian yang sudah di luar batas kewarasan manusia biasa.
"Tahan posisi kalian!" Fathan berteriak lantang memberikan komando kepada pasukan pemanah di belakang bukit, meskipun suaranya hampir tenggelam oleh deru ribuan langkah musuh. Ia menatap tajam ke arah gelombang manusia yang semakin mendekat dengan kecepatan luar biasa.
"Kurang ajar, jumlah mereka benar-benar mengerikan!" seru Galin, matanya melotot melihat lautan hitam yang kini hanya berjarak kurang dari seratus langkah dari posisi mereka berdiri. "Jika kita biarkan mereka menabrak pagar kayu pertama, pertahanan ini akan runtuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit!"
"Karena itulah kita harus menghentikan momentum mereka di sini, di titik sempit ini!" balas Fathan tanpa ragu.
Tanpa menunggu aba-aba lanjutan, Fathan melompat turun dari gundukan tanah, mendarat dengan kedua kaki kokohnya tepat di tengah jalur utama tempat musuh menyerbu. Tombak bermata gandanya dihujamkan ke tanah, melepaskan gelombang kejut tenaga dalam berbentuk lingkaran emas yang menyapu bersih puluhan meter rumput liar dan melejitkan debu tebal ke udara.
Ledakan kecil akibat benturan tenaga dalam itu berhasil merontokkan barisan terdepan pasukan musuh. Belasan prajurit Golongan Hitam terpental ke belakang, mengerang kesakitan sebelum sempat mengayunkan senjata mereka.
"Hahaha, kerja bagus, Fathan! Jangan biarkan mereka bernapas!" tawa Galin meledak. Ia ikut melompat menyusul Fathan, mengayunkan pedang besarnya secara horizontal dengan kekuatan penuh. Tebasan angin dari pedang itu menciptakan badai kecil yang menyayat udara, merobek baju zirah besi tiga orang prajurit musuh seketika dan membuat mereka tersungkur bersimbah darah.
Namun, Golongan Hitam bukanlah kelompok penjahat sembarangan. Kehilangan puluhan orang di barisan depan sama sekali tidak menurunkan mental bertempur mereka. Sebaliknya, teriakan kemarahan justru semakin menggemuruh dari barisan tengah musuh. Tiga orang komandan lapangan berbadan besar dengan tanda luka silang di wajah mereka melompat ke depan, mengacungkan pedang panjang beracun ke arah Fathan dan Galin.
"Kalian dua anak muda keparat yang berani menghalangi jalan Pasukan Bayangan Hitam!" bentak salah satu komandan musuh dengan suara serak mengerikan. "Terimalah kematian kalian di ujung lembah ini!"
Fathan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memutar tombaknya dengan kecepatan kilat, menciptakan perisai cahaya berputar yang menangkis hantaman tiga bilah pedang beracun secara bersamaan. Brak! Suara benturan baja terdengar nyaring memecah malam, memercikan bunga api yang menyinari wajah mereka yang tegang.
"Galin, urusi yang di sebelah kiri! Aku akan menghadapi pemimpin mereka!" seru Fathan di tengah sengitnya benturan senjata.
"Serahkan padanya!" balas Galin sambil menyambut hantaman kapak besar dengan tawa dingin yang menciutkan nyali lawan.
❖ ❖ ❖
Pertempuran di titik sempit bukit perbatasan itu kini berubah menjadi ajang pembantaian yang sesungguhnya. Fathan bergerak bagaikan angin badai, tombak bermata gandanya menusuk dan membelah pertahanan tiga komandan musuh yang mengepungnya secara bersamaan. Setiap gerakan Fathan memancarkan energi spiritual tingkat tinggi yang membuat para penyerang kesulitan mendekat tanpa harus kehilangan nyawa mereka.