Malam perlahan merangkak naik, meninggalkan sisa-sisa aroma mesiu, darah segar, dan kelembapan tanah hutan yang basah oleh embun. Di bawah naungan lebatnya dedaunan pohon purba, keheningan yang mencekam mulai menggantikan hiruk-pikuk suara baja yang beradu dan teriakan kesakitan dari pertempuran sengit yang baru saja usai. Kemenangan memang telah berada di tangan mereka, namun kelegaan itu terasa hambar saat dirasakan di tengah reruntuhan markas musuh yang kini tinggal memorak-porandakan tanah.
Rafar bersandar lemah pada batang pohon besar yang kulitnya terkelupas akibat sambaran sisa sihir pertempuran tadi. Napasnya masih memburu, memompa udara ke paru-parunya yang terasa terbakar. Di hadapannya, lampu minyak kecil yang redup diletakkan di atas tunggul kayu, memancarkan cahaya kekuningan yang lemah untuk menerangi suasana sekitar.
"Apakah kita benar-benar berhasil melewati pos pertahanan utama mereka tanpa kehilangan satu pun anggota?" tanya Rafar dengan suara parau, sambil mencoba mengatur posisi duduknya agar rasa nyeri di bahunya sedikit mereda.
Kamil yang berdiri tidak jauh darinya, sedang membersihkan bilah pedangnya dari noda darah kehitaman menggunakan sepotong kain usang. Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke arah Rafar dengan sorot mata yang menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
"Kita berhasil, Rafar. Pasukan bayangan Golongan Hitam telah kocar-kacir dan mundur ke lembah seberang," jawab Kamil tegas, meski nada suaranya terdengar datar karena kehabisan tenaga. "Tetapi, kemenangan ini sama sekali bukan hadiah gratis yang jatuh dari langit."
Yafid, yang baru saja selesai membalut luka di pergelangan tangannya dengan kain perban darurat, mendekati keduanya dengan langkah pincang. Ia mendengkus pelan sambil meringis kecil menahan sakit.
"Hadiah gratis? Kau menyebut kehancuran ini sebagai hadiah, Kamil?" Yafid mendengus sinis, meski ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya. "Hampir seluruh persediaan ramuan kita habis, baju kita robek di sana-sini, dan tubuh kita penuh dengan sayatan serta lebam."
"Setidaknya kita masih bisa bernapas dan berdiri di atas tanah ini, Yafid," balas Kamil sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung kulit. "Banyak pejuang lain di luar sana yang bahkan tidak sempat melihat fajar setelah berhadapan dengan komandan musuh."
"Aku tidak bilang kita harus meratap, Kamil. Aku hanya mengingatkan bahwa harga yang kita bayar untuk kemenangan pertama ini tidaklah murah," sahut Yafid lagi, lalu ia melabuhkan tubuhnya ke atas batu besar di samping Rafar.
Rafar mengangguk setuju, matanya menerawang menembus kegelapan malam yang pekat. "Yafid benar. Pertempuran tadi adalah peringatan keras bagi kita. Kekuatan musuh jauh di luar dugaan, dan kita tidak boleh terlena hanya karena berhasil mendesak mereka mundur malam ini."
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar perkemahan sementara itu mendadak terasa semakin sesak oleh bayang-bayang ancaman yang belum sepenuhnya sirna. Luka-luka di tubuh para sahabat mulai mendingin, memunculkan rasa perih yang teramat sangat seiring menurunnya adrenalin pertempuran.
Rafar mengangkat tangannya perlahan, menyentuh luka gores yang cukup dalam di sisi rusuk kanannya, lalu mendesis pelan saat jari-jarinya menekan kulit yang membiru.
"Luka-luka kecil seperti ini mungkin terlihat sepele di tengah kekacauan, tapi jika infeksi menyebar sebelum kita mencapai kota perlindungan berikutnya, perjalanan kita akan terhenti total," kata Rafar serius, memecah keheningan yang sempat tercipta.
Kamil mendekat, membawa kantong air kecil dan sisa bubuk antiseptik herbal yang tersimpan di dalam kantong pinggangnya. Ia berlutut di samping Rafar tanpa banyak bicara, lalu mulai membersihkan darah kering di sekitar luka tersebut.
"Tahan sebentar, ini akan terasa sedikit menyengat," ujar Kamil memperingatkan sebelum menuangkan cairan antiseptik itu ke atas luka terbuka Rafar.
Rafar menggertakkan giginya rapat-rapat, otot-otot di lehernya menegang menahan rasa sakit yang luar biasa membakar kulitnya. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun keluhan.
"Kau terlalu memaksakan diri menahan serangan prajurit berzirah berat tadi di sisi kiri gerbang," komentar Kamil sambil melilitkan kain perban bersih dengan sigap dan terampil. "Jika saja Yafid tidak datang tepat waktu menebas perisai mereka dari belakang, tulang rusukmu pasti sudah remuk."
"Aku tidak punya pilihan lain saat itu," jawab Rafar terengah-engah setelah rasa sakitnya sedikit mereda. "Jika aku mundur satu langkah saja, pertahanan gerbang utama akan jebol, dan mereka akan langsung merangsek masuk ke posisi kalian yang sedang merapal mantra pelindung."
Yafid yang duduk mengawasi proses pengobatan itu menggelengkan kepala pelan. "Kalian berdua sama keras kepalanya. Pertempuran tadi hampir membuat kita kehilangan kendali atas strategi awal."
"Strategi awal dibuat untuk beradaptasi dengan situasi di lapangan, Yafid," balas Kamil dingin namun tenang, bangkit berdiri setelah selesai membalut luka Rafar. "Dan kenyataannya, meskipun kita harus babak belur dan menanggung beberapa luka ringan, musuh lah yang menderita kerugian paling besar malam ini."