Suasana malam di ruang obat kedai terasa begitu mencekam, ditemani oleh cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip akibat terpaan angin malam dari celah jendela yang terbuka. Aroma tajam berbagai jenis akar-akaran, rempah kering, dan cairan obat memenuhi setiap jengkal ruangan yang sempit itu. Di atas meja kayu panjang, puluhan wadah tanah liat berbaris rapi, berisi sisa-sisa bahan pengobatan yang semakin hari semakin menipis. Zahra berdiri di samping meja dengan kening berkerut dalam, jemarinya dengan telaten memilah beberapa helai daun penawar racun yang layu.
"Zahra, apakah bahan-bahan ini masih cukup untuk meracik salep penawar bagi korban luka luar di tenda pengungsian?" tanya Chafia sambil melangkah masuk membawa sebaskom air hangat, wajahnya menyiratkan kelelahan yang teramat sangat.
Zahra mendesah pelan, menggelengkan kepalanya lemah. "Hanya tersisa seperempat dari perkiraan kita, Chafia. Luka luar akibat senjata beracun Golongan Hitam itu jauh lebih ganas dari yang kita duga. Kulit mereka membusuk dalam hitungan jam jika tidak segera dilumuri salep khusus."
"Jika kita hanya mengandalkan stok yang ada di rak utama, ini tidak akan bertahan sampai pagi," jawab Chafia dengan suara cemas, meletakkan baskom air di atas bangku kecil dekat pintu. "Para pengungsi di luar terus mengerang kesakitan. Kita butuh ramuan penawar yang tidak hanya menghentikan pembusukan luar, tapi juga membersihkan racun yang sudah merasuk ke dalam aliran darah."
Zahra mengangguk setuju, matanya menatap tajam ke arah lemari kayu tua di sudut ruangan yang menyimpan gulungan resep rahasia peninggalan leluhur kedai. Peran mereka malam ini bukan lagi sekadar membantu sesama, melainkan menjadi benteng terakhir pertahanan hidup puluhan orang yang tidak berdosa. Tanpa keahlian meramu obat dari Zahra dan ketelitian Chafia dalam menakar dosis, nyawa para korban dipastikan melayang sebelum fajar menyingsing.
Di luar ruangan, suara rintihan pasien terdengar semakin pilu, seolah mendesak keduanya untuk bekerja lebih cepat. Zahra mengambil sebuah lesung batu porselen, menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya yang tidak beraturan, lalu mulai menyiapkan langkah awal dari proses peracikan obat yang paling krusial dalam sejarah kedai mereka.
❖ ❖ ❖
Pekerjaan meramu obat itu mendadak menemui hambatan besar ketika Zahra mencampurkan getah pohon sena ke dalam mangkuk utama. Tiba-tiba, cairan di dalam mangkuk tersebut mendidih dan mengeluarkan buih pekat berwarna keunguan disertai bau menyengat yang membuat mata perih. Zahra langsung menarik tangannya mundur, terbatuk-batuk kecil akibat uap beracun yang mengepul dari adonan tersebut.
"Ada apa, Zahra? Kenapa reaksinya bisa separah itu?" seru Chafia panik, buru-buru menutup hidungnya dengan selembar kain basah lalu mendekati meja peracikan.
"Getah pohon sena yang kita dapatkan dari hutan bagian barat ternyata sudah terkontaminasi oleh kelembapan udara malam," jawab Zahra dengan napas tersengal, menatap adonan obat yang kini berubah warna menjadi hitam legam. "Jika kita tetap memaksakan mencampurnya dengan bubuk akar ginseng purba, racunnya justru akan berbalik menyerang jaringan kulit pasien."
Chafia terbelalak kaget, menatap mangkuk tersebut dengan rasa frustrasi yang mendalam. "Demi langit... padahal itu adalah bahan utama untuk menghentikan pendarahan luka luar! Kalau bahan ini rusak, lalu dengan apa kita mengobati puluhan orang di tenda sebelah?"
"Tenanglah, Chafia, jangan panik," ucap Zahra meski suaranya sendiri bergetar hebat. "Kita masih punya cadangan bubuk daun mint gunung di laci bawah. Tapi masalahnya, daun mint itu memiliki sifat mendinginkan yang terlalu ekstrem. Jika takarannya meleset sepersekian gram saja, pembuluh darah pasien bisa membeku seketika."
Suasana di dalam ruangan mendadak hening, hanya menyisakan suara desau angin malam yang menampar dinding kayu kedai. Chafia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menyadari betapa tipisnya batas antara kesembuhan dan kecacatan permanen bagi para korban. Setiap keputusan yang mereka ambil di atas meja peracikan ini memegang kendali penuh atas hidup dan mati sesama manusia.
"Aku akan membantumu menakar bubuk mint itu dengan timbangan perak," kata Chafia tegas, mengambil alih timbangan kecil dari tangan Zahra dengan gerakan yang sangat berhati-hati. "Kau siapkan cairan penetralnya sekarang juga."
❖ ❖ ❖