Kabut tebal membungkus Bukit Cadas Hitam ketika malam mencapai puncaknya. Udara dingin merayap melalui sela-sela pakaian tebal, namun dua sosok yang berdiri di bawah naungan pohon pinus tua tidak bergeming sedikit pun. Azalia menyesuaikan posisi tudung kain kelamnya, sementara Risha memeriksa tali pengikat pisau lempar di lengan bawahnya. Di hadapan mereka, benteng pertahanan sementara milik Golongan Hitam berdiri menantang dalam remang rembulan, dikelilingi oleh parit dalam dan cerucuk kayu runcing.
"Kau yakin rute barat daya ini benar-benar tidak dijaga, Risha?" bisik Azalia amat pelan, suaranya hampir menyatu dengan gesekan daun pinus.
Risha mengangguk kecil, matanya memancarkan kilatan tajam di tengah kegelapan malam. "Aku sudah mengamati pola pergantian penjaga sejak tiga jam lalu, Azalia. Setiap kali lonceng kayu dibunyikan dari pos utama, lima prajurit berpindah ke sisi timur. Ada jeda sepuluh menit di mana sudut barat daya ini menjadi buta."
"Sepuluh menit adalah waktu yang sangat melimpah untuk kita menyusup," ujar Azalia seraya menarik napas panjang. Ia merapatkan tubuhnya ke tanah yang basah oleh embun. "Ingat, tugas kita malam ini hanya mengintai dan mencatat peta kekuatan musuh. Jangan ada genangan darah jika tidak terpaksa."
"Tentu saja," balas Risha lembut. "Aku tidak ingin merusak keheningan malam yang indah ini dengan jeritan pengawal musuh. Apakah perbekalanmu sudah siap?"
"Semuanya siap. Buku catatan kecil, tinta khusus, dan tiga pemicu asap pembeku," jawab Azalia penuh keyakinan. "Bagaimana dengan racun penenang milikmu?"
"Cukup untuk menidurkan satu peleton prajurit jika keadaan mendesak," Risha tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah celah dinding pagar kayu di bawah. "Lihat, pertukaran penjaga baru saja dimulai. Waktu kita berjalan sekarang!"
Azalia meluncur turun dari tebing berbatu tanpa menghasilkan gemerisik sedikit pun. Langkah kakinya seringan kapas yang jatuh ke permukaan air. Risha menyusul tepat di belakangnya, bertindak sebagai pengawas ruang gelap dan penjaga arah belakang. Keduanya bergerak layaknya dua bayangan gaib yang membelah keheningan rimba malam.
"Risha, tahan posisi di balik batu raksasa itu," instruksi Azalia saat mereka tiba di dasar parit. "Aku akan memanjat celah kayu untuk melihat tata letak kemah dalam."
"Hati-hati, Azalia," peringat Risha seraya menggenggam erat tabung tiup perunggu di tangannya. "Satu langkah keliru akan memicu lonceng bahaya di seluruh perkemahan."
"Percayalah padaku," bisik Azalia seraya meloncat ringan, mencengkeram celah pagar kayu dengan ujung jemarinya yang cermat.
❖ ❖ ❖
Dari atas celah kayu, Azalia menahan napasnya. Pemandangan di dalam markas musuh terhampar jelas. Puluhan tenda merah darah berbaris rapi di sekitar kemah utama yang berukuran paling besar. Ratusan obor menyala di sepanjang rute patroli, memancarkan bau minyak jarak yang menyengat hidung. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Jumlah kereta logistik di sisi tengah jauh lebih banyak daripada laporan intelijen awal.
Azalia segera menarik gulungan kertas kecil dan kuas tipis dari balik jubahnya. Dengan cekatan, ia menggoreskan sketsa tata letak kemah dan posisi pemicu alarm kayu musuh.
"Azalia, ada pergerakan mencurigakan dari arah kemah logistik," panggil Risha melalui bisikan tenaga dalam terarah dari bawah parit.
"Aku melihatnya, Risha," balas Azalia tanpa menghentikan goresan kuasnya. "Ada sepuluh peti kayu raksasa yang dijaga sangat ketat oleh prajurit berzirah hitam. Itu bukan sekadar perbekalan gandum."
"Apakah itu racun peledak belerang?" tanya Risha penasaran.
"Kemungkinan besar ya. Jika mereka membawanya ke perbatasan Lembah Sunyi, benteng pertahanan kita bisa hancur dalam sekali ledakan," bisik Azalia tegang. "Aku harus turun sedikit lebih dekat untuk memastikan isi peti itu."
"Jangan terlalu berisiko, Azalia!" tegur Risha khawatir. "Sudut pandangmu sekarang sudah cukup untuk memetakan kekuatan mereka."
"Kita butuh kepastian, Risha. Jika ini benar racun belerang, Perguruan harus menyiapkan penawar udara sebelum fajar besok," tegas Azalia.
"Baiklah, aku akan mengamankan jalur bawah," desis Risha. "Tapi ingat, jeda pertukaran penjaga tinggal tersisa empat menit lagi!"
Azalia menyelinap masuk melintasi celah kayu yang sempit, meniti balok-balok penyangga pagar dengan keseimbangan sempurna. Lengan baju kelamnya bergerak gemulai di antara kegelapan malam, menyatu dengan lekuk bayang-bayang tiang pagar. Ia melompat turun ke balik tumpukan karung gandum yang berada persis sepuluh langkah dari peti-peti kayu raksasa tersebut.
❖ ❖ ❖
Tepat ketika Azalia hendak menjangkau salah satu peti kayu, suara langkah kaki berat bersenjata besi mengejutkan area sekitar. Dua prajurit bertubuh tinggi besar berbaris mendekati tumpukan karung gandum tempat Azalia bersembunyi.
"Apakah kau mendengar suara tadi?" tanya prajurit pertama seraya mencengkeram tangkai tombaknya erat-erat.
"Suara angin, mungkin. Jangan terlalu tegang, kawasan ini aman," sahut prajurit kedua dengan nada malas.