Suara jangkrik malam terdengar bersahut-sahutan di antara semak belukar di balik komplek Perguruan Angin Sejuk. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, membawa aroma embun dan dedaunan pinus yang basah. Dari atas tebing batu yang menghadap langsung ke arah lembah, sinar rembulan menggantung penuh, memancarkan cahaya perak yang lembut merayapi permukaan bumi.
Arka duduk bersila di tepi tebing, membiarkan ujung jubah bahagian bawahnya terurai menyentuh tanah yang lembap. Jemarinya yang biasanya tangkas kini mengusap pelan sehelai daun hijau, memainkannya tanpa arah yang pasti. Di sampingnya, berjarak tak lebih dari dua jengkal, Tera duduk dengan kedua kaki yang terlipat rapi. Selendang birunya berkibar perlahan diterpa angin malam, memantulkan pendar rembulan yang membuat penampilannya tampak makin anggun sekaligus asing.
"Kau belum tidur, Arka?" tanya Tera memecahkan keheningan. Suaranya serendah desir angin yang berembus di sela-sela tebing, menghilangkan kesan dingin yang biasanya menyelimuti tutur katanya.
Arka menoleh pelan, menyunggingkan senyum tipis yang biasa ia berikan kepada siapa saja. "Malam terlalu tenang untuk dilewatkan dengan memejamkan mata, Tera. Lagipula, isi kepalaku sedang terlalu ramai."
"Tentang latihan Jurus Teratai Kembar yang gagal tadi siang?" duga Tera, matanya menatap lurus ke arah kabut tipis yang menyelimuti lembah di bawah sana.
"Mungkin itu salah satunya," jawab Arka lembut. Ia melepas daun hijau di tangannya, membiarkannya melayang diterbangkan angin malam. "Tapi lebih dari itu, aku hanya sedang berpikir... betapa sedikitnya hal yang kuketahui tentang orang yang harus kubagi nyawanya dalam pertarungan nanti."
Tera diam sejenak. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang menusuk dada. "Kita berada di sini untuk bertarung dan bertahan hidup, Arka. Bukan untuk saling bertukar cerita masa kecil seperti anak-anak di kedai."
"Tapi bukankah itu inti dari jurus kita?" potong Arka pelan, matanya menatap wajah Tera dari samping. "Bagaimana mungkin kita bisa menyatukan hawa murni jika kita terus saling menyembunyikan rasa takut dan luka masa lalu kita di balik dinding tebal?"
Tera memutar kepalanya, menatap Arka dengan pandangan menelisik. "Kau pikir kau bisa mengerti jalanku hanya dengan mendengar sepatah dua patah kata?"
"Mungkin tidak seluruhnya," balas Arka hangat, tidak terpengaruh oleh tatapan tajam gadis itu. "Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin tahu apa yang membuat es di dalam hatimu begitu keras hingga kehangatanku pun tak sanggup mencairkannya."
Tera mengalihkan pandangannya kembali ke arah bulan. Bibirnya merapat tipis, merenungkan ucapan pemuda di sebelahnya. Keheningan kembali melingkupi mereka untuk beberapa saat, hanya diisi oleh gesekan ranting dan helaan napas pendek.
"Kau sangat keras kepala, Arka," gumam Tera dengan nada berserah diri.
"Pendekar Angin Sejuk memang terkenal tidak mudah menyerah," sahut Arka terkekeh pelan. "Jadi, maukah kau memulainya lebih dulu? Atau kau mau mendengar kisah bersahaja dari seorang anak desa sepertiku?"
❖ ❖ ❖
Tera menghela napas panjang, meluruskan jemarinya di atas paha. Cahaya perak bulan membuat kulit wajahnya yang pucat tampak makin transparan. "Di Lembah Es, kami tidak diajarkan untuk memiliki ingatan manis, Arka."
"Semua orang pasti punya setidaknya satu kenangan yang berharga, Tera," ujar Arka penuh rasa ingin tahu.
"Kenangan berharga bagiku adalah saat aku belajar bertahan hidup," balas Tera dingin, namun ada getaran halus di balik suaranya. "Aku tidak dibesarkan oleh seorang guru yang penuh kehangatan seperti Mbah Wirya. Di tempat asalku, jika kau menunjukkan kelemahan, kau akan ditinggalkan di atas padang salju hingga membeku."
Arka menyimak dengan seksama. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh simpati yang mendalam. "Apakah itu alasannya kau selalu memisahkan diri dari orang lain?"
"Ibu kandungku meninggal saat aku berumur tujuh tahun," lanjut Tera tanpa menjawab pertanyaan Arka secara langsung. Matanya menerawang jauh, menembus ingatan masa lalunya. "Dia membeku di dalam badai saat mencari tanaman obat untukku yang sedang demam tinggi. Ketika para petinggi lembah menemukannya, mereka hanya mengambil kitab ajaran yang dibawanya dan membiarkan jasad ibuku tertutup salju abadi."
Arka mengetatkan rahangnya. "Bagaimana bisa mereka melakukan hal kekejam itu pada anggotanya sendiri?"
"Kerana di Lembah Es, hukum utama adalah kekuatan," jawab Tera dengan tawa pahit yang terasa sangat kering. "Kehangatan adalah kemewahan yang berbahaya. Ibu mati karena dia menyerah pada rasa kasih sayang anak. Sejak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membuang semua perasaan lemah itu dari dadaku. Aku tidak boleh hangat, karena kehangatan hanya akan membakar diriku hingga habis."
Arka memandangi gadis di hadapannya dengan tatapan yang sangat dalam. Sekarang ia paham mengapa setiap kali ia menyalurkan hawa murni Angin Sejuk yang hangat, reaksi pertama dari aliran darah Tera adalah mendorongnya keluar dengan keras. Bagi Tera, kehangatan bukan simbol perlindungan, melainkan trauma yang mengancam nyawanya.
"Aku minta maaf, Tera," bisik Arka tulus. "Aku tidak tahu kau harus melewati jalan sesulit itu."
"Jangan mengasihaniku," potong Tera cepat, menatap Arka dengan mata yang membelalak tajam. "Aku bercerita bukan untuk meminta rasa iba dari siapapun, apalagi darimu."
❖ ❖ ❖
Arka mengangguk perlahan, menerima ketegasan gadis itu tanpa sedikit pun merasa tersinggung. "Aku paham. Aku tidak mengasihanimu, Tera. Aku justru mengagumi ketabahanmu."