KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Hambatan emosional

Malam baru saja menyelimuti Pegunungan Sunyi, namun di dalam gua batu tempat perguruan bermarkas, suasana terasa jauh lebih panas daripada terik siang hari. Obor-obor minyak menyala dengan lidah api yang menari-nari liar, melemparkan bayangan panjang ke dinding batu yang lembap. Di tengah ruangan latihan tertutup itu, Arka dan Tera berdiri saling membelakangi, masing-masing mengatur pernapasan dalam-dalam untuk mempersiapkan diri menghadapi tahap akhir penguasaan jurus warisan leluhur.

"Ingat, konsentrasi kalian harus menyatu tanpa celah," suara sesepuh perguruan terdengar menggema rendah dari sudut ruangan, mengingatkan dengan nada penuh wibawa. "Sedikit saja keraguan atau ego melintas di pikiran, maka aliran chi akan berbalik menghancurkan meridian kalian sendiri."

Arka mengangguk perlahan. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih memburu. Namun, di balik ketenangan luar yang ia tampilkan, pikirannya tidak bisa lepas dari bayang-bayang sikap Tera yang sejak tadi siang tertutup rapat bagai benteng es. Gadis itu berdiri kaku beberapa langkah di belakangnya, memancarkan aura dingin yang bahkan bisa dirasakan oleh kulit Arka meski mereka belum saling bersentuhan.

"Tera, apa kau sudah siap?" tanya Arka pelan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan dada.

"Jangan banyak bicara, Arka," balas Tera dingin tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi. "Simpan tenagamu untuk mengendalikan fokusmu sendiri. Jangan sampai kecerobohanmu nanti menjadi beban yang menyeretku ke jurang kehancuran."

Arka menghela napas panjang, menelan mentah-mentah rasa jengkel yang merayap di dadanya. "Aku hanya memastikan kita berada di frekuensi yang sama. Kau tidak perlu bersikap seolah-olah kau sedang berdiri di hadapan musuh bebuyutan."

"Bagi seorang praktisi bela diri sejati, pikiran dingin adalah perisai terbaik," sanggah Tera tajam, nada suaranya menyiratkan keyakinan mutlak atas prinsip hidupnya yang kaku. "Dan kelemahan terbesar manusia adalah membiarkan emosi dan omong kosong kekeluargaan mencemari kemurnian jurus."

Mendengar jawaban itu, dada Arka terasa sesak oleh kombinasi antara rasa frustrasi dan kelelahan mental. Hubungan mereka selama berbulan-bulan latihan bersama seolah tidak pernah mampu meruntuhkan dinding pertahanan emosional yang dibangun oleh gadis tersebut. Di saat mereka harus saling percaya sepenuhnya untuk menyelaraskan tenaga dalam tingkat tinggi, Tera justru memilih untuk memasang tirai baja di dalam hatinya, mengandalkan ego dan logika dingin yang terlampau kaku.

"Baiklah, jika itu caramu memandang kerja sama kita," ucap Arka dengan suara yang sedikit mengeras, rasa sabarnya mulai menipis menghadapi tembok kebekuan sang gadis. "Mari kita buktikan seberapa jauh 'pikiran dingin' milikmu itu bisa bertahan ketika arus energi besar mulai mengalir di antara kita."

❖ ❖ ❖

Tanpa menunggu aba-aba lanjutan dari sang sesepuh, Tera melangkah memutar menghadap Arka. Gerakannya cepat, terukur, dan sempurna secara teknik, namun sama sekali tidak menyisakan kehangatan manusiawi di dalamnya. Ia mengangkat kedua telapak tangannya ke depan, membentuk pola segel kuno yang memancarkan cahaya keperakan redup dari ujung-ujung jarinya.

"Mulai sekarang, pusatkan perhatianmu sepenuhnya pada titik pusat pusaran energi di antara kita," instruksi Tera dengan nada memerintah, seolah ia adalah seorang guru yang sedang mengajari murid yang bodoh. "Jangan biarkan pikiranmu melayang ke mana-mana, terutama pada hal-hal remeh yang tidak ada hubungannya dengan teknik ini."

Arka merapatkan giginya, menahan diri agar tidak meledakkan emosinya saat itu juga. Ia mengangkat kedua tangannya dan menyamakan posisi telapak tangannya tepat di hadapan telapak tangan Tera, dengan jarak hanya satu inci tanpa saling bersentuhan fisik secara langsung.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Tera. Kau tidak perlu mengguruiku setiap detik," balas Arka tajam, sorot matanya menatap lurus ke dalam mata kelam gadis itu yang tampak begitu tenang di permukaan, namun menyimpan badai ego yang luar biasa besar di dasarnya.

Begitu celah udara di antara telapak tangan mereka tertutup oleh pancaran energi awal, dengungan frekuensi rendah langsung bergetar mengisi ruangan gua. Aliran chi mulai merambat dari telapak tangan Arka yang hangat dan mengalir bebas, bertemu dengan aliran chi milik Tera yang dingin, tajam, dan terkontrol secara ketat.

Namun, alih-alih saling merangkul dan membentuk harmoni, kedua jenis energi tersebut langsung menunjukkan tanda-tanda penolakan yang kuat. Sifat dasar Arka yang adaptif dan mengalir bertubrukan secara frontal dengan prinsip kekakuan absolut yang dipegang oleh Tera.

"Kau terlalu menahan alirannya!" protes Arka begitu merasakan hambatan keras di jalur energi Tera. "Jika kau terus menutup diri seperti itu, energi ini akan mengalami kebuntuan dan meledak di tengah jalan!"

"Aku tidak menahan apa pun!" bantah Tera cepat, nada suaranya meninggi meski wajahnya tetap mempertahankan topeng dingin. "Akulah yang sedang menjaga agar energimu yang liar dan tidak beraturan itu tidak merusak struktur sirkulasi jurus ini! Jangan salahkan kekuranganku atas ketidakmampuanmu mengendalikan diri!"

Lihat selengkapnya