Malam semakin larut di Lembah Bayangan Hitam, membawa serta angin dingin yang berembus kencang, menembus celah-celah bebatuan tempat persembunyian sementara mereka. Di luar tenda, suara dedaunan yang bergesekan terdengar bagaikan bisikan-bisikan gaib yang mengancam. Namun, di dalam ruangan yang sempit itu, atmosfernya jauh lebih sunyi, dipenuhi oleh keheningan yang terasa berat dan menyesakkan dada.
Tera duduk bersila di atas tikar usang, memeluk kedua lututnya erat-erat dengan postur tubuh yang kaku. Jubah gelapnya menutupi hampir seluruh tubuhnya, tetapi ia tidak mampu menyembunyikan getaran halus yang sesekali melanda bahunya. Luka-luka kecil akibat pertempuran sengit sore tadi masih terasa perih, tetapi rasa sakit di fisik tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Sepanjang hidupnya, Tera telah diajarkan untuk menjadi benteng yang tak tertembus, sosok berhati dingin yang tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun di hadapan siapa pun.
"Kau masih memikirkan perkataan tetua faksi tadi?" suara Arka memecah kesunyian, terdengar begitu lembut di telinga Tera.
Tera tidak langsung menoleh. Ia tetap menatap kosong ke arah lantai tanah yang beralaskan jerami kering. Suaranya terdengar datar, berusaha mempertahankan topeng ketegarannya. "Kata-kata mereka tidak ada artinya, Arka. Itu hanya racun yang sengaja ditebarkan untuk melemahkan mental kita."
Arka perlahan mendekat, duduk di samping gadis itu dengan jarak yang memberikan ruang, namun cukup dekat untuk menyampaikan kehadiran yang menenangkan. Pemuda itu menghela napas panjang, memperhatikan profil wajah Tera yang diterangi oleh temaram cahaya pelita kecil di sudut ruangan.
"Tapi kau menyerap racun itu ke dalam pikiranmu sendiri," balas Arka pelan, nada bicaranya tidak mengandung unsur menghakimi, melainkan penuh dengan empati yang tulus. "Kau tidak harus memikul beban seluruh dunia di pundakmu seorang diri, Tera. Ada aku di sini."
Tera menoleh perlahan, menatap Arka dengan sorot mata tajam yang mencoba mengintimidasi, sebuah pertahanan diri klasik yang selalu ia gunakan untuk menjauhkan orang lain. "Kau tidak mengerti apa-apa, Arka. Dunia yang kujalani berbeda dengan duniamu. Di tempatku berasal, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli, dan kelemahan berarti kematian."
"Aku mungkin tidak tahu seberapa berat masa lalumu," kata Arka tulus sambil menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu. "Tapi aku tahu bahwa hidup tidak harus dijalani dengan terus-menerus mengenakan baju besi yang penuh duri. Kau diizinkan untuk lelah, Tera."
Mendengar kalimat itu, dinding pertahanan Tera yang kokoh mulai bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, ada seseorang yang tidak meminta atau menuntutnya untuk menjadi kuat, melainkan memberikannya izin untuk melemah.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam tenda mendadak terasa semakin sunyi, hanya menyisakan deru napas mereka yang berirama pelan. Tera memalingkan wajahnya kembali, berusaha mati-matian menahan gelombang emosi yang tiba-tiba mendesak naik ke tenggorokannya. Air mata yang selama ini dipendam rapat-rapat di balik tirai matanya hampir tumpah, sebuah hal tabu yang tidak pernah ia biarkan terjadi di hadapan siapa pun, bahkan di hadapan musuh-musuhnya yang paling kejam sekalipun.
"Jangan melihatku seperti itu," bisik Tera, suaranya terdengar sedikit parau, kehilangan nada dingin yang biasa melekat pada setiap ucapannya. "Aku bukan gadis rapuh yang butuh dikasihani."
"Aku tidak sedang mengasihanimu, Tera," jawab Arka tegas namun tetap lembut. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, merapatkan jarak di antara mereka. "Aku hanya melihat seorang manusia yang terluka, yang selama ini memenjarakan dirinya sendiri di dalam sangkar es buatannya sendiri."
Tera mengepalkan kedua tangannya di atas lutut, kuku-kukunya menancap pelan ke kain jubahnya. "Sangkar ini adalah satu-satunya hal yang melindungiku dari kehancuran, Arka! Jika aku melepaskan pertahanan ini, maka musuh-musuhku akan merobek diriku hingga berkeping-keping tanpa ampun."
"Biarkan mereka mencoba," sahut Arka tanpa ragu sedikit pun. "Selama aku masih bernapas di sini, tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuhmu. Aku akan menjadi perisai bagimu, sama seperti kau yang sering kali melindungiku dalam pertempuran."
Tera terpaku mendengar kesungguhan dalam suara pemuda itu. Selama ini, orang-orang di sekitarnya mendekatinya karena takut pada kekuatannya, atau memanfaatkan kemampuannya untuk kepentingan faksi. Tidak ada seorang pun yang pernah menawarkan diri untuk berdiri di hadapannya sebagai pelindung, tanpa pamrih dan tanpa rasa takut.
"Kenapa kau melakukan ini, Arka?" tanya Tera dengan suara bergetar, akhirnya menatap mata Arka lekat-lekat, mencari kebohongan di sana. "Kenapa kau peduli pada seseorang yang hatinya sedingin es sepertiku?"