Malam kembali merayap turun, menyelimuti pelataran pertapaan Lembah Sunyi dengan selimut gelap yang pekat dan sunyi. Di bawah naungan cahaya bulan sabit yang pucat, Arya berdiri tegak di tengah lapangan batu marmer putih. Napasnya teratur, ditarik dalam-dalam melalui hidung lalu diembuskan perlahan lewat mulut untuk menenangkan gejolak tenaga dalam di dalam dada. Di kedua tangannya, sepasang pedang pendek kayu giok berukir kelopak bunga teratai digenggam erat. Bayangan tubuhnya memanjang di atas lantai batu, bergetar lembut seiring hembusan angin malam yang membawa aroma harum bunga malam dari tebing sekitar.
Beberapa langkah di hadapannya, Ki Ageng Wira duduk bersila di atas tikar bambu tua dengan pandangan mata setengah terpejam. Di sisi kiri lapangan, Dewi Kirana dan Ki Sasmita memperhatikan dengan saksama, menahan napas agar tidak mengusik konsentrasi sang murid yang sebentar lagi akan memulai latihan berat.
"Ingat, Arya, Jurus Teratai Kembar bukanlah ilmu silat biasa yang mengandalkan kekuatan otot semata," suara Ki Ageng Wira memecah keheningan malam dengan nada tenang namun berwibawa. "Ilmu ini adalah perwujudan dari keseimbangan yin dan yang, perpaduan antara kelembutan air dan ketegasan api yang menyatu dalam satu alur gerak napas."
"Baik, Guru. Murid akan mengingat petunjuk itu," jawab Arya tegas, matanya menatap tajam ke depan.
Ini adalah percobaan kedua setelah kegagalan fatal pada pekan sebelumnya. Pada percobaan pertama, ketidakselarasan aliran tenaga dalam membuat kedua pedang giok di tangan Arya saling menolak, menciptakan ledakan balik energi yang hampir merusak jalur meridian di tubuhnya sendiri. Luka dalam akibat benturan energi itu bahkan masih menyisakan rasa nyeri tumpul di dadanya hingga hari ini.
"Mulailah ketika kau merasa hati dan pikiranmu benar-benar jernih," instruksi Ki Ageng Wira kembali, memberikan ruang bagi Arya untuk menyelaraskan diri dengan alam sekitar.
Arya menutup matanya sejenak. Ia membuang jauh-jauh rasa trauma dan keraguan yang sempat membayangi benaknya. Diresapinya suara desau angin malam, gemercik air mata air di kejauhan, hingga detak jantungnya sendiri. Perlahan-lahan, ia mulai mengangkat kedua tangannya secara bersamaan. Lengan kanannya bergerak membentuk lingkaran lembut menyerupai kelopak bunga yang mekar, sementara tangan kirinya bergerak lurus dan tegas bagaikan tusukan tombak kilat.
❖ ❖ ❖
Gerakan awal itu tampak begitu selaras, namun begitu bilah pedang kayu giok mulai bergesekan dengan udara malam, hambatan besar langsung muncul. Udara di sekitar Arya mendadak terasa berat dan memanas secara tidak wajar. Aliran tenaga dalam di tangan kanannya yang bersifat lembut dan dingin mulai berbenturan dengan energi panas yang terkonsentrasi di tangan kirinya.
Bum!
Suara dengungan rendah bergemuruh di dalam dada Arya. Aliran darahnya mendadak berdesir kencang, membuat wajah pemuda itu berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung bercucuran membasahi pelipis dan lehernya.
"Tahan, jangan biarkan energi itu lepas kendali!" seru Dewi Kirana memperingatkan, setengah bangkit dari duduknya karena cemas melihat perubahan ekspresi di wajah Arya.
Arya menggertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya berbunyi. Rasa sakit yang luar biasa tajam menjalar dari telapak tangan hingga ke tulang belakang, seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk-nusuk jalur meridian tubuhnya secara bersamaan. Kedua kakinya mulai bergetar hebat, kesulitan menahan beban tekanan energi ganda yang saling bertolak belakang tersebut.
"Guru... energi ini... rasanya ingin merobek tubuhku dari dalam!" teriak Arya di tengah kepayahan, napasnya tersengal-sengal dan hampir putus asa.
"Jangan lawan arus energi itu, Arya!" bentak Ki Ageng Wira dengan suara menggelegar yang langsung menembus kesadaran Arya yang nyaris pingsan. "Jangan dilawan, tetapi bimbinglah mereka! Perlakukan energi panas dan dingin itu bagaikan air bah yang harus kau arahkan ke muara yang sama, bukan kau bendung dengan kekuatan fisik!"
Mendengar teriakan sang guru, sebuah kesadaran mendadak menyambar benak Arya. Ia tidak boleh menggunakan kekerasan untuk menyatukan dua kekuatan yang berlawanan. Dengan sisa-sisa kesadarannya, Arya melonggarkan cengkeraman tangannya pada gagang pedang giok, membiarkan aliran tenaga dalam itu mengalir bebas melalui telapak tangannya tanpa perlawanan paksa.