Desir angin pagi di Kedai Bambu Biru membawa kabar yang mengubah ketenangan para pendekar yang sedang menikmati secangkir teh hangat. Kedai yang terletak di perbatasan Kota Praja itu mendadak riuh oleh suara perdebatan sengit dari berbagai penjuru meja. Para pengelana, pedagang keliling, hingga pendekar aliran lurus tampak berkerumun mendengarkan cerita seorang pengelana tua yang baru saja tiba dari wilayah barat.
"Kalian tidak akan percaya apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri di Hutan Kabut Hitam beberapa hari lalu!" seru pengelana tua itu dengan suara bergetar, meletakkan mangkuk tehnya dengan kasar di atas meja kayu. "Pilar cahaya emas menembus langit malam, meratakan seluruh pepohonan purba dalam radius puluhan meter!"
Seorang pendekar berpedang panjang yang duduk di sudut ruangan mendengus sinis. "Pilar cahaya emas? Jangan mengada-ada, Pak Tua. Itu pasti hanya petir musim atau ledakan kuali alkimia dari pertapa gila yang gagal meramu pil."
"Jangan sembarangan bicara!" balas pengelana tua itu sengit, wajahnya memerah menahan amalan. "Aku melihat sendiri sisa-sisa kehancurannya! Dan yang lebih mengejutkan, kelompok pembunuh bayaran dari Sekte Bayangan Malam ditemukan tewas mengenaskan dengan tubuh terpental jauh dari lokasi kejadian. Semua orang di wilayah barat kini sedang memperbincangkan satu hal: pewaris sah Kitab Teratai Agung telah bangkit!"
Suasana kedai seketika mendadak sunyi. Nama Kitab Teratai Agung bukanlah cerita sembarangan. Artefak legendaris itu telah hilang selama ratusan tahun sejak keruntuhan Pertapaan Langit Biru, dan desas-desus tentang kembalinya kitab tersebut langsung menyebar cepat bagaikan wabah ke seluruh penjuru dunia persilatan.
Di meja paling pojok, seorang gadis berkerudung kain hitam merapatkan jubahnya, sementara seorang pemuda di sampingnya mengepal erat cangkir teh di tangannya. Mereka adalah Tera dan Arka, dua sosok yang kini menjadi pusat dari seluruh desas-desus panas tersebut.
"Kabar ini menyebar jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan, Arka," bisik Tera pelan, matanya melirik ke arah kelompok pendekar yang mulai membicarakan ciri-ciri fisik pewaris kitab di meja sebelah. "Dalam beberapa hari ke depan, seluruh sekte besar pasti akan mengirimkan mata-mata untuk memburu kita."
Arka meneguk sisa tehnya dengan tenang, meskipun sorot matanya tajam mengamati situasi sekitar. "Kita tidak bisa tinggal lebih lama di kota ini, Tera. Desas-desus ini membuat posisi kita sangat rentan. Setiap orang di sini sekarang melihat kita bukan sebagai manusia, melainkan sebagai hadiah berjalan."
❖ ❖ ❖
Obrolan di Kedai Bambu Biru semakin panas ketika seorang ketua cabang Perguruan Pedang Besi berdiri dari kursinya, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara untuk menarik perhatian seluruh orang di dalam ruangan.
"Dengar, saudara-saudara sekalian!" seru ketua perguruan itu dengan suara menggelegar. "Jika benar pewaris Kitab Teratai Agung telah bangkit, maka perguruan kita tidak boleh tinggal diam! Kitab itu milik seluruh aliran lurus, bukan untuk dikuasai oleh anak-anak kemarin sore yang tidak jelas asal-usulnya!"
Beberapa pendekar di kedai itu mengangguk setuju, terbakar oleh ambisi besar untuk mendapatkan warisan kekuatan tertinggi dunia persilatan. Desas-desus yang awalnya hanya berupa bisikan-bisikan rahasia di antara para pedagang kini telah berubah menjadi gelombang ambisi liar yang mengancam keselamatan Arka dan Tera.
Melihat situasi yang semakin berbahaya, Arka memberi isyarat kepada Tera dengan kedipan mata. "Waktunya kita pergi. Jangan menarik perhatian lebih banyak lagi."
Mereka berdua bangkit secara bersamaan, melemparkan beberapa keping uang perak di atas meja, lalu berjalan menuju pintu keluar kedai. Namun, gerakan mereka tidak luput dari pengamatan tajam seorang pendekar wanita berambut perak yang duduk tidak jauh dari pintu keluar.
"Mau pergi ke mana, anak muda?" panggil pendekar wanita berambut perak itu dengan suara dingin yang menusuk. Ia bangkit dari duduknya, menghalangi jalur keluar Arka dan Tera dengan tangan bersedekap di dada. "Kalian terlihat terburu-buru. Padahal obrolan tentang pewaris Kitab Teratai Agung baru saja dimulai."
Arka menghentikan langkahnya, menatap lurus ke mata wanita paruh baya tersebut tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun. "Kami hanya pelintas yang ingin melanjutkan perjalanan, Nyonya. Tidak ada urusan dengan obrolan di tempat ini."
"Pelintas?" wanita itu tersenyum tipis penuh curiga, matanya memindai tubuh Arka dan Tera dari atas sampai bawah. "Di masa lalu, siapa pun yang melewati jalur barat selalu mencari perlindungan. Tapi kalian... pakaian kalian robek di beberapa bagian, dan aura tenaga dalam kalian memancarkan getaran Yin dan Yang yang sangat khas. Jangan bilang kalian adalah dua anak muda yang dimaksud dalam desas-desus itu?"