KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Reaksi Murka, Petinggi Golongan Hitam

Malam di Istana Obsidian tidak pernah mengenal kedamaian. Di dalam aula utama yang diterangi oleh obor-obor berapi biru menyala, bayangan-bayangan mengerikan menari di dinding batu hitam yang licin. Aroma kemenyan pekat bercampur bau darah segar mengambang di udara, menciptakan atmosfer sesak yang sanggup meremukkan mental siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Di ujung ruangan, di atas singgasana yang terbuat dari tengkorak dan lempengan besi legam, duduk sosok paling ditakuti di seluruh daratan persilatan: Ketua Tertinggi Golongan Hitam, Sang Raja Bayangan.

Di hadapan singgasana megah itu, tiga orang tetua agung berlutut dengan kepala tertunduk dalam. Jubah hitam legam yang mereka kenakan tampak bergetar lembut, bukan karena hawa dingin dari ruang bawah tanah istana, melainkan karena gelombang ampunan yang harus mereka mohonkan menyusul berita buruk yang baru saja tiba dari perbatasan timur.

"Kalian menghadapku tanpa membawa kepala bocah sialan itu?" suara Sang Raja Bayangan memecah keheningan aula, dingin, datar, namun mengandung daya hancur yang mampu meretakkan gendang telinga.

Tetua pertama, seorang pria tua dengan bekas luka bakar melintang di wajahnya, merendahkan suaranya setengah berbisik penuh ketakutan. "Ampuni kelancangan kami, Ketua Agung. Pasukan utama yang dipimpin oleh Jenderal Bahtra telah mengalami kekalahan telak di bukit perbatasan. Jenderal Bahtra sendiri gugur di tangan dua anak muda itu."

Suasana di dalam aula mendadak membeku. Semburan tenaga dalam hitam spontan melesat dari tubuh Sang Raja Bayangan, menghantam pilar batu di samping tetua pertama hingga hancur berkeping-keping menjadi debu halus. Debu mengepul di udara, sementara napas para tetua agung semakin memburu dalam kepanikan yang teramat sangat.

"Gugur? Jenderal terkuatku tewas di tangan dua bocah bau kencur yang baru kemarin lari dari reruntuhan perguruan?!" suara Sang Raja Bayangan meninggi, memantul di dinding-dinding batu aula menciptakan gema yang mengerikan. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bukankah mereka seharusnya berada dalam keadaan terdesak dan kehabisan tenaga?"

Tetua kedua mengangkat kepalanya sedikit, wajahnya pucat pasi tanpa sisa darah. "Laporan dari para pengintai yang selamat menyebutkan hal yang jauh lebih mengerikan, Ketua Agung. Arka dan Tera tidak lagi bertarung sendirian. Mereka telah bergabung dengan delapan pendekar sisa-sisa Aliansi Putih, dan yang lebih mencemaskan... tingkat penguasaan ilmu tenaga dalam kedua anak itu meningkat dengan kecepatan yang tidak wajar."

"Kecepatan yang tidak wajar?" Sang Raja Bayangan mendengus tajam, seringai mengerikan terukir di balik tudung jubah hitamnya. "Di dunia ini, tidak ada peningkatan kekuatan tanpa harga yang harus dibayar. Kitab Teratai Agung memang memiliki kekuatan magis legendaris, tetapi tubuh manusia memiliki batas kemampuan menyerap energi spiritual. Jika mereka berkembang secepat itu, artinya mereka sedang mempercepat proses kehancuran raga mereka sendiri!"

"Meskipun begitu, kemajuan pesat mereka kini telah menjadi ancaman nyata bagi rencana besar kita untuk menguasai seluruh persilatan sebelum akhir musim dingin," sahut tetua ketiga dengan suara gemetar. "Jika kita membiarkan mereka menyeberangi Pegunungan Bayangan dan mencapai Lembah Suci, segel kuno itu akan terbuka sepenuhnya."

Sang Raja Bayangan perlahan bangkit dari singgasananya, jubah hitamnya menyapu lantai batu dengan suara mendesis yang menyeramkan. Ia menatap tajam ke arah tiga tetua yang masih berlutut di bawah sana, sorot matanya menyala merah di dalam kegelapan tudung kepalanya. Kemurkaan yang membakar dadanya kini menuntut darah dan tindakan cepat sebelum fajar menyingsing di luar istana.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Sang Raja Bayangan menggema berat di sepanjang lantai aula, mendekati para tetua agung yang semakin merunduk ketakutan. Ketegangan di dalam ruangan itu mencapai tingkat yang hampir meremukkan jiwa, di mana setiap detik terasa bagaikan hukuman mati yang tertunda.

"Kalian bertiga telah melayani Golongan Hitam selama puluhan tahun," ujar Sang Raja Bayangan dengan nada suara yang perlahan melembut, namun justru terdengar lebih mematikan. "Kalian menikmati kedudukan, kekuasaan, dan limpahan darah musuh-musuh kita. Tapi begitu dua anak kecil membawa sebuah kitab tua, kalian datang membawa berita kegagalan?"

"Kami siap menerima hukuman apa pun, Ketua Agung, tetapi beri kami satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan ini!" seru tetua pertama sambil menempelkan dahinya erat-erat ke lantai batu yang dingin.

"Kesempatan?" Sang Raja Bayangan tertawa dingin, tawa yang membuat udara di aula terasa semakin membeku. "Di Golongan Hitam, kegagalan tidak ditebus dengan kesempatan kedua, melainkan dengan darah dan pengabdian abadi dalam wujud yang berbeda!"

Tetua kedua menelan ludah dengan susah payah, mencoba mencari pembelaan di tengah situasi hidup dan mati tersebut. "Ketua Agung, kemajuan pesat Arka dan Tera bukan sekadar buah dari Kitab Teratai Agung. Kami menduga mereka telah berhasil menyerap inti sari dari Warisan Delapan Penjuru yang disembunyikan oleh para leluhur di kedai perbatasan."

Mendengar kata-kata itu, langkah Sang Raja Bayangan terhenti seketika. Ia menolehkan kepalanya tajam ke arah tetua kedua. "Warisan Delapan Penjuru? Kau yakin dengan ucapanmu itu, Tua Kang?"

"Hamba mendengar laporan langsung dari mata-mata bayangan tingkat tinggi yang melihat pendar cahaya keemasan saat pertempuran di bukit terjadi," jawab Tua Kang dengan napas tersengat ketakutan. "Cahaya itu tidak mungkin muncul dari kitab saja. Itu adalah tanda bahwa warisan spiritual kedelapan aliran silat kuno telah menyatu sempurna dengan raga Arka."

Sang Raja Bayangan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya bergemeretak keras. Amarahnya kini bukan lagi sekadar kekecewaan atas kekalahan pasukan di perbatasan, melainkan rasa tidak terima yang mendalam. Warisan legendaris yang selama puluhan tahun ia cari dan coba rebut dengan menghancurkan berbagai perguruan besar, kini justru jatuh ke tangan dua orang anak ingusan.

"Keparat..." desis Sang Raja Bayangan pelan, namun cukup jelas terdengar oleh seluruh penghuni aula. "Jika benar mereka telah mewarisi kekuatan itu, maka membiarkan mereka hidup sehari lagi sama saja dengan menggali kuburan bagi seluruh imperium kegelapan yang telah kita bangun dengan susah payah!"

Tetua ketiga mengangkat kepalanya perlahan, memberanikan diri mengajukan sebuah usulan di tengah badai kemurkaan sang ketua. "Jika demikian, Ketua Agung, kita tidak bisa lagi mengirim pasukan biasa atau jenderal lapangan tingkat menengah. Kita harus mengerahkan algojo bayangan terbaik yang kita miliki."

"Kau benar, Tua Ming," sambar Sang Raja Bayangan dengan senyuman keji di bibirnya. "Sudah saatnya melepaskan anjing-anjing pemburu paling mematikan di istana ini."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya