KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Bayangan Perpecahan

Suasana di dalam ruang utama markas bawah tanah terasa sangat tenang, tetapi di balik keheningan itu, udara terasa begitu padat oleh kelelahan dan tekanan psikologis yang berkepanjangan. Cahaya lampu gantung berukuran besar berayun pelan, melemparkan bayangan-bayangan panjang ke dinding batu yang basah oleh embun malam.

Arka duduk termenung di ujung meja perundingan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu yang kasar dengan ritme yang tidak beraturan. Pikirannya melayang jauh pada laporan-laporan pertempuran terakhir yang menunjukkan adanya keanehan dalam pola pergerakan musuh.

"Ada hal yang mengganjal di benakku sejak tiga hari belakangan ini, Arka," ucap Tera memecah keheningan sambil melangkah mendekati meja dengan membawa setumpuk gulungan laporan intelijen terbaru.

Arka mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah wanita itu dengan sorot mata yang menyiratkan rasa lelah yang amat sangat. "Katakan, Tera. Apa lagi yang kau temukan dari laporan para pengintai di perbatasan utara?"

"Pasukan utama faksi musuh tidak lagi menunjukkan tanda-tanda akan melakukan serangan langsung secara frontal seperti sebelumnya," jawab Tera serius sambil membentangkan sebuah peta taktis di hadapan Arka. "Mereka seolah-olah sengaja menahan diri, membiarkan kita berdiam diri di dalam benteng ini."

"Menahan diri?" Arka mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Itu bukan gaya bertempur panglima mereka yang terkenal agresif dan haus darah. Pasti ada rencana lain yang sedang mereka matangkan di balik layar."

"Tepat sekali, Tuan Arka," suara berat Fathan mendadak terdengar dari ambang pintu ruangan. Perisai tangguh itu melangkah masuk bersama Galin, diikuti oleh Kamil dan Rafar di belakang mereka. "Informasi dari jaringan bawah tanah kami menyebutkan bahwa mereka telah mengubah total orientasi strategi perangnya."

"Perubahan seperti apa yang kau maksud, Fathan?" tanya Arka dengan nada penuh selidik, mempersilakan mereka untuk segera mendekat ke meja perundingan.

"Mereka menyadari bahwa menghancurkan benteng ini melalui kekuatan fisik dan senjata membutuhkan korban jiwa yang terlalu besar di pihak mereka," jelas Fathan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya. "Karena itulah, mereka memutuskan untuk menggunakan cara lain yang jauh lebih mematikan tanpa harus mengerahkan satu batalion pun prajurit ke medan laga."

Galin mengangguk setuju, menambahkan dengan nada suara yang tajam, "Mereka menyebutnya sebagai strategi 'racun dari dalam', Tuan. Alih-alih merobohkan tembok benteng dari luar, mereka ingin meruntuhkan fondasi kepercayaan yang mengikat kelompok kita dari dalam."

"Adu domba," potong Kamil dengan mata menyipit tajam. Perwira taktik itu menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Arka. "Mereka berencana menyusupkan desas-desus palsu, memalsukan dokumen, dan menciptakan kecurigaan di antara kita sendiri agar kita saling curiga dan menghancurkan satu sama lain."

Arka terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang meluncur dari mulut para pengawalnya. "Sebuah taktik kotor yang sangat klasik, namun selalu efektif jika mental kelompok mulai melemah akibat tekanan perang yang panjang."

Tera mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Jika desas-desus itu mulai menyebar di antara para prajurit biasa, kekacauan besar tidak akan bisa dihindarkan lagi. Kita harus segera mengambil tindakan pencegahan sebelum racun itu menyebar."

❖ ❖ ❖

Ketegangan di dalam markas perlahan mulai merayap naik seiring berjalannya waktu, sejalan dengan mulai beredarnya bisik-bisik aneh di kalangan prajurit bawahan. Di lorong-lorong barak, beberapa kelompok kecil prajurit tampak berkerumun, berbicara dengan nada berbisik-bisik sambil melemparkan pandangan curiga ke arah para komandan mereka.

"Apakah kalian sudah mendengar kabar angin yang beredar di pos penjagaan timur?" bisik seorang prajurit muda bernama Landi kepada dua orang rekannya di dekat dapur umum.

"Kabar angin yang mana, Landi? Jangan membuatku penasaran," jawab seorang prajurit senior berwajah paruh baya sambil mengaduk sup encer di dalam kuali besar.

"Katanya, salah satu dari lingkaran dekat Tuan Arka telah menjual informasi rahasia pergerakan kita kepada faksi musuh dengan imbalan jaminan keselamatan dan harta kekayaan," ucap Landi dengan nada suara yang sengaja dikecilkan, menciptakan kesan seolah-olah ia sedang membagikan sebuah rahasia besar.

Prajurit senior itu menghentikan adukannya, matanya membelalak kaget. "Daripada kau bicara sembarangan seperti itu, lebih baik jaga mulutmu! Tuduhan semacam itu bisa memicu perpecahan fatal di tengah pasukan kita!"

"Aku tidak bicara sembarangan, kawan!" sanggah Landi membela diri dengan nada tinggi yang mulai menarik perhatian prajurit lain di sekitar mereka. "Temanku sendiri yang bertugas di bagian administrasi melihat dokumen transaksi mencurigakan tertulis atas nama salah satu penasihat dekat Arka!"

Tanpa mereka sadari, Rafar yang kebetulan sedang melintasi lorong barak tersebut mendengar dengan jelas percikan fitnah yang baru saja dilontarkan oleh Landi. Langkah kaki Rafar terhenti seketika, dan rahangnya mengeras menahan amarah yang bergemuruh di dadanya.

"Landi! Maju ke sini dan ulangi apa baru saja kau katakan tentang dokumen transaksi itu!" bentak Rafar dengan suara menggelegar yang memecah kebisingan lorong barak.

Lihat selengkapnya