KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Singgah di sebuah desa terpencil

Kabut tebal menyelimuti lereng bukit, merayap pelan di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi di perbatasan lembah. Langkah kaki Kamil, Rafar, dan Yafid terdengar bergemerisik di atas tumpukan daun kering yang basah oleh embun pagi. Perjalanan panjang setelah pertempuran melelahkan di hutan perbatasan benar-benar menguji ketahanan fisik mereka yang masih dibalut sisa-sisa luka ringan. Di hadapan mereka, di balik tirai kabut yang mulai menipis, tampak deretan atap rumah berlumut dari sebuah pemukiman kecil yang terisolasi dari dunia luar.

Kamil menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, mengangkat tangan kanannya untuk memberi isyarat agar kedua rekannya ikut berhenti. Matanya menyipit tajam, memperhatikan gerbang kayu desa yang tampak lapuk tanpa satupun penjaga berjaga di pos depannya. Suasana desa itu terasa begitu sunyi, seolah-olah kehidupan di dalamnya telah berhenti sejak bertahun-tahun lalu.

"Desa ini tidak tercatat dalam peta rute perdagangan lama maupun catatan perbatasan militer Golongan Hitam," bisik Kamil pelan, kepalanya menoleh ke arah Rafar dan Yafid secara bergantian untuk memastikan kondisi mereka.

Rafar, yang berjalan di sebelah kiri sambil menahan sedikit rasa nyeri di bahunya akibat pertempuran sebelumnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia mendengus pelan, menarik napas dalam-dalam untuk mencium aroma udara di sekitar desa tersebut.

"Sunyi sekali," sahut Rafar dengan suara rendah. "Tidak ada kepulan asap dari cerobong dapur, tidak ada suara ternak, bahkan tidak ada jejak aktivitas manusia yang baru. Apakah desa ini sudah ditinggalkan?"

Yafid melangkah maju beberapa langkah mendekati pagar pembatas bambu yang sudah miring termakan usia. Ia menggelengkan kepala perlahan, memperhatikan pintu-pintu rumah yang tertutup rapat dari luar dengan gembok berkarat tebal.

"Tidak, desa ini tidak ditinggalkan begitu saja," kata Yafid dengan nada penuh selidik. "Lihat jendela-jendela itu. Kain tirainya masih terpasang rapi, dan ada beberapa pot tanaman hias di teras yang baru saja disiram beberapa hari lalu. Masih ada orang yang tinggal di sini, tapi mereka sengaja bersembunyi dari dunia luar."

Kamil mengernyitkan dahi, merasakan firasat janggal yang mulai merayap di benaknya. "Bersembunyi atau memang disembunyikan? Tempat terpencil seperti ini selalu menyimpan sesuatu yang ingin disembunyikan oleh para penguasa masa lalu."

"Apapun itu, kita butuh tempat untuk beristirahat dan mengisi kembali persediaan air minum sebelum melanjutkan perjalanan melewati bukit tandus di sebelah utara," ujar Rafar mengingatkan kondisi logistik mereka yang semakin menipis. "Kita tidak punya banyak pilihan selain masuk dan mencari tahu siapa penghuni desa ini."

Yafid mengangguk menyetujui pendapat Rafar. "Kau benar. Tapi kita harus tetap waspada. Tempat yang terisolasi biasanya memiliki aturan ketat terhadap orang asing."

❖ ❖ ❖

Ketiganya melangkah melewati gerbang utama desa dengan langkah senyap, menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah rumah-rumah kayu berukuran kecil. Suasana di dalam desa terasa semakin mencekam karena ketiadaan suara selain derit angin yang menggesek atap-atap jerami. Di tengah jalan utama, sebuah sumur tua dengan ember kayu yang tergantung di sisinya tampak berdiri kokoh, namun air di dalamnya terlihat keruh dan tidak tersentuh.

Tiba-tiba, suara derit pintu kayu terbuka berderit nyaring dari sebuah rumah di sudut jalan, memecah keheningan pagi.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian usang muncul dari balik pintu, memegang sebilah pisau dapur kecil di tangan kanannya dengan tangan yang gemetar ketakutan. Ia menatap tajam ke arah Kamil, Rafar, dan Yafid, seolah-olah melihat makhluk mengerikan yang baru saja bangkit dari neraka.

"Siapa kalian?! Pergi dari desa ini! Jangan bawa kutukan itu kembali ke tempat kami!" teriak wanita itu dengan suara parau penuh kecemasan, mengayunkan pisaunya ke udara secara asal.

Kamil segera mengangkat kedua tangan tanda tidak berniat menyerah, melangkah pelan maju sambil menunjukkan sikap tenang untuk meredakan kepanikan sang penduduk desa.

"Tenanglah, Nyonya. Kami bukan musuh, dan kami tidak berniat membawa celaka ke desa ini," ucap Kamil dengan nada suara lembut namun tegas. "Kami hanya pelancong yang kelelahan dan kehabisan bekal dalam perjalanan menyeberangi perbatasan."

Wanita itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata tiba-tiba menetes membasahi pipinya yang keriput. "Pelancong? Tidak ada pelancong yang sudi menginjakkan kaki di Desa Karang Suram ini selama dua dekade terakhir! Kecuali mereka yang datang untuk menghapus jejak kejahatan masa lalu!"

Rafar menyipitkan mata, menangkap frasa yang diucapkan oleh wanita tersebut. "Kejahatan masa lalu? Apa maksudmu, Nyonya? Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?"

Wanita paruh baya itu menelan ludah dengan susah payah, pandangannya beralih menatap luka-luka ringan di lengan Rafar dan Kamil, lalu menatap lambang pakaian usang yang mereka kenakan. Wajahnya semakin memucat pasi.

Lihat selengkapnya