Malam di perkemahan pasukan pengawal perbatasan perlahan mulai larut, ditemani oleh nyala api unggun yang berderak pelan memantulkan cahaya jingga di dinding-dinding tenda utama. Di tengah ketenangan malam yang seharusnya menenangkan setelah seharian berjaga, suasana mendadak berubah menjadi kaku ketika derap langkah kaki yang ringan namun penuh wibawa terdengar mendekati area lingkaran api. Seluruh kepala menoleh secara bersamaan ke arah jalan setapak yang gelap, menatap sosok seorang wanita asing berpenampilan anggun yang baru saja melangkah masuk menembus tirai malam.
Wanita itu mengenakan jubah sutra putih berbordir benang perak dengan belati pusaka terselip rapi di pinggangnya. Aura masa lalu yang kelam namun memikat menguar dari setiap gerak-geriknya, membuat para prajurit pengawal yang berdiri di sekitar api unggun spontan merapatkan tangan ke hulu pedang masing-masing. Namun, sebelum ada yang sempat melontarkan pertanyaan peringatan, wanita itu menghentikan langkahnya tepat di depan Arka yang sedang duduk termenung.
"Lama tidak bersua, Arka," sapa wanita itu dengan suara lembut namun tegas, diiringi senyuman penuh arti yang langsung membekukan aliran darah di tubuh sang komandan muda. "Apakah kau benar-benar mengira bisa melupakan perjanjian kita di reruntuhan Kuil Naga begitu saja?"
Arka terlonjak dari tempat duduknya, matanya membelalak lebar menatap wajah wanita di hadapannya dengan ekspresi tak percaya. "Ke... Keyla? Bagaimana mungkin kau bisa menemukannya tempat ini? Ini wilayah terpencil..."
"Dunia persilatan ini tidak seluas yang kau bayangkan, Arka," potong Keyla dengan nada ringan, melangkah lebih dekat seolah tidak peduli dengan puluhan pasang mata prajurit yang sedang mengawasi mereka penuh curiga. "Terutama bagi seseorang yang membawa rahasia besar di balik punggungnya."
Suasana di sekitar api unggun mendadak menjadi sangat senyap. Arka terjebak dalam kebingungan yang luar biasa, sementara para prajurit saling bertukar pandang penuh tanya mengenai identitas wanita misterius yang tiba-tiba muncul dan memanggil komandan mereka dengan keakraban yang begitu mendalam.
❖ ❖ ❖
Di saat yang bersamaan, Tera melangkah keluar dari tenda logistik sambil membawa sebuah nampan kayu berisi cangkir-cangkir teh hangat untuk dibagikan kepada para pengawal yang berjaga malam. Langkah kakinya terhenti seketika di balik bayangan tenda utama begitu matanya menangkap pemandangan yang tersaji di dekat api unggun. Nampan yang dipegangnya hampir terlepas dari genggaman saat ia melihat Arka berdiri berdampingan dengan seorang wanita asing yang berwajah jelita dan berpenampilan mewah—sesuatu yang sangat kontras dengan kehidupan perkemahan mereka yang sederhana dan keras.
Tera tertegun di tempat, napasnya tertahan di tenggorokan. Keakraban instan yang terjalin antara Arka dan wanita itu tampak begitu natural, seolah mereka memiliki sejarah panjang yang tidak pernah diceritakan sedikit pun oleh Arka kepada siapa pun di perkemahan ini, termasuk kepada Tera sendiri.
"Siapa... siapa wanita itu?" gumam Tera pelan pada dirinya sendiri, merasakan denyut nyeri yang aneh menusuk ulu hatinya tanpa alasan yang jelas.
Di dekat api unggun, Keyla mengangkat tangan kanannya, menyentuh ujung lengan jubah Arka dengan gerakan yang terlampau akrab bagi ukuran sesama pengelana biasa. "Kau terlihat kurus, Arka. Apakah kehidupan perbatasan ini membuatmu melupakan tugas utamamu yang sebenarnya?"
"Keyla, jaga sikapmu. Ini bukan tempat untuk membahas masa lalu kita," desis Arka dengan suara tertahan, melirik cemas ke arah sekeliling perkemahan seolah takut ada orang yang salah paham.
"Kenapa? Takut ada seseorang yang tersinggung?" Keyla tertawa kecil, melirik sekilas ke arah sudut tenda tempat Tera berdiri mematung. "Gadis yang membawa nampan itu... apakah dia pelayan barumu, atau seseorang yang berhasil mengisi ruang kosong di hatimu setelah kau meninggalkanku?"
Tera yang mendengar ucapan itu merasakan darahnya mendidih seketika. Seluruh persahabatan, kepercayaan, dan kedekatan yang ia bangun bersama Arka selama berbulan-bulan di perbatasan terasa runtuh seketika dalam hitungan detik. Tanpa sadar, cengkeramannya pada nampan kayu mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
❖ ❖ ❖