KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Dinding Es yang Kembali Terbentuk

Langkah kaki Tera terdengar amat ketat melintasi tumpukan daun kering di pinggir Hutan Kelabu. Sinar rembulan yang mengintip dari balik awan tebal menyinari parasnya yang pucat. Tidak ada lagi kehangatan yang biasanya terpancar dari sepasang matanya; tidak ada lagi lengkung senyum tipis yang belakangan ini sering menghiasi bibirnya. Tera kembali ke kelompok dengan wajah dingin tanpa ekspresi, memasang kembali perisai emosional yang telah lama berhasil diruntuhkan oleh Arka.

Setiap gerakannya kaku, presisi, dan dipenuhi jarak. Ia melemparkan beberapa ranting kayu kering yang dibawanya ke dekat perapian tanpa menatap satu pun wajah yang berkumpul di sana.

"Kau kembali cukup lama, Tera," panggil Danu seraya membetulkan ikatan tali panggul tas perbekalannya. "Kami hampir mengira kau tersesat di batas tebing."

"Aku hanya mencari kayu," sahut Tera singkat. Suaranya datar, tanpa nada atau intonasi yang biasa terdengar.

Arka, yang duduk di atas bongkahan batu besar tak jauh dari perapian, mendongak cepat. Matanya menyipit, menangkap perubahan drastis pada aura gadis di hadapannya. Ia segera berdiri, mengibaskan debu dari celananya, lalu melangkah mendekat dengan raut khawatir yang tidak bisa disembunyikan.

"Tera, dari mana saja kau sebenarnya?" tanya Arka pelan, berusaha menatap langsung ke iris mata gadis itu. "Aku sempat mencarimu di sekitar sungai. Ada hal penting yang perlu kusampaikan padamu."

Tera melangkah mundur satu tapak, menciptakan jarak fisik yang tegas di antara mereka. Matanya menatap Arka lurus, namun tatapan itu begitu kosong, seolah Arka hanyalah sesosok asing yang kebetulan berdiri di jalur jalannya.

"Tidak ada yang perlu dibahas," jawab Tera. Suaranya menusuk, bagaikan embun es yang membekukan udara di sekeliling mereka.

"Tapi kau menyelimuti dirimu dengan aura membendung seperti ini lagi," bisik Arka, nada suaranya bergetar menahan cemas. "Apakah ada sesuatu yang terjadi di batas tebing tadi? Bicara padaku, Tera. Jangan mengurung dirimu sendiri seperti ini."

"Aku tidak mengurung diri," potong Tera dingin seraya berbalik memunggungi Arka. Ia meraih kantong air di dekat tasnya, mengabaikan uluran tangan Arka yang menggantung kaku di udara. "Aku hanya sedang menjalankan tugasku. Bukankah besok kita harus berangkat sebelum fajar menyingsing?"

Rhea dan Danu yang duduk berseberangan di dekat perapian saling melempar pandang. Mereka bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba menyeruak tajam, mengikis kehangatan yang beberapa hari terakhir sempat tumbuh di antara Arka dan Tera.

"Tera, jika ada masalah, kita bisa menyelesaikannya bersama," imbau Rhea lembut seraya menggeser duduknya mendekati Tera.

"Tidak ada masalah, Rhea," sahut Tera tanpa memalingkan kepala. "Semua berjalan sesuai rencana. Sebaiknya kalian beristirahat."

Arka mematungkan diri di tempatnya berdiri. Ia memandangi jemari tangannya sendiri yang dingin, lalu beralih menatap punggung Tera yang kaku. Dinding pembatas yang butuh waktu berbulan-bulan untuk diruntuhkan, kini berdiri kembali hanya dalam hitungan menit—lebih kokoh, lebih tebal, dan jauh lebih membekukan daripada sebelumnya.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, perjaIanan dilanjutkan menyusuri celah Lembah Batu. Namun, atmosfer di dalam kelompok kecil itu benar-benar berubah total. Matahari pagi yang bersinar terik sama sekali tidak sanggup mencairkan hawa dingin yang memancar dari tubuh Tera.

Arka mencoba berjalan di samping Tera, menyesuaikan tempo langkah kakinya dengan gadis itu. "Tera, ambil bagian air minum ini. Kau belum menyentuh perbekalanmu sejak terbit matahari."

Tera terus melangkah tanpa menghentikan ayunan kakinya. "Tidak."

"Kau butuh tenaga untuk melintasi tanjakan ini," Arka bersikeras, menyodorkan tempat air dari kulit kerbau ke dekat tangan Tera. "Jangan menyiksa dirimu sendiri hanya karena marah padaku."

Tera mendadak menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya cepat, menatap Arka dengan mata yang memancarkan kilatan es tajam.

"Perhatikan jalanmu sendiri, Arka," desis Tera satu kata demi satu kata, begitu dingin hingga membuat Arka terdiam kaku. "Aku tahu kapasitas tubuhku. Jangan ganggu aku."

"Tera, aku hanya ingin membantu!" Arka menahan lengan jubah Tera, mencoba mencari celah emosi di balik paras membeku itu. "Kenapa kau kembali menjadi seperti saat pertama kali kita bertemu di Desa Kelam? Apa salahku?"

Tera menepis tangan Arka dengan gerakan kasar yang berkecepatan tinggi. "Lepaskan!"

"Tera!" bentak Arka, frustrasi mulai menguasai dirinya. "Bisakah kau bicara jujur padaku setidaknya satu kalimat saja?"

"Jawabanku tetap sama," kata Tera datar, matanya menusuk tepat ke dada Arka. "Tidak."

Ia lalu berbalik dan berjalan melaju cepat di depan, meninggalkan Arka yang memegang dadanya sendiri, merasa ada rasa sakit yang melilit erat di hatinya.

Rhea melangkah mendekati Arka yang berdiri kaku di tengah jalan setapak. Ia menepuk bahu pemuda itu seraya menghela napas panjang.

"Apa yang terjadi padanya, Arka?" tanya Rhea prihatin. "Kemarin dia masih mau tertawa saat Danu menceritakan kisah konyol dari perguruan."

"Aku tidak tahu, Rhea," bisik Arka, suaranya parau dan sarat akan rasa bersalah yang tak ia pahami. "Tadi malam dia pergi ke tebing barat. Saat kembali, dia sudah berubah menjadi orang asing. Tatapannya... seolah dia sangat membenciku."

Lihat selengkapnya