KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Niat Baik yang Diberi Racun

Sinar matahari pagi menerobos tipis di antara celah-celah daun pohon pinus, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di halaman Perguruan Angin Sejuk. Arka berdiri di depan cermin tembaga kecil di kamarnya, merapikan lipatan jubah putihnya dengan gerakan cermat. Setelah peristiwa retaknya latihan mereka dua malam lalu, hubungan Arka dan Tera memburuk bagaikan benang kusut yang makin kencang ditarik. Namun pagi ini, ada raut tekad yang tegar di wajah pemuda itu.

"Kau yakin ingin menemuinya sekarang, Kak?" tanya Sari yang berdiri di ambang pintu kamar, membawa sebuah keranjang bambu kecil bermotif bunga.

Arka balik berbalik seraya tersenyum hangat, meski ada guratan lelah di bawah matanya. "Kesalahpahaman jika dibiarkan terlalu lama akan membeku menjadi kebencian, Sari. Aku tidak boleh membiarkan rasa takut dan bayangan masa lalu terus menguasai kita."

"Aku membawa apa yang Kakak minta," ujar Sari seraya menyerahkan keranjang bambu itu. "Buah persik liar dari lereng selatan. Masih segar dan manis, persis seperti yang sering Tera makan sewaktu dia pertama kali datang ke sini."

Arka menerima keranjang tersebut dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Sari. Ini sangat berarti."

Arka lalu mengambil secarik kertas jelang tebal dari atas mejanya. Kertas itu berisi catatan tulisan tangan yang ia susun sepanjang malam—sebuah penjelasan jujur tentang perasaannya, permohonan maaf atas ketergesaannya saat mencoba menyatukan energi, serta panduan lembut untuk menyelaraskan Jurus Teratai Kembar tanpa harus melukai ingatan kelam masing-masing. Ia melipat kertas itu dengan rapi dan menyelipkannya di balik genggaman keranjang.

"Semoga dia mau mendengarkan penjelasanmu kali ini," gumam Sari dengan mata penuh harapan.

"Dia pasti mau mendengarkannya," balas Arka mantap. "Tera memang luar dingin, tetapi hatinya tidak pernah benar-benar membatu. Aku yang harus melangkah lebih dulu untuk mengetuk pintunya."

Dengan langkah ringan namun pasti, Arka menyusuri lorong batu menuju kediaman Tera di ujung timur perguruan. Angin pagi berhembus lembut, membawa kelopak bunga liar berguguran di sepanjang jalan setapak. Arka menggenggam erat tangkai keranjang persik di tangannya, membayangkan senyum tipis—walau mungkin agak terpaksa—yang akan terukir di bibir Tera saat melihat niat baiknya pagi ini.

❖ ❖ ❖

Namun, sebelum Arka sempat menyeberangi jembatan kayu kecil yang membatasi area kediaman murid, sesosok bayangan berlari kencang dari arah gerbang luar perguruan. Langkah kaki yang tergesa-gesa itu memecahkan ketenangan pagi. Seorang murid muda dengan jubah berdebu dan napas memburu mendadak berhenti tepat di hadapan Arka, hampir saja menabraknya.

"Kak... Kak Arka!" teriak murid itu dengan suara parau dan panik.

Arka refleks menahan bahu murid tersebut agar tidak terjatuh. "Tenangkan dirimu, Banyu. Ada apa? Mengapa kau berlari seperti dikejar musuh?"

"Gawat, Kak! Ini tentang... tentang Mbak Tera!" panggil Banyu dengan mata membelalak lebar, memegangi dadanya yang kempas-kempis.

Arka mendadak mengetatkan genggamannya. "Tera? Ada apa dengannya? Bukankah dia ada di kamarnya?"

"Tidak, Kak! Mbak Tera tadi pagi-pagi sekali pergi ke ujung hutan batas utara untuk mengambil tanaman obat!" cerita Banyu dengan nada penuh kepanikan yang teramat meyakinkan. "Di sana... di sana dia dicegat oleh tiga orang mata-mata Golongan Hitam dari Perguruan Naga Emas!"

"Apa?!" wajah Arka seketika berubah pucat pasi. kehangatan di matanya sirna digantikan oleh kepanikan yang membakar. "Bagaimana kau tahu hal ini?"

"Aku melihatnya sendiri sewaktu patroli pagi tadi, Kak!" seru Banyu seraya menunjuk ke arah jalan setapak menuju hutan utara. "Mbak Tera terdesak di dekat jurang batu! Hawa esnya mulai melemah karena mereka memakai racun pemicu hawa murni! Kakak harus cepat sebelum terlambat!"

"Racun pemicu?" Arka mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya mencelos membayangkan Tera yang bertarung sendirian dalam kondisi jiwa yang belum stabil. "Mengapa kau tidak memanggil bantuan murid lain?"

"Waktu tidak cukup, Kak! Hanya Kakak yang bisa mencapai batas utara tepat waktu dengan Ilmu Angin Sejuk!" desak Banyu seraya memegang jubah Arka dengan wujud ketakutan yang sempurna. "Cepat, Kak! Nyawa Mbak Tera dalam bahaya!"

❖ ❖ ❖

Ketakutan terbesar Arka—ketakutan akan kehilangan dan ditinggalkan—seketika meluap dan menutup daya pikir jernihnya. Bayangan Tera yang terluka dan bersimbah darah di ujung hutan utara menghapus seluruh rencana mulianya pagi ini.

Tanpa berpikir panjang lagi, Arka membalikkan badannya. "Banyu, panggil Damar dan Bayu untuk menyusul! Aku akan pergi mendahului!"

"Baik, Kak!" jawab Banyu cepat.

Dalam kepanikan yang membuncah hebat, Arka tidak menyadari bahwa keranjang bambu berisi buah persik dan secarik catatan penjelasan yang ia genggam terlepas dari tangannya. Keranjang itu jatuh begitu saja di atas bangku batu di tepi jembatan, tergeletak tanpa penjagaan sewaktu Arka mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melesat cepat bagaikan kilat.

Tubuh Arka membayang di udara, melompati dahan-dahan pohon dengan kecepatan luar biasa menuju batas hutan utara. Angin kencang menerpa wajahnya, namun pikiran Arka hanya dipenuhi oleh satu nama: Tera. Ia tidak peduli jika harus menerjang bahaya atau menguras seluruh hawa murninya, asal ia bisa sampai sebelum bahaya merenggut nyawa gadis itu.

Sementara itu, di balik semak-semak tak jauh dari jembatan, sosok Banyu perlahan mengikis raut paniknya. Senyum licik bertunas di bibir murid muda itu. Ia melangkah mendekati bangku batu, memandangi keranjang bambu yang ditinggalkan Arka begitu saja.

Lihat selengkapnya