Malam semakin larut di Lembah Bayangan, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke balik jubah para anggota perkemahan. Di tengah kegelapan yang pekat, bayang-bayang hitam bergerak tanpa suara di antara tenda-tenda pengungsian, menyebarkan racun perpecahan yang jauh lebih mematikan daripada bilah pedang beracun. Desas-desus busuk mengenai keretakan hubungan internal Arka dan Tera mulai sengaja dibisikkan dari satu telinga ke telinga yang lain oleh mata-mata suruhan Golongan Hitam yang menyusup ke barisan para sahabat.
"Apakah kalian tahu? Arka sudah tidak lagi memikirkan keselamatan kelompok ini," bisik seseorang bermuka tudung hitam di dekat perapian sudut perkemahan kepada salah satu junior, lalu lenyap ditelan malam. "Pikirannya hanya dipenuhi oleh obsesinya pada Tera, sementara kita semua dibiarkan menanggung risiko kematian."
Berita angin itu menyebar bagaikan api di atas padang rumput kering. Di dalam tenda utama, Arka duduk termenung menatap bara api kecil di dalam anglo, sementara Tera berdiri kaku di sudut ruangan dengan lipatan tangan di dada, sama sekali tidak menyadari bahwa fondasi kepercayaan yang mereka bangun bersama para sahabat sedang digerogoti dari dalam.
"Arka, apa kau mendengar apa yang dibicarakan para prajurit di luar?" tanya Bayu dengan nada cemas, melangkah masuk ke dalam tenda tanpa aba-aba, membawa ekspresi wajah yang sarat akan ketegangan. "Mereka mulai bergosip bahwa kepemimpinanmu sudah kehilangan arah karena konflik pribadimu dengan Tera."
Arka mengangkat wajahnya, menatap Bayu dengan sorot mata lelah. "Biarkan mereka bicara, Bayu. Aku tidak punya waktu untuk mengurus setiap mulut yang berbisik di kegelapan."
"Ini bukan sekadar bisikan biasa, Arka!" sergah Fathan yang ikut menyusul masuk ke dalam tenda bersama Galin, napas mereka tampak memburu. "Kondisi perkemahan sudah mulai kacau. Banyak anggota yang merasa diabaikan karena fokusmu dan Tera selalu terpecah oleh ego kalian sendiri!"
Tera yang berdiri di sudut menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Fathan. "Jaga ucapanmu, Fathan! Jangan menuduh tanpa melihat kenyataan yang ada di lapangan!"
"Kenyataannya adalah kalian berdualah sumber masalah dari semua kekacauan ini!" balas Fathan sengit, menaikkan nada suaranya tanpa keraguan sedikit pun. "Sikap dingin dan egoismu, Tera, digabungkan dengan ketidakmampuan Arka memimpin, membuat kita semua berada di ambang kehancuran!"
Suasana di dalam tenda seketika menjadi panas. Arka bangkit berdiri dari duduknya, menatap tajam para sahabat yang selama ini berjuang bersamanya, menyadari bahwa benih-benih kebencian yang ditanam oleh musuh kini mulai bertunas dengan subur di tengah-tengah mereka.
❖ ❖ ❖
Ketegangan di dalam tenda utama itu dengan cepat merembes keluar, mencemari seluruh sudut perkemahan menjelang fajar menyingsing. Di lapangan rumput dekat barisan tenda logistik, Fathan dan Galin berdiri berhadapan dengan kelompok kecil yang masih setia membela Arka. Wajah Fathan tampak mengeras, menunjukkan kekecewaan yang sudah lama ia pendam terhadap keputusan-keputusan taktis Arka belakangan ini.
"Aku tidak bisa terus-menerus menutup mata," ucap Fathan dengan suara lantang yang sengaja dibiarkan terdengar oleh para anggota lain yang lalu-lalang. "Pertemuan taktis semalam membuktikan bahwa Arka mengambil keputusan bukan berdasarkan keselamatan kelompok, melainkan untuk melindungi Tera dari risiko pertarungan langsung!"
Galin mengangguk setuju di samping Fathan, melipat tangannya di dada. "Benar. Kita mempertaruhkan nyawa melintasi wilayah musuh, tapi pemimpin kita justru terlihat lebih sibuk menyelesaikan urusan asmara dan ego pribadi yang tidak ada ujungnya. Sampai kapan kita harus menoleransi hal ini?"
Mendengar tuduhan tersebut, seorang anggota senior bernama Rian langsung melangkah maju, membentak dengan nada tinggi. "Jaga mulutmu, Fathan! Arka sudah menyelamatkan nyawa kita berkali-kali dari sergapan Golongan Hitam! Bagaimana bisa kalian meragukan loyalitasnya hanya karena hasutan yang tidak jelas sumbernya?"
"Itu bukan hasutan, Rian! Itu adalah kenyataan yang disembunyikan dari kita!" balas Galin tidak kalah sengit. "Kalian saja yang terlalu membabi buta membela Arka tanpa melihat bagaimana kondisi kelompok kita sekarang yang sudah terpecah menjadi dua kubu!"
Perdebatan sengit itu menarik perhatian puluhan anggota perkemahan lainnya. Mereka keluar dari tenda masing-masing, membentuk lingkaran kecil di sekitar Fathan dan Rian. Bisik-bisik ketidakpuasan mulai terdengar bersahutan dari berbagai arah, mempertanyakan kompetensi Arka sebagai pemimpin utama dalam misi penyelamatan gulungan pusaka tersebut.