Malam di Benteng Terakhir menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke relung dada. Di dalam aula batu yang setengah runtuh akibat gempuran hari sebelumnya, suasana terasa jauh lebih membekukan daripada cuaca di luar. Kelompok yang dulunya dikenal sebagai benteng pertahanan terakhir dunia persilatan itu kini berada di ambang kehancuran total. Bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena keretakan internal yang sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Kelompok terpecah menjadi dua kubu yang saling melempar tatapan penuh curiga dan kebencian. Suara benturan senjata yang tadinya ditujukan untuk musuh kini bergeser menjadi ancaman bisik-bisik di antara rekan seperjuangan.
"Cukup! Jika kalian terus bersikap seperti ini, kita tidak perlu menunggu Golongan Hitam datang untuk menghabisi kita, karena kita sudah saling membunuh terlebih dahulu!" seru Kamil dengan suara berat yang menggema di seluruh sudut aula batu.
Melihat situasi yang hampir berujung pada perpecahan permanen dan aksi saling tinggalkan akibat provokasi yang menghasut, Kamil, Rafar, dan Yafid saling bertukar pandang. Mereka tahu betul bahwa jika malam ini mereka memilih diam dan membiarkan ego serta rasa curiga menguasai keadaan, maka perjuangan panjang yang telah mereka pertaruhkan dengan nyawa akan runtuh seketika dalam satu malam.
"Kamil benar, kita tidak boleh saling meninggalkan sekarang!" ucap Rafar dengan nada tegas, melangkah maju mendekati kelompok yang mulai berkemas untuk meninggalkan tempat. "Kalian mau pergi ke mana? Keluar dari benteng ini tanpa arah di tengah malam buta sama saja dengan menyerahkan kepala kalian kepada musuh di luar sana!"
"Biarkan kami pergi! Daripada mati sia-sia di sini karena saling curiga, lebih baik kami mencari jalan masing-masing!" balas seorang pendekar berambut acak-acakan dari kubu sebelah, wajahnya memerah karena amarah dan kelelahan mental.
"Jalan masing-masing katamu?" Yafid menyela dengan suara dingin, melipat tangan di dada sambil menatap tajam ke arah sang pendekar. "Pikirkan baik-baik dengan kepala dingin. Apakah kalian benar-benar yakin jalan di luar sana lebih aman daripada berdiri bersama kami di tempat ini?"
Suasana aula mendadak hening sejenak, menyisakan deru napas berat para penghuni yang lelah fisik maupun batin.
❖ ❖ ❖
Kamil melangkah pelan ke tengah-tengah kelompok, berdiri di bawah temaram cahaya obor yang hampir padam. Pandangannya menyapu satu per satu wajah rekan-rekan yang selama ini berjuang bersama di medan laga. Ada guratan kelelahan, rasa kecewa, dan ketakutan yang terpampang nyata di setiap mata yang memandang balik ke arahnya.
"Kalian ingat luka di bahu kirimu itu?" kata Kamil, menunjuk ke arah seorang pendekar senior dari faksi barat. "Aku yang merawatnya saat kita terjebak di Lembah Tengkorak tiga bulan lalu. Dan kau, ingatkah saat racun hampir merenggut nyawamu di hutan perbatasan? Kita semua mempertaruhkan darah dan air mata untuk membawamu pulang dalam keadaan bernyawa."
Suara Kamil terdengar tenang, namun setiap kata yang diucapkannya mengandung beban emosional yang begitu dalam, mengingatkan kembali tetesan darah dan air mata yang telah mereka lewati bersama sejak awal petualangan yang panjang dan melelahkan ini.
"Kita tidak melewati semua penderitaan itu hanya untuk berpisah di jurang kehancuran seperti ini," lanjut Kamil, suaranya sedikit bergetar menahan emosi. "Apakah kalian lupa sumpah yang kita ucapkan di hadapan makam para leluhur? Bahwa kita akan hidup dan mati bersama demi menegakkan keadilan di dunia persilatan?"
Beberapa pendekar menundukkan kepala mereka, menghindari tatapan mata Kamil. Suasana tegang yang tadinya dipenuhi amarah mulai diselimuti oleh keheningan yang sarat akan rasa bersalah.