Matahari sore baru saja meredupkan sinarnya, meninggalkan bias jingga kemerahan di ufuk barat perkemahan tersembunyi yang terletak di lembah sunyi. Suasana di sekitar api unggun utama tampak begitu rapuh. Beberapa anggota kelompok masih duduk terdiam, mencoba menyembuhkan luka mental dan ketegangan batin yang belum sepenuhnya pulih pasca-kejadian menegangkan di wilayah sebelumnya. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang kian menusuk kulit para pendekar yang kelelahan.
Arka berdiri di dekat batu besar sambil melipat tangan di dada, memperhatikan rekan-rekannya yang masih diliputi kecemasan. Ia tahu betul bahwa kepercayaan di antara mereka baru saja mulai dibangun kembali setelah serangkaian konflik internal yang melelahkan. Tidak seorang pun di tempat itu yang menginginkan ketenangan singkat ini terganggu oleh bayang-bayang masa lalu.
"Apakah kalian merasa suasana malam ini terasa jauh lebih senyap dari biasanya?" tanya seorang anggota kelompok bernama Lian, memecah keheningan sambil melemparkan sepotong ranting kering ke dalam api unggun yang menyala kecil.
Tera mengangguk perlahan, matanya menerawang ke arah barisan pepohonan gelap di perbatasan lembah. "Ya, Lian. Bahkan suara burung hantu malam pun tidak terdengar sama sekali. Ada sesuatu yang tidak beres di luar sana."
Sebelum Arka sempat merespons perkataan Tera, suara gemerisik daun yang diinjak dengan tergesa-gesa mendadak memecah kesunyian malam. Dari arah jalur setapak utama yang mengarah ke pos terdepan, dua sosok bayangan manusia berlari kencang menerobos kegelapan hutan dengan napas memburu dan langkah kaki yang tidak beraturan.
"Arka! Tera!" teriak sebuah suara perempuan yang penuh kepanikan luar biasa.
Sosok itu muncul dari balik semak-semak belukar, disusul oleh sosok kedua di belakangnya. Mereka adalah Azalia dan Risha, dua pengintai yang ditugaskan untuk mengawasi sektor pertahanan terluar lembah. Wajah keduanya tampak sangat pucat pasi, tanpa sisa warna darah sedikit pun, seolah-olah mereka baru saja melihat hantu pencabut nyawa di kegelapan hutan.
Azalia tersandung akar pohon yang melintang, nyaris terjatuh ke tanah jika Risha tidak segera menyambar lengan bajunya dan menariknya bangkit dengan cepat. Mereka berdua berlari semakin kencang, menerobos kerumunan anggota kelompok yang langsung berdiri karena terkejut melihat kedatangan dua pengintai itu dalam kondisi yang begitu mengenaskan.
"Ada apa, Azalia? Kenapa kalian kembali sepucat itu?" tanya Arka dengan suara berat, melangkah maju menyambut kedatangan mereka berdua di tengah perkemahan.
"Pos pengintaian... pos pengintaian kita..." rintih Azalia terengah-engah, dadanya naik turun dengan sangat cepat, mencoba mengatur pasokan udara ke paru-parunya yang nyaris habis akibat berlari tanpa henti bermil-mil jauhnya.
❖ ❖ ❖
Azalia mencengkeram erat lengan jubah Arka, matanya membelalak lebar menyiratkan ketakutan yang teramat sangat. Seluruh anggota kelompok kini merapat membentuk lingkaran di sekitar mereka, menanti kalimat lanjutan yang siap meremukkan sisa-sisa ketenangan malam itu.
"Katakan dengan jelas, Azalia! Apa yang terjadi di pos terdepan?" desak Tera dengan nada suara yang mulai meninggi, merasakan firasat buruk yang teramat kuat menghantam dadanya.
"Pos pengintaian depan... telah dihancurkan total!" seru Azalia dengan suara bergetar hebat, air matanya nyaris tumpah akibat kepanikan yang mendalam. "Tidak ada satu pun yang tersisa! Tenda-tenda hancur berkeping-keping, dan seluruh rekan kita di pos depan telah dihabisi tanpa sempat memberikan tanda peringatan apapun!"
Seruan itu menyambar telinga setiap orang bagaikan sambaran petir di siang bolong. Bisik-bisik ketakutan langsung merebak di antara para anggota kelompok. Perkemahan yang tadinya sunyi kini berubah menjadi lautan kegelisahan yang mendalam.
"Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi begitu cepat?" tanya Lian dengan suara tercekat di tenggorokan. "Bukankah jalur menuju pos pengintaian itu dilindungi oleh jebakan alami dan penghalang tenaga dalam yang kuat?"
"Itulah masalahnya, Lian!" seru Risha, mengambil alih pembicaraan dengan napas yang masih memburu hebat. Ia melangkah maju ke dekat api unggun, menatap wajah satu persatu rekan sekelompoknya dengan pandangan penuh keputusasaan. "Pasukan Golongan Hitam bergerak secara senyap! Mereka tidak merusak jebakan itu dengan kekuatan kasar, melainkan melumpuhkannya dalam diam menggunakan teknik pembunuhan bayangan tingkat tinggi!"
Arka mengerutkan keningnya dalam-dalam, rahangnya mengeras seketika mendengar nama musuh bebuyutan mereka disebut. "Golongan Hitam? Apakah mereka berhasil melacak pergerakan kita sampai sejauh ini ke lembah tersembunyi ini?"