Desau angin malam membawa hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke relung dada, merayap di antara celah-celah tenda darurat yang berdiri rapuh di lembah terpencil. Perkemahan sementara itu diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan, di mana sisa-sisa kelelahan fisik masih menggelayuti tubuh setiap anggota kelompok. Mereka baru saja melewati perjalanan melelahkan sepanjang hari tanpa sempat memejamkan mata dengan tenang, dan ketegangan batin akibat kecurigaan yang belum sepenuhnya reda masih menyisakan jurang pemisah di antara mereka. Belum sempat fajar menjanjikan kelegaan atau memberi waktu bagi Arka untuk menyusun formasi pertahanan yang matang, takdir kejam telah bergerak mendahului rencana mereka.
Suara gemerisik aneh tiba-tiba memecah kesunyian malam dari arah semak belukar di lereng bukit, disusul oleh lolongan burung hantu yang terdengar tidak wajar. Sebelum ada yang sempat bersuara memperingatkan, tanah di bawah perkemahan seolah bergetar hebat. Gelombang pertama pasukan Golongan Hitam menerobos masuk dalam serangan malam buta yang sangat brutal dan tanpa ampun.
"Bangun! Serangan musuh!" teriak Ki Ranu dengan suara menggelegar, memecah kepulan kabut malam yang mulai merayap naik.
Akan tetapi, seruan itu datang terlambat untuk mencegah kekacauan. Bayangan-bayangan hitam berjubahkan kain legam melesat bagaikan hantu dari kegelapan hutan, langsung menghujani perkemahan dengan anak panah berapi yang menyala terang di langit malam. Tenda-tenda pengungsian seketika terbakar hebat, memancarkan cahaya merah mengerikan yang menerangi wajah-wajah terkejut dan panik dari para penghuninya.
Arka langsung melompat keluar dari tendanya, napasnya memburu saat matanya menangkap pemandangan yang sangat kacau di hadapannya. Pedang di punggungnya belum sepenuhnya tercabut ketika seorang prajurit musuh bertopeng besi menerjang ke arahnya dengan sabetan golok yang mengincar leher.
"Arka, awas di belakangmu!" seru Tera histeris sambil mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan susulan dari samping, menyelamatkan Arka dari tikaman maut yang nyaris merenggut nyawanya.
"Terima kasih, Tera!" balas Arka dengan gigi gemeretak menahan amarah, segera memutar tubuhnya dan menghantamkan sabetan balasan yang merobohkan penyerang tersebut seketika.
Namun, kejatuhan satu musuh sama sekali tidak mengubah keadaan. Ribuan prajurit Golongan Hitam terus mengalir masuk bagaikan air bah yang meluap dari bendungan, memanfaatkan kebingungan massal di dalam perkemahan yang belum sempat terbangun seutuhnya. Suara benturan baja, teriakan kesakitan, dan deru api yang melahap tenda-tenda menciptakan simfoni kematian yang meremukkan mental siapa saja yang mendengarnya.
❖ ❖ ❖
Kegelapan malam yang pekat dimanfaatkan sepenuhnya oleh pasukan musuh untuk melancarkan taktik teror psikologis yang luar biasa keji. Mereka tidak menyerang dalam formasi terbuka, melainkan bergerak lincah di antara bayangan pepohonan dan kepulan asap kebakaran, melancarkan serangan kejutan dari berbagai arah yang tidak terduga. Kondisi mental kelompok yang sejak awal masih rapuh dan penuh curiga akibat sisa-sisa perselisihan masa lalu langsung runtuh seketika diterpa teror bertubi-tubi ini.
"Jangan percaya pada siapa pun di sekitar kalian! Bisa jadi mereka mata-mata musuh!" teriak salah satu pendekar dari aliran utara dengan suara panik, matanya melotot liar menatap rekan di sebelah kirinya dengan penuh rasa curiga.
"Bodoh! Jangan buat kekacauan sendiri!" bentak Kirana dengan nada tinggi, mencoba menenangkan barisan tengah yang mulai tercerai-berai akibat paranoia yang menjalar cepat. "Musuh ada di luar sana, bukan di antara kita!"
Akan tetapi, teriakan Kirana tenggelam di tengah suara gaduh pertempuran dan ledakan kecil dari kantong mesiu yang sengaja dilemparkan oleh para penyusup. Ketidakpercayaan yang sempat terkikis kini kembali menebal di benak masing-masing anggota. Rasa curiga bahwa di antara mereka terdapat pengkhianat yang sengaja membocorkan letak perkemahan membuat koordinasi kelompok lumpuh total sebelum pertempuran yang sebenarnya bahkan baru berjalan seperempat jam.
Di sudut timur perkemahan, dua orang pendekar muda saling serang secara tidak sengaja akibat kepanikan yang merajai pikiran mereka di tengah gelapnya asap. "Kenapa kau mengarahkan pedang itu padaku?!" geram salah seorang dari mereka dengan napas terengah-engah.
"Kau yang tiba-tiba melompat dari kegelapan, kupikir kau adalah algojo musuh!" balas temannya dengan tangan bergetar hebat.
Arka yang melihat perpecahan di dalam barisannya merasa dadanya sesak oleh rasa frustrasi yang luar biasa. Ia tahu persis bahwa jika kepanikan ini dibiarkan berlangsung lebih lama lagi, kehancuran total adalah satu-satunya takdir yang menanti kelompok mereka.
"Hentikan pertikaian bodoh ini!" seru Arka lantang sambil melompat ke tengah-tengah mereka, menangkis tebasan pedang keduanya dengan bilah senjatanya sendiri hingga memercikan bunga api terang di kegelapan. "Jika kalian terus saling curiga, malam ini kuburan kita akan digali oleh tangan kita sendiri!"
Tera berlari mendekati Arka, punggung mereka saling bersandar di tengah kepungan asap dan bayangan musuh yang bergerak cepat. "Arka, keadaan di luar kendali! Garis pertahanan sebelah utara sudah jebol, dan kita tidak bisa menghubungi kelompok Ki Ranu karena terhalang kobaran api besar!"
Arka menggigit bibirnya erat-erat, matanya menyapu sekeliling dengan pandangan nanar. Di tengah situasi yang serba genting ini, kepemimpinannya diuji sampai ke batas maksimal kemampuan mental seorang manusia.
❖ ❖ ❖