KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Darah di Garis Belakang

Suasana di sektor garis belakang benteng tua itu malam ini seharusnya menjadi tempat yang paling aman dan tenang bagi para personel pendukung. Jauh dari garis depan tempat dentuman pedang dan teriakan perang berkecamuk, area logistik dipenuhi oleh tumpukan karung gandum, kotak perbekalan medis, serta tenda-tenda darurat tempat para juru masak dan relawan muda beristirahat. Cahaya dari beberapa obor menyoroti wajah-wajah lelah yang sedang merapikan persediaan air bersih untuk pasokan esok hari.

"Pastikan semua peti obat disimpan di sudut tenda utama, jangan sampai terkena embun malam yang basah," instruksi seorang relawan paruh baya kepada beberapa pemuda yang membantunya mengangkat kotak logistik.

"Baik, Paman. Ini kotak terakhir dari gerobak sebelah barat," sahut seorang pemuda relawan sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.

Arka dan Tera sebenarnya telah memperketat pengamanan di seluruh sektor, namun musuh selalu menemukan cara untuk mencuri kelengahan di titik yang paling tidak terduga. Di balik kegelapan hutan lebat yang membentang tepat di luar pagar kayu belakang, bayangan-bayangan hitam bergerak tanpa suara, mendekati garis pertahanan yang hanya dijaga oleh relawan amatir.

Sekelompok elite Golongan Hitam yang terkenal sebagai pembunuh senyap berhasil menembus celah pertahanan dan mengepung barisan belakang tempat para penjaga logistik dan pelindung amatir berjaga. Mereka bergerak bagaikan hantu malam, mengenakan topeng besi legam dan membawa belati beracun yang memancarkan kilau kebiruan di bawah temaram cahaya bintang.

"Ada sesuatu yang bergerak di dekat tumpukan kayu bakar!" teriak seorang penjaga relawan muda dengan suara bergetar, menunjuk ke arah semak-semak yang bergemerisik.

Sebelum sempat siapa pun membunyikan lonceng peringatan, bayangan-bayangan hitam itu melompat keluar secara serentak. Hujan panah pendek beracun meluncur deras ke udara, langsung melumpuhkan para penjaga muda di pos terdepan garis belakang tanpa suara.

"Serang! Habisi semua yang ada di tenda logistik! Jangan sisakan satu pun saksi!" perintah pemimpin kelompok pembunuh bayaran itu dengan suara parau yang dingin dan mematikan.

Kepanikan seketika meledak di area belakang benteng. Para relawan dan penjaga amatir berlari kencang menyelamatkan diri ke segala arah, sementara kobaran api mulai melahap tenda-tenda penyimpanan makanan akibat lemparan obor musuh. Suara teriakan kesakitan dan tangisan ketakutan menggema memecah kesunyian malam, menciptakan kekacauan total di garis belakang kelompok Arka.

❖ ❖ ❖

Fathan dan Galin yang sedang berpatroli di sektor tengah mendadak menghentikan langkah mereka begitu mendengar suara ledakan kecil dan kepulan asap hitam dari arah belakang. Tanpa perlu dikomando dua kali, kedua perisai tangguh itu langsung memutar arah dan berlari kencang menuju sumber kekacauan.

"Sial! Garis belakang kita disusupi!" geram Fathan sambil mempercepat laju larinya, mencabut perisai baja dari punggungnya dengan gerakan refleks yang terlatih.

Galin di sampingnya mengangguk tajam, matanya memicing melihat kobaran api yang mulai membubung tinggi di antara tenda-tenda logistik. "Para pembunuh elit Golongan Hitam. Mereka sengaja mengincar relawan dan persediaan kita untuk melemahkan mental kelompok dari belakang!"

Begitu tiba di area pertempuran, mereka mendapati situasi yang sudah sangat kritis. Puluhan relawan tak berdaya terdesak ke sudut pagar batu, dikelilingi oleh belasan pendekar musuh berdarah dingin yang siap menebaskan pedang mereka.

Fathan dan Galin yang melihat posisi krisis tersebut tanpa pikir panjang langsung melompat maju untuk menutupi jalur pelarian rekan-rekan mereka yang lain. Dengan postur tubuh besar dan perisai baja yang kokoh, mereka berdiri di tengah-tengah jalur sempit, menghalangi jalan para pembunuh bayaran yang hendak mendekati para relawan.

"Lari! Cepat menjauh dari sini ke arah benteng utama!" bentak Fathan dengan suara menggelegar kepada para relawan yang ketakutan.

Lihat selengkapnya