KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Kecepatan di Ambang Maut

Malam mendadak terasa begitu kejam, mencekik setiap jengkal ruang di perkemahan darurat yang porak-poranda akibat hantaman meriam pengepung. Di bawah langit kelam tanpa bintang, suara ledakan susulan bergema memekakkan telinga, memantul di dinding-dinding ngarai yang curam. Asap tebal mengepul pekat, bercampur dengan bau mesiu dan anyir darah segar yang menguap ke udara dingin. Suasana perkemahan yang tadinya diisi oleh konsentrasi ketat kini runtuh seketika dalam kekacauan yang mengerikan.

Melihat jatuhnya Fathan dan Galin dalam kondisi kritis, suasana perkemahan dilanda kepanikan luar biasa yang mengancam membubarkan seluruh sisa pertahanan.

Para prajurit bawahan mulai berlarian tak tentu arah, meninggalkan pos masing-masing karena mengira pertempuran ini telah sepenuhnya kalah. Jeritan panik bersahutan dengan deru angin malam yang membawa serpihan bara api. Di tengah kekacauan itu, tubuh Fathan dan Galin tergeletak tak berdaya di atas tanah berumput basah, bersimbah darah setelah menahan gelombang terjangan pertama dari pasukan elit musuh.

Kamil yang berdiri tidak jauh dari lokasi kejatuhan mereka, berteriak lantang mencoba mengendalikan barisan yang mulai kocar-kacir.

"Jangan bubarkan formasi! Tetap di pos kalian!" seru Kamil dengan suara serak, mengayunkan pedangnya untuk menangkis sisa-sisa panah api yang meluncur deras. "Pertahankan garis pertahanan atau kita semua mati di sini!"

Namun, teriakan itu seolah tenggelam di tengah kepanikan massal. Beberapa prajurit muda tampak melemparkan perisai mereka, bersiap melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.

Yafid, yang berlari mendekati posisi Kamil dengan napas memburu dan lengan berdarah, mencengkeram bahu seorang prajurit yang hendak kabur.

"Mau lari ke mana kau, pengecut?!" bentak Yafid tajam, menatap mata prajurit yang gemetar ketakutan itu. "Jika kau melangkah satu langkah lagi keluar dari garis ini, pasukan musuh akan langsung menghabisi punggungmu!"

"Tapi Fathan dan Galin sudah tumbang! Pertahanan kita sudah jebol!" jawab prajurit itu histeris, meronta dari cengkeraman Yafid.

"Belum!" potong sebuah suara tegas dari arah belakang. Zahra melangkah mantap menerobos kerumunan prajurit yang panik, matanya menyala tajam penuh tekad baja. Di sampingnya, Chafia berjalan cepat dengan belati terhunus di tangan kanan dan kantong obat darurat di bahu kirinya.

❖ ❖ ❖

Tanpa memedulikan hujan panah yang kembali mendesing di udara malam, Zahra dan Chafia langsung bergerak cepat membelah kerumunan prajurit yang kebingungan. Mereka berdua tahu betul bahwa setiap detik keterlambatan akan menjadi pembeda antara hidup dan mati bagi kedua rekan mereka yang terkapar di tanah lapang terbuka.

Zahra dan Chafia langsung menerobos hujan panah dan terjangan musuh tanpa memedulikan keselamatan diri mereka sendiri demi mencapai lokasi korban.

Sebuah panah berapi melesat tajam nyaris mengenai bahu Chafia, namun wanita itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya menunduk sedikit, mempercepat ayunan kakinya hingga akhirnya tiba di sisi tubuh Galin yang tergeletak bersimbah darah.

"Zahra, fokus pada Fathan! Aku ambil alih Galin!" seru Chafia lantang di tengah suara bising pertempuran yang terus mendekat dari arah garis depan.

Zahra mengangguk tanpa ragu, langsung menjatuhkan diri berlutut di samping tubuh Fathan yang tampak pucat pasi dengan luka menganga di bagian dada sebelah kiri. Napas Fathan terdengar pendek-pendek dan tersengal, mengeluarkan buih kemerahan dari sudut bibirnya setiap kali ia mencoba menghirup udara.

"Fathan! Dengar suaraku, jangan menutup mata!" panggil Zahra dengan suara tegas, jemarinya yang terampil langsung merobek kain seragam Fathan untuk melihat seberapa dalam luka tusuk yang dideritanya.

Dari arah barisan musuh, gelombang pasukan infanteri berat berzirah hitam mulai berlari kencang menerjang sisa barisan pertahanan yang hampir runtuh. Mereka melihat kesempatan emas saat dua orang tenaga medis perlawanan terjebak di ruang terbuka tanpa perlindungan yang memadai.

Lihat selengkapnya