KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Kesadaran di Ujung Tanduk

Desing angin malam yang berdarah menyapu sisa-sisa reruntuhan batu di pinggiran lembah, membawa serta bau mesiu, keringat, dan anyir darah yang menyesakkan dada. Di tengah kancah medan pertempuran yang porak-poranda, di mana lidah api masih menjilat-jilat sisa bangunan yang terbakar, Arka dan Tera berdiri terpaku bagai arca batu. Suara benturan pedang dan teriakan kesakitan dari para prajurit seolah menjauh, meredup di telinga mereka yang kini berdengung hebat oleh hantaman kesadaran yang sangat menohok batin.

"Kita... kita telah berbuat apa, Arka?" bisik Tera dengan suara serak, jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah tanah lapang tempat bayangan kehancuran membentang luas di hadapan mereka.

Arka tidak langsung menjawab. Matanya menerawang jauh menembus kabut asap kelam yang mengepung arena pertarungan. Bayangan pertengkaran egois, rasa cemburu yang membabi buta, serta perpecahan internal yang terjadi beberapa waktu lalu berkelebat cepat di kepalanya bagai bilah pisau yang mengiris-iris nurani. Betapa bodohnya mereka. Di saat musuh sejati sedang mengintai di balik bayangan untuk menghabisi seluruh kelompok, mereka justru menghabiskan waktu dan tenaga untuk saling mencurigai, mementingkan harga diri, dan membiarkan dinding permusuhan tumbuh di antara orang-orang terkasih.

"Ego kita telah dibutakan oleh kesombongan, Tera," jawab Arka dengan suara parau yang sarat akan rasa bersalah yang teramat dalam. "Kita membiarkan celah kecil itu membesar, hingga nyawa orang-orang di sekitar kita menjadi taruhannya."

Keduanya terdiam dalam keheningan yang menyiksa, dikelilingi oleh puing-puing keputusasaan yang mereka ciptakan sendiri akibat ketidakdewasaan emosional. Kegelapan malam seolah menertawakan kebodohan mereka, memperlihatkan betapa rapuhnya aliansi yang dibangun jika fondasi kepercayaan di dalamnya runtuh hanya karena embusan angin cemburu dan salah paham yang tidak berdasar.

❖ ❖ ❖

Pandangan mata Arka perlahan bergeser dari puing-puing bangunan menuju ke sudut barat medan pertempuran, tempat di mana tenda medis darurat berdiri compang-camping diterjang angin malam. Di sana, di atas hamparan rumput yang basah oleh embun dan darah, ia melihat bayangan Fathan dan Galin terbaring sangat lemah. Kedua sahabat setia itu mengalami luka parah di sekujur tubuh setelah mati-matian menahan gelombang serangan kejutan dari pasukan musuh seorang diri, akibat tidak adanya koordinasi yang solid dari barisan komando.

"Fathan... Galin..." panggil Arka lirih, langkah kakinya terasa begitu berat seolah dibebani ribuan ton besi saat melihat napas kedua sahabatnya itu naik turun dengan sangat lambat dan tersengal-sengal.

Di sisi lain, Tera mengalihkan pandangannya ke arah ruang peracikan obat darurat. Di sana, di bawah cahaya lentera yang hampir padam, ia melihat air mata ketakutan yang mengalir deras di wajah Zahra dan Chafia. Kedua gadis itu tampak kewalahan, tangan mereka berlumuran darah kental saat berusaha menghentikan pendarahan hebat dari luka-luka para prajurit, sementara raut wajah mereka memancarkan keputusasaan yang teramat sangat karena merasa ditinggalkan dan berjuang sendirian di tengah badai.

"Zahra... Chafia..." gumam Tera dengan dada sesak, air matanya tumpah seketika melihat betapa menderitanya orang-orang yang selama ini tulus mendukung mereka, sementara ia dan Arka justru sibuk merajut drama kebencian dan kebodohan pribadi.

Pemandangan memilukan itu menghantam kesadaran mereka bagaikan sambaran petir di siang bolong. Rasa iba bercampur penyesalan yang teramat pekat merasuk ke dalam tulang sumsum, membuat lutut keduanya terasa lemas tak bertulang di atas tanah yang kotor oleh debu peperangan.

Lihat selengkapnya