KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Penyatuan Hati yang Merenggang

Suara deru angin malam bertiup kencang melintasi puing-puing benteng kayu yang telah porak-poranda. Asap hitam sisa ledakan racun belerang masih membubung tinggi, membumbung memenuhi langit malam yang kusam. Setelah pertarungan berdarah yang menahan gelombang pertama serangan musuh, pertempuran akhirnya terhenti sejenak. Di tengah jeda singkat serangan musuh tersebut, suasana di sekitar area perlindungan mendadak menjadi hening dan sunyi.

Arka berdiri kaku di antara puing-puing batu yang hancur. Pakaian tempurnya terkoyak di beberapa bagian, berbercak noda debu dan darah kering. Tatapannya tertuju pada sesosok gadis yang terduduk kaku di atas bongkahan batu datar tak jauh darinya. Tera menyandarkan tubuhnya yang lelah, memegangi busur kayunya yang retak dengan jari-jemari yang gemetar.

Dengan melangkahkan kaki yang terasa amat berat, Arka berjalan menghampiri Tera di hadapan para sahabat yang tersisa. Langkah kakinya menyapu kerikil tajam, menghasilkan bunyi gesekan kecil di tengah keheningan malam. Kepala Arka tertunduk dalam-dalam, memancarkan raut penyesalan yang teramat mendalam dari garis wajahnya yang pucat.

"Tera..." panggil Arka dengan nada suara pelan, hampir tenggelam oleh desir angin malam.

Tera tidak serta-merta mendongak. Jemarinya makin kencang menggenggam gagang busur, sementara bahunya tampak tegang. Danu dan Rhea, yang sedang membalut luka di lengan masing-masing, langsung menghentikan gerakan mereka. Kedua sahabat itu menatap Arka dengan napas tertahan.

"Ada apa lagi, Arka?" bisik Tera tanpa menatap mata pemuda itu. Suaranya terdengar serak dan rapuh, tak lagi menyisa keangkuhan dinding es yang selama ini ia pasang. "Musuh bisa menyerang kembali kapan saja. Ini bukan waktu yang tepat untuk pembicaraan tanpa arah."

"Tidak, Tera. Ini adalah waktu yang paling tepat," potong Arka tegas, walau kepalanya tetap tertunduk kaku. "Jika aku tidak mengatakannya sekarang, aku takut tidak akan pernah memiliki kesempatan itu lagi."

Rhea melangkah mendekat satu tapak, memandangi Arka dengan mata membelalak prihatin. "Arka, apakah kau yakin?"

"Aku harus melakukannya, Rhea," sahut Arka seraya menarik napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. Ia kembali mengarahkan pandangannya pada Tera, menatap sosok gadis yang telah begitu lama mengasingkan diri di balik tembok keraguan. "Aku tidak bisa bertempur di sampingmu jika ada jarak tak kasatmata yang memisahkan kita."

Tera perlahan menghentikan usapan pada busurnya. Ia mendongakkan kepala, menatap wajah Arka yang penuh dengan goresan luka dan rasa bersalah.

"Katakan apa yang ingin kau katakan," ucap Tera datar, meski ada getaran halus di ujung bibirnya.

❖ ❖ ❖

Arka berlutut di atas satu kakinya di tanah yang berdebu, menyajikannya tepat di hadapan Tera. Sikap merendah yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya itu membuat semua sahabat yang menyaksikan menahan napas kaget.

"Aku memohon maaf padamu, Tera," tutur Arka tulus. Suaranya bergetar hebat, membawa bobot penyesalan yang selama ini menghimpit dadanya. "Maafkan kebodohanku yang membiarkan kesalahpahaman kecil ini membesar dan merusak kepercayaan di antara kita."

Tera terperanjat. "Arka, apa yang kau lakukan? Berdirilah!"

"Tidak sebelum aku menuntaskan semua ini," tegas Arka seraya menatap lurus ke dalam iris mata Tera. "Aku terlalu bodoh karena berasumsi kau akan mengerti tanpa aku perlu menjelaskan secara jujur. Aku membiarkan egoku merasa tersinggung ketika kau memasang dinding es itu, padahal akulah yang melukaimu terlebih dahulu dengan ketidakterbukaanku."

"Arka, cukuplah..." bisik Tera, tangannya mulai gemetar hebat.

"Aku membiarkan wanita utusan itu datang tanpa memberitahumu secara langsung," lanjut Arka tanpa ragu. "Aku membiarkanmu menangkap bayangan keraguan sendirian di tengah kegelapan. Kebodohanku itu telah membuat kelompok ini terpecah, membuatmu menderita dalam kesendirian, dan hampir saja menghancurkan kita semua di hadapan musuh."

Danu menyapu air mata tipis di sudut matanya seraya berbisik pelan pada Rhea, "Aku tak pernah melihat Arka serendah hati ini..."

"Dia menyadari kesalahannya, Danu," balas Rhea seraya tersenyum haru. "Dia akhirnya berani menghadapi ketakutan terbesarnya."

Arka meraih ujung kain jubah Tera yang berdebu dengan lembut. "Jika kau ingin membenciku, bencilah aku, Tera. Namun tolong, jangan biarkan rasa curiga ini merenggut ikatan yang telah kita tempa bersama darah dan air mata. Aku membutuhkanmu. Kami semua membutuhkanmu."

Lihat selengkapnya