KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Kelahiran Jurus Teratai Kembar

Langit malam di atas bukit Perguruan Angin Sejuk membeku dalam kegelapan yang mencekam. Bau hangus dan aroma tembaga membanjiri udara pagi yang dingin, saksi bisu dari gempuran tanpa henti yang dilancarkan oleh pasukan Golongan Hitam. Di garis batas terdepan, di antara reruntuhan gerbang kayu yang telah hancur menjadi arang, Arka dan Tera berdiri berdampingan. Tidak ada lagi jarak satu jengkal pun di antara mereka. Racun prasangka dan intrik musuh yang sempat memisahkan jiwa mereka kini telah sirna, terbakar habis oleh kejujuran yang terucap di tengah ancaman maut.

"Kau siap, Tera?" panggil Arka halus. Suaranya tidak lagi menyembunyikan cemas, melainkan mengalun tenang seperti embun pagi yang menetes di atas daun.

Tera menoleh pelan, menatap Arka dengan manik mata yang kini memancarkan kejernihan mutlak. Tidak ada lagi benteng es yang kaku, tidak ada lagi ketakutan akan luka masa lalu. "Sejak awal, aku seharusnya tidak pernah meragukan langkahmu, Arka."

Di hadapan mereka, berjarak tak lebih dari lima puluh langkah, puluhan ksatria lapis baja Naga Emas bersama Tiga Tetua Pembantai berdiri menatap dengan tatapan meremehkan. Senjata-senjata bertuah mereka terpancar hawa membunuh yang pekat.

"Kalian berdua hanya membuang-buang waktu!" teriak Tetua Pertama Naga Emas dengan suara menggelegar, mengangkat pedang besarnya yang membara merah. "Dua anak kemarin sore tidak akan sanggup menahan gempuran seluruh kekuatan kami!"

Arka tidak membalas gertakan itu dengan kata-kata. Ia memiringkan tubuhnya, mengulurkan tangan kirinya ke samping. Pada saat yang sama, Tera mengulurkan tangan kanannya. Jari-jemari mereka saling bertaut erat, mengunci genggaman di udara malam yang dingin.

"Biarkan energimu mengalir, Tera," bisik Arka, memejamkan matanya seraya mengatur irama napas. "Jangan ditahan, jangan pula dipaksa."

"Aku menyatu denganku, Arka," balas Tera lembut, membiarkan seluruh perasaannya pasrah dalam dekapan hawa murni di sebelahnya.

Seketika, gelombang kehangatan Angin Sejuk dari tubuh Arka menyerap masuk ke dalam meridian Tera, sementara ketajaman Hawa Es Abadi dari Tera merayap halus mengaliri pembuluh darah Arka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kedua perguruan, dua aliran energi yang bertolak belakang itu tidak lagi saling menolak atau meremukkan. Sekat keraguan di antara jiwa mereka telah runtuh sepenuhnya, melahirkan penyelarasan murni yang utuh dan tanpa cela.

❖ ❖ ❖

Genggaman tangan Arka dan Tera mulai memancarkan pendar cahaya halus yang menembus kegelapan malam. Aliran tenaga dalam dari kedua ksatria muda itu meluncur deras, berputar mengelilingi tubuh mereka seperti pusaran angin surgawi.

"Lihat itu!" seru Damar dari balik barikade pertahanan belakang, matanya membelalak takjub. "Energikalian... mereka tidak berbenturan!"

"Luar biasa," bisik Sari seraya menahan napas. "Hawa panas Kak Arka dan hawa dingin Mbak Tera... mereka saling melengkapi!"

Pendar cahaya merah keemasan yang hangat milik Arka mulai menjalin erat pendar cahaya putih kebiruan milik Tera. Kedua warna itu tidak lagi saling menghancurkan, melainkan berputar secara sinkron dalam irama yang sama persis. Pusaran cahaya putih dan keemasan itu membubung tinggi ke udara, menerangi malam pekat di atas bukit perguruan bagaikan munculnya matahari kedua di tengah kegelapan.

"Apa yang dilakukan dua bocah itu?!" geram Tetua Kedua Naga Emas, matanya menyipit silau melihat pusaran energi yang kian membesar. "Gempur mereka sekarang! Jangan biarkan mereka menyelesaikan jurusnya!"

Pasukan lapis baja Naga Emas bergerak serentak, menjejakkan kaki mereka ke tanah seraya menghujankan puluhan tombak dan sabetan pedang bertenaga dalam tinggi. Namun, sebelum serangan itu sempat menyentuh Arka dan Tera, pusaran cahaya putih dan keemasan di sekeliling mereka membesar secara mendadak, membentuk perisai tak terlihat yang memantulkan seluruh senjata musuh hingga hancur berkeping-keping di udara.

Lihat selengkapnya