KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Kehancuran Pos Terdepan Musuh

Malam di Lembah Hitam seharusnya menjadi malam yang sunyi dan damai, namun ketegangan yang membara di udara mengubah segalanya menjadi arena penentuan. Di atas bukit karang yang menghadap langsung ke arah pos terdepan musuh, Arka dan Tera berdiri berdampingan dengan napas teratur. Di hadapan mereka, benteng pertahanan Golongan Hitam berdiri kokoh dengan puluhan obor menyala terang, dikelilingi oleh barikade kayu runcing dan pagar batu setinggi dua meter. Ini adalah markas operasional terdepan mereka, pusat dari segala ancaman yang selama ini meresahkan warga desa.

"Apakah kau sudah siap, Tera?" tanya Arka pelan, melirik sekilas ke arah gadis berkerudung putih di sampingnya.

Tera tidak menoleh, matanya tajam menatap gerbang musuh di bawah sana. "Jangan banyak bicara, Arka. Konsentrasikan seluruh tenaga dalammu pada titik pusat formasi, atau kita berdua akan hancur oleh pantulan energi kita sendiri."

"Aku tahu," jawab Arka singkat, tersenyum tipis di tengah ketegangan yang mencekam. "Mari kita akhiri malam ini dengan cara yang paling berkesan bagi mereka."

Keduanya mengangkat kedua tangan secara bersamaan, membiarkan aliran chi mengalir deras dari telapak tangan mereka dan berpadu sempurna dalam keharmonisan yang baru saja mereka temukan. Sinar keperakan menyilaukan berpendar terang di antara mereka, membentuk siluet dua kuntum bunga teratai raksasa yang berputar kencang. Dengan sebuah teriakan lantang yang menggema ke seluruh penjuru lembah, mereka melancarkan Jurus Teratai Kembar secara serentak ke arah pos terdepan musuh.

BARRR!

Hantaman Jurus Teratai Kembar itu meledak dengan daya ledak yang begitu dahsyat, menciptakan suara gemuruh yang menggelegar hebat hingga menggetarkan seluruh permukaan tanah di lembah tersebut. Gelombang energi spiritual berukuran besar meluncur deras bagai meteor jatuh, menyapu segala sesuatu yang menghalangi jalurnya tanpa ampun.

❖ ❖ ❖

Gelombang kejutan yang dihasilkan oleh ledakan awal itu bergerak melingkar dengan kecepatan kilat, menghantam barikade kayu dan batu yang dibangun oleh Golongan Hitam dengan susah payah. Kayu-kayu jati tebal yang dijadikan pagar pertahanan hancur berkeping-keping dalam sekejap mata, terlempar ke udara menjadi serpihan kecil yang berhamburan.

"Lindungi benteng!" teriak salah seorang komandan penjaga musuh dengan suara panik, berusaha mengerahkan anak buahnya untuk memperkuat pertahanan.

Namun, teriakan itu terlambat. Hantaman energi dari Jurus Teratai Kembar tidak mengenal ampun. Batu-batu besar yang ditata rapi sebagai fondasi pos terdepan retak bercelah sebelum akhirnya runtuh berantakan dihantam badai energi spiritual. Debu dan pasir mengepul tebal menutupi langit malam, menciptakan kabut kelam yang membatasi jarak pandang siapa pun yang berada di sekitar area tersebut.

"Luar biasa..." gumam Bayu dari kejauhan, menyaksikan kehancuran barikade musuh dengan mata terbelalak kagum. "Daya rusak jurus itu benar-benar di luar nalar."

"Mereka akhirnya berhasil menyatukan elemen angin dan es dengan sempurna," sahut Kirana di sampingnya, menghela napas lega melihat kekuatan dahsyat yang baru saja dilepaskan oleh Arka dan Tera.

Lihat selengkapnya