Desir angin malam membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa bau mesiu yang mulai memudar di sela-sela pepohonan hutan rimba. Setelah pertempuran panjang yang menguras tenaga dan air mata, keheningan akhirnya merayap kembali ke area lembah. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus kanopi daun yang lebat, Arka berdiri tegak mengawasi keadaan sekitar, memastikan bahwa tidak ada lagi bayangan musuh yang mengintai atau jejak kaki yang mencurigakan di kejauhan.
"Bagaimana situasi di batas timur, Arka?" tanya Dimas dengan suara berat, napasnya masih sedikit memburu akibat sisa-sisa kelelahan pertempuran.
Arka menurunkan pandangannya dari puncak pohon tempatnya memantau, lalu melompat turun tanpa suara mendarat di atas tanah berlumpur. "Aman, Dimas. Pasukan bayangan musuh telah mundur jauh ke arah utara. Sepertinya kerugian yang kita timpakan pada mereka cukup besar untuk membuat mereka berpikir dua kali sebelum kembali mengejar kita."
Mendengar laporan itu, kecemasan yang sempat mencengkeram dada para anggota kelompok sedikit mereda. Namun, situasi belum sepenuhnya terkendali. Di atas dua tandu darurat yang terbuat dari dahan-dahan kuat dan jubah pertempuran, Fathan dan Galin terbaring lemah dengan kondisi fisik yang memprihatinkan. Luka-luka menganga akibat sisan tebasan pedang musuh masih mengeluarkan darah segar, menuntut tindakan evakuasi yang cepat dan tanpa penundaan.
"Kita tidak boleh tinggal lebih lama di tempat terbuka ini," seru Tera yang datang mendekat, wajah anggunnya tampak tegang meski nadanya tetap dingin dan terkendali. "Luka Fathan dan Galin sudah terlalu parah. Jika kita tidak segera menemukan tempat perlindungan yang layak, racun dari senjata musuh akan menyebar ke seluruh tubuh mereka."
"Tera benar," timpal Zahra yang berlari kecil menghampiri tandu Fathan sambil membawa kain bersih dan ramuan penahan nyeri. "Denyut nadi Fathan semakin melemah, dan Galin kehilangan terlalu banyak darah. Kita harus segera bergerak sekarang juga."
Kelompok tersebut langsung bergerak dalam koordinasi yang solid. Meskipun sebagian besar dari mereka juga mengalami luka ringan dan kelelahan mental yang luar biasa, tekad untuk menyelamatkan rekan-rekan mereka menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan langkah kaki mereka menyusuri tepian tebing yang curam dan gelap gulita.
❖ ❖ ❖
Perjalanan menyusuri hutan di tengah malam buta bukanlah hal yang mudah, terutama dengan membawa dua orang yang terluka parah. Untungnya, Yafid yang bertindak sebagai pengarah jalan memiliki pengamatan yang sangat tajam terhadap pola alam dan aliran energi di sekitar hutan terlarang itu. Ia memimpin barisan dengan cermat, menepis ranting-ranting berduri yang menghalangi jalan.
"Ikuti aku, jangan sampai ada yang tertinggal!" seru Yafid sambil menunjuk ke arah celah dinding tebing batu yang tertutup oleh tirai air terjun besar.
Arka dan Dimas yang memikul tandu Fathan mempercepat langkah mereka, menerobos derasnya cipratan air yang jatuh dari ketinggian puluhan meter. Di balik gemuruh air terjun tersebut, ternyata terdapat sebuah lorong rahasia yang mengarah langsung ke dalam perut bumi. Yafid menyalakan obor kecil dari batu api yang dibawanya, menerangi jalan setapak berbatu yang kering dan terlindung dari dunia luar.
"Masuklah ke dalam," kata Yafid begitu mereka tiba di sebuah rongga gua yang cukup luas dan terisolasi. "Tempat ini memiliki aura pelindung alami dari formasi bebatuan purba. Energi luar tidak akan bisa mendeteksi keberadaan kita di sini."
Begitu seluruh anggota kelompok berhasil masuk, Chafia langsung menutup pintu masuk gua dengan beberapa batu besar untuk menyamarkan keberadaan mereka. Suasana di dalam gua terasa jauh lebih tenang, terlindung sepenuhnya dari terpaan angin malam dan dinginnya udara hutan luar. Cahaya temaram dari obor obor kecil yang dipasang di dinding gua memperlihatkan relief alami batu yang tampak megah dan menenangkan.
"Letakkan mereka di sini, di atas tumpukan jubah yang kering," instruksi Zahra sigap, langsung mengambil alih komando medis begitu tandu diturunkan dengan hati-hati.
Meskipun kelelahan merongrong tubuh setiap anggota kelompok, kelegaan terpancar di wajah mereka karena berhasil menemukan tempat persembunyian yang aman dan terisolasi dari kejaran musuh. Yafid menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada dinding gua yang dingin sembari menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya.