KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #46

Langkah Menuju Jantung Kegelapan

Suasana di dalam gua tersembunyi itu terasa jauh lebih hangat dibandingkan malam-malam sebelumnya. Di sudut ruangan yang diterangi oleh nyala api unggun kecil, Fathan tampak duduk bersila sambil mengatur pernapasan. Luka di dadanya sudah mulai menutup berkat ramuan obat leluhur yang diracik khusus oleh Tera. Di sebelah Fathan, Galin meregangkan otot-otot lengannya perlahan, mencoba merasakan kembali aliran tenaga dalam yang sempat surut drastis akibat hantaman tenaga hitam musuh di pos terdepan.

Arka berdiri di tengah-tengah gua, menatap satu per satu wajah rekan-rekan seperjuangannya yang kini telah pulih dan duduk melingkar mengelilingi api unggun. Wajah Arka tampak tenang, tetapi sorot matanya menyiratkan ketegasan yang tidak bisa ditawar lagi.

"Kondisi kalian berdua sudah berangsur pulih, Fathan, Galin. Ini kabar baik yang sudah kita tunggu-tunggu," ujar Arka membuka percumbuan dengan suara berat yang memecah keheningan gua.

Fathan mengangguk kecil, lalu mengangkat tangan kanannya untuk menguji kekuatan genggamannya. "Terima kasih atas bantuan ramuanmu, Tera. Rasanya energiku sudah kembali sekitar delapan puluh persen. Aku sudah siap memegang pedang lagi."

"Jangan terlalu memaksakan diri dulu, Fathan. Tulang iga kirimu baru saja pulih dari retak parah," sela Tera dengan nada memperingatkan, meski ia tersenyum tipis melihat semangat sang kawan.

Arka melangkah maju selangkah, menatap lurus ke arah seluruh anggota kelompok dengan pandangan tajam penuh wibawa. "Kita tidak punya waktu lagi untuk berlama-lama memulihkan diri di tempat persembunyian ini. Musuh tahu kita ada di wilayah ini, dan mereka sedang menyusun kekuatan besar untuk memburu kita."

Galin mengerutkan keningnya, menatap Arka dengan rasa penasaran yang mendalam. "Lalu, apa rencana selanjutnya, Arka? Apakah kita akan berpindah tempat persembunyian lagi ke lembah sebelah?"

Arka menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menghembuskan napas panjang sebelum mengumumkan kalimat yang membuat seluruh isi gua tertegun seketika. "Tidak. Kita tidak akan lari lagi. Keputusan besar telah kuambil: kita akan menyerang langsung ke wilayah kekuasaan utama Golongan Hitam di Jantung Kegelapan."

Suasana di dalam gua mendadak menjadi senyap. Nyala api unggun yang berderik kecil terdengar begitu nyaring di telinga, seolah-olah menegaskan betapa nekatnya keputusan yang baru saja diucapkan oleh sang pemimpin.

❖ ❖ ❖

Keheningan itu pecah oleh suara dengusan napas berat dari beberapa anggota kelompok yang langsung merasa terkejut luar biasa. Sebagian anggota sempat tertegun mendengar keputusan nekat tersebut, mengingat kekuatan musuh baru saja mereka rasakan sendiri di pos terdepan beberapa hari yang lalu, di mana mereka hampir kehilangan nyawa dan nyaris tercerai-berai.

"Menyerang langsung ke markas utama mereka? Arka, apakah kau sudah kehilangan akal sehat?" seru seorang pendekar muda dari barisan belakang sambil berdiri secara mendadak. "Kita baru saja babak belur menghadapi pasukan penjaga terdepan mereka! Bagaimana mungkin kita bisa menembus jantung pertahanan utama yang dijaga oleh para tetua sesat tingkat tinggi?"

"Dia benar, Arka," timpal pendekar lainnya dengan nada cemas yang nyata terpancar dari wajahnya. "Pasukan inti Golongan Hitam terkenal sangat kejam dan memiliki formasi tempur yang tidak bisa ditembus dengan kekuatan fisik biasa. Itu sama saja dengan berjalan sukarela menuju lubang macan."

Arka tidak langsung marah mendengar reaksi spontan dari rekan-rekannya. Ia membiarkan kepanikan kecil itu mereda dengan sendirinya, lalu menatap mereka satu persatu dengan penuh ketenangan.

"Aku sangat paham kekhawatiran kalian," jawab Arka dengan suara tenang namun tegas. "Kekuatan mereka memang besar, dan pos terdepan kemarin adalah bukti nyata dari kebiadaban mereka. Tetapi ingatlah, kekalahan kemarin terjadi karena kita disergap dalam kondisi terpecah dan tidak siap."

Lihat selengkapnya