Malam semakin larut, membawa serta kepekatan yang menelan seluruh lanskap di sekitar perbatasan wilayah musuh. Di bawah naungan langit tanpa bintang, Azalia dan Risha tiba terlebih dahulu di depan gerbang utama benteng musuh yang dijaga ketat oleh empat pendekar bayaran Golongan Hitam. Benteng itu berdiri kokoh bagaikan raksasa hitam yang mencakar langit, dikelilingi oleh dinding batu setinggi sepuluh meter yang memancarkan aura ancaman. Suara angin malam berdesir pelan menerpa dedaunan kering, menyamarkan setiap langkah kaki yang diayunkan oleh kedua penyusup wanita tersebut ke dalam area terlarang itu.
Azalia menghentikan langkahnya di balik rumpun semak belukar yang lebat, memberi isyarat tangan kepada Risha untuk ikut berjongkok. Matanya menatap tajam ke arah gerbang kayu jati raksasa yang diperkuat dengan kerangka besi tempa di hadapan mereka. "Kita harus bergerak sangat hati-hati, Risha. Penjagaan di gerbang utama ini jauh lebih ketat dari perkiraan awal kita berdasarkan peta lama," bisik Azalia pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara desau angin.
Risha merapikan jubah penyamarannya, jemarinya perlahan menyentuh gagang belati kembar yang terselip di balik pinggangnya. "Aku melihatnya, Azalia. Mereka tidak berdiri sembarangan; formasi penjagaan itu dirancang untuk saling menutupi titik buta satu sama lain," balas Risha dengan nada tenang namun penuh konsentrasi tinggi.
Dua penjaga berdiri tegak dengan tombak bermata ganda yang bersiaga penuh di sisi kiri dan kanan gerbang, sementara dua penjaga lainnya mengawasi area sekitar menggunakan obor bernyala terang yang memancarkan cahaya kekuningan ke seluruh pelataran depan benteng. Setiap beberapa detik, obor-obor itu diayunkan perlahan untuk memindai setiap jengkal area gelap di luar tembok pertahanan.
"Jika kita salah melangkah sepersekian detik saja, cahaya obor itu akan langsung mengungkap posisi persembunyian kita," ujar Azalia sambil mengeluarkan tiga batang jarum perak beracun dari kantong khusus di lengan bajunya. Jarum-jarum itu berkilau tipis memantulkan sisa cahaya bulan yang terhalang awan tebal.
Risha mengangguk paham, matanya terus mengawasi pola pergerakan dua penjaga yang memegang obor. "Bagaimana pembagian tugas kita? Kau urus bagian kiri, atau biarkan aku yang melumpuhkan mereka yang memegang obor?" tanya Risha meminta kepastian strategi singkat sebelum mereka mulai bergerak.
"Aku akan membungkam dua penjaga yang berdiri di dekat tiang gerbang utama, sedangkan kau bersiap menangani dua pengawas obor begitu mereka mengalihkan pandangan ke arah lain," jelas Azalia cepat namun terperinci. "Pastikan tidak ada satupun dari mereka yang sempat menarik tali lonceng peringatan di samping pintu."
❖ ❖ ❖
Situasi di depan gerbang mulai memasuki fase paling kritis ketika kedua pengawas obor bergeser ke arah sisi timur pelataran, membelakangi posisi persembunyian Azalia. Memanfaatkan kegelapan dan bayangan menembok yang tercipta dari arsitektur benteng, Azalia melemparkan jarum lumpuh beracun secara simultan dengan presisi tingkat tinggi. Jarum-jarum perak itu meluncur membelah udara malam bagaikan kilatan bayangan tak kasat mata, meluncur lurus menuju sasaran empuk di hadapan mereka tanpa menimbulkan suara desiran angin sedikit pun.
Tus! Tus!