KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #50

Jalan Keluar di Dinding Timur

Malam semakin larut, menyelimuti reruntuhan benteng pertahanan dengan jubah kelam yang pekat dan menyesakkan. Di balik bayang-bayang menara pengawas yang telah runtuh sebagian, udara terasa dingin berbau debu dan mesiu sisa pertempuran. Fathan dan Galin bergerak cepat menuju dinding timur benteng yang berbatu terjal dan luput dari perhatian patroli musuh. Langkah kaki mereka diredam oleh tebalnya lumut yang menutupi tanah, menghindari setiap serpihan batu kerikil yang berpotensi menghasilkan suara bising di tengah keheningan malam yang rapuh.

"Pastikan tidak ada obor musuh yang mengarah ke sektor ini," bisik Fathan dengan suara sangat rendah, matanya awas memindai kegelapan di atas dinding batu.

Galin mengangguk singkat, menyeka sisa darah kering di pelipisnya sambil meraba permukaan dinding yang kasar dan dingin. "Sektor ini benar-benar mati, Fathan. Tidak ada prajurit yang sudi berpatroli di tebing curam ini karena mereka menganggap tidak ada makhluk waras yang bisa memanjatnya."

"Justru di situlah letak keuntungan kita," jawab Fathan tegas, meraih linggis kecil dari balik jubahnya. "Jika kita bisa membuka celah di sini, kita punya jalur evakuasi sebelum fajar menyingsing."

"Tapi kondisimu..." Galin melirik ragu ke arah rusuk Fathan yang masih dibalut kain perban tebal. "Luka tusukmu belum sepenuhnya menutup."

"Luka ini bisa menunggu, Galin. Tapi nyawa rekan-rekan kita di dalam tidak bisa menunggu lebih lama lagi," potong Fathan tanpa keraguan di wajahnya. Ia mulai menempatkan ujung linggis besi ke celah batu fondasi yang tampak rapuh.

Galin mendengus pasrah, lalu merapatkan posisinya di sebelah Fathan untuk mengamankan keadaan sekitar. "Baiklah, kalau kau bersikeras, aku akan menutupi punggungmu dari pengawas menara."

❖ ❖ ❖

Meski luka mereka belum pulih seratus persen, keduanya mengerahkan tenaga dalam untuk mencongkel batu fondasi dinding yang rapuh. Napas Fathan mulai memburu, memompa udara ke dalam paru-parunya yang terasa terbakar setiap kali ia mengerahkan dorongan otot lengan dan dadanya secara bersamaan.

"Tahan sebentar, Galin. Bantu aku menekan titik tumpu di sebelah kiri bawah," perintah Fathan tertahan, urat-urat di lehernya menegang menahan beban tekanan linggis besi.

Galin segera menempatkan kedua tangannya di atas batu besar yang menjadi fondasi utama dinding tersebut, mengerahkan sisa tenaga dalam yang dimilikinya untuk membantu Fathan mengungkit struktur bangunan tua itu.

"Aku dorong pada hitungan ketiga," bisik Galin dengan gigi Gemeletuk menahan perih di bahunya. "Satu... dua... tiga!"

Suara hantaman otot dan desis napas berat berpadu dalam keheningan malam. Batu fondasi yang tadinya kokoh mulai bergeser perlahan, menghasilkan suara decitan ngilu dari gesekan antar-batuan tua yang telah tertanam selama puluhan tahun.

"Sedikit lagi!" seru Fathan, matanya membelalak lebar melihat celah kecil mulai terbentuk di balik dinding batu tersebut.

Namun, di tengah perjuangan keras itu, rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menghantam dada Fathan, membuat tenaganya sempat surut seketika. Ia terbatuk kecil, mengeluarkan setitik darah segar dari sudut bibirnya.

"Fathan! Kau baik-baik saja?" tanya Galin cemas, melirik sekilas ke arah rekannya sambil terus menahan beban batu yang hampir lepas.

"Aku tidak apa-apa... terus dorong!" balas Fathan, memaksakan kembali seluruh sisa energinya untuk menekan linggis besi tersebut lebih dalam ke celah batu.

Lihat selengkapnya