KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Misi Rahasia di Ruang Arsip

Desir angin malam yang dingin berembus melewati celah-celah batu karang di benteng pertahanan musuh, membawa serta bau mesiu dan kelembapan malam yang menusuk tulang. Di atas dinding batu yang tinggi menjulang, Arka dan Tera bergerak tanpa suara bagaikan dua bayangan malam yang menyatu dengan pekatnya kegelapan. Dengan cengkeraman tangan yang kuat pada tepi besi teralis, Arka mendahului masuk melalui lubang ventilasi udara yang sempit, disusul dengan lincah oleh Tera tepat di belakangnya. Keduanya merayap melintasi lorong logam yang berdebu tebal sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke bawah dengan mulus, mendarat tanpa suara di atas lantai batu marmer yang terasa dingin mencengkeram telapak kaki mereka di dalam ruang arsip rahasia benteng musuh.

"Kita berhasil masuk," bisik Arka pelan, matanya menyapu sekeliling ruangan yang gelap gulita dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Tera mengangguk samar, merapikan letak sarung pedangnya agar tidak menimbulkan suara gemerincing yang dapat memecah keheningan. "Tempat ini terasa begitu sunyi, Arka. Terlalu sunyi untuk ukuran ruang arsip utama sebuah markas pasukan elit."

"Itu karena tidak sembarangan orang diizinkan menginjakkan kaki di tempat ini," jawab Arka sambil meraba dinding batu untuk mencari sumber penerangan atau saklar obor dinding. "Ruang arsip ini menyimpan rahasia terbesar dari seluruh operasi Golongan Hitam, termasuk dokumen asli mengenai kutukan yang menghancurkan lembah kita."

Suasana di dalam ruangan tersebut benar-benar tertutup dari dunia luar. Hanya ada aroma debu tua dan kertas perkamen usang yang mendominasi udara, menciptakan atmosfer kuno yang seolah menekan dada siapa saja yang menghirupnya. Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, keduanya mulai menyusuri barisan rak-rak tinggi yang menjulang hingga menyentuh langit-langit ruangan, bersiap memulai misi penyusupan paling berbahaya dalam hidup mereka demi menemukan gulungan penawar yang selama ini disembunyikan.

❖ ❖ ❖

Begitu mata mereka mulai terbiasa dengan remang-remang cahaya malam yang menembus celah ventilasi atas, pemandangan di hadapan Arka dan Tera sungguh mencengangkan sekaligus mengerikan. Ribuan gulungan naskah kuno, kitab-kitab terlarang dengan sampul kulit hitam legam, serta tumpukan dokumen rahasia tersusun sangat rapi di atas rak-rak kayu jati tua yang memanjang di setiap sisi ruangan. Namun, bukan hanya jumlah naskah itu yang membuat bulu kuduk mereka meremang, melainkan aura mistis yang pekat dan mencekam menguar dari setiap rak penyimpanan tersebut.

"Lihat ukiran di sudut rak itu, Tera," bisik Arka sambil menunjuk ke arah pilar kayu berukir simbol teratai hitam yang memancarkan pendar cahaya tipis berwarna keunguan. "Itu bukan sekadar dekorasi. Itu adalah meterai segel spiritual untuk melindungi dokumen di dalamnya dari penyusup."

Tera mendekat perlahan, merasakan gelombang energi dingin berdesir di kulit tangannya setiap kali ia mendekatkan jari ke arah gulungan naskah. "Aura tempat ini terasa menolak kehadiran kita, Arka. Rasanya seperti ada ribuan mata tak kasat mata yang sedang mengawasi setiap gerak-gerik kita dari balik kegelapan rak-rak ini."

"Jangan biarkan ketakutan menguasai pikiranmu," ucap Arka dengan nada tegas namun tenang, mencoba menenangkan debar jantung partnernya. "Kita tidak punya waktu untuk terpengaruh oleh ilusi mistis mereka. Fokus kita hanya satu: mencari dokumen penawar sebelum para penjaga benteng menyadari kehadiran kita di sini."

Keduanya berdiri di antara labirin rak-rak arsip raksasa yang tampak tak berujung. Setiap gulungan naskah di tempat itu menyimpan rahasia gelap dunia persilatan, catatan pembantaian, serta formula racun mematikan yang digunakan oleh Golongan Hitam selama bertahun-tahun. Menemukan satu lembar petunjuk penawar di antara lautan naskah terkutuk ini bagaikan mencari sebutir jarum di dalam tumpukan jerami yang luas.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya