Debu tebal berumur ratusan tahun membubung tipis tatkala Arka menyapu permukaan kotak besi berukiran naga melingkar. Kotak itu terletak di atas pilar batu hitam di sudut paling tersembunyi ruang arsip bawah tanah Lembah Sunyi. Di sekeliling mereka, rak-rak kayu jati purba yang sarat dengan gulungan kertas rahasia berdiri membisu. Tera melangkah mendekat, matanya memancarkan kecemasan yang teramat sangat seraya memegang erat tangkai busurnya.
"Kau yakin ini kotak yang kita cari, Arka?" bisik Tera pelan, matanya tetap waspada mengawasi sudut-sudut ruangan yang remang.
"Bentuk dan ukirannya sama persis dengan petunjuk dalam buku rahasia, Tera," sahut Arka yakin. Jemarinya yang gemetar mulai meraba selot pengunci berujung tembaga. "Di dalam kotak ini tersimpan peta rahasia inti markas Golongan Hitam. Kita harus mengambilnya."
"Tunggu, Arka!" tegur Tera seraya menahan pergelangan tangan pemuda itu. "Apakah kau tidak merasakan hawa aneh pada pilar batu ini? Lantai di bawah telapak kaki kita terasa terlalu kaku."
Arka terdiam sejenak, menatap mata Tera yang berkaca-kaca dipantuli cahaya obor. "Kita tidak punya banyak waktu, Tera. Pasukan musuh bisa menembus gerbang atas kapan saja. Kita harus mengambil risiko ini."
"Tapi rasanya ada yang salah—" kalimat Tera terputus.
Klak!
Dengan satu sentakan terukur, Arka berhasil memutar kait tembaga dan mengangkat penutup kotak besi tersebut. Namun, bukan gulungan peta yang mereka temukan di dalamnya, melainkan sebuah kumparan roda gigi kecil yang berputar kencang disertai bunyi dentang logam yang nyaring.
Kringgg! Dentang!
"Ini jebakan!" jerit Tera panik.
Kotak besi yang dibuka Arka ternyata memicu mekanisme jebakan kuno, mengaktifkan segel rahasia yang tersembunyi di dalam dinding. Seketika itu pula, suara gemuruh hebat bergema menembus kedalaman batu purba. Pintu batu raksasa yang menjadi satu-satunya akses keluar dari ruang arsip bergeser jatuh dengan kecepatan luar biasa.
Brakkk!
Debu membubung tinggi saat pintu batu menghantam lantai, mengunci rapat seluruh celah keluar. Ruang arsip yang sempit itu kini berubah menjadi penjara batu yang kedap udara.
"Pintu keluar tertutup rapat!" seru Arka seraya berlari menghantamkan bahunya ke pintu batu tersebut. Namun, dinding batu setebal tiga jengkal itu sama sekali tidak bergeming. "Sialan, segel mekanis ini mengunci dari luar!"
"Arka, lihat ke atas!" panggil Tera dengan suara gemetar, menunjuk ke arah celah-celah ukiran di atap ruangan.
Dari balik lubang-lubang kecil di langit-langit batu, embusan angin aneh mulai terdengar berdesis pelan.
❖ ❖ ❖
Hsssss!
Suara desisan itu kian nyaring membelah keheningan ruang arsip yang terisolasi. Dari celah-celah ukiran atap batu, kepulan asap hijau beracun yang pekat mulai meledak keluar, mengalir turun bagaikan air terjun kabut yang mematikan. Asap itu menyebar dengan sangat cepat, memenuhi setiap jengkal ruangan sempit tersebut.
"Tutup hidungmu, Tera!" teriak Arka seraya menarik kain jubahnya untuk menutupi wajah. "Jangan hirup udara itu!"
Tera mengangguk cepat, menyobek sebagian kain lengannya dan mengikatkannya erat-erat mengelilingi hidung dan mulutnya. Namun, konsentrasi gas beracun itu terlalu pekat. Dalam hitungan detik, hawa panas menusuk mulai menembus pori-pori kulit mereka.
"Uhukk! Uhukk!" Tera terbatuk hebat saat sedikit asap hijau terhirup olehnya. "Arka... racun ini... rasa membakar!"
Dada Arka terasa dihantam cengkeraman besi raksasa. Paru-parunya mendadak serasa terbakar hebat, membuat setiap helaan napas menjadi penderitaan yang tak tertahankan. Pandangannya mulai buram diselimuti kabut hijau pekat yang kian tebal.
"Racun ini melapisi udara, Tera!" panggil Arka dengan suara parau yang hampir tak terdengar. "Kita harus mencari celah udara atau tombol pembuka!"