KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #53

Penawar dari Luar Benteng

Rumpun semak berduri di tepi bukit belakang Benteng Naga Emas bergetar pelan diterpa angin malam. Udara terhirup kaku, membawa aroma belerang dan besi berkarat dari dinding luar benteng batu yang membentang kokoh. Di balik naungan pohon cemara tua, dua sosok perempuan tenggelam dalam konsentrasi mutlak. Zahra memegangi kompas kristal berbingkai perak, sementara Chafia berjongkok di sampingnya dengan tangan bersedekap, matanya tak lepas menatap pendar pirus di tengah permukaan kristal.

"Bagaimana pergerakan mereka di dalam, Zahra?" bisik Chafia, suaranya sangat serendah gesekan daun kering.

Zahra memiringkan kristal pelacak di telapak tangannya. Pendar pirus yang tadinya menyala stabil kini mulai berkedip melambat, memancarkan denyut redup yang kian melemah. "Sinyal Arka dan Tera melintasi kedalaman lantai tiga labirin bawah tanah. Tapi... perhatikan denyutnya, Chafia."

Chafia mencondongkan tubuhnya ke depan. Manik matanya membesar saat menyaksikan kilau pirus itu mendadak berubah warna menjadi keunguan yang keruh dan pecah-pecah. "Denyutnya melemah drastis. Ritmenya tidak beraturan!"

"Ini bukan sekadar kelelahan akibat pertarungan," ujar Zahra, jemarinya yang lentik gemetar tipis saat menyentuh tepi kristal. "Fluktuasi ini sangat lambat dan menekan. Sesuatu sedang melumpuhkan aliran darah dan meridian mereka dari dalam."

"Apakah mereka terkepung oleh pasukan lapis baja?" tanya Chafia, tangannya secara refleks bergerak mendekati tangkai belati di pinggangnya.

"Bukan," bisik Zahra menggelengkan kepala. Matanya menatap tajam ke arah ventilasi besi yang mencuat dari dasar tembok luar benteng. "Jika mereka terkepung serangan fisik, sinyal kristal akan bergetar cepat dan memancar tajam. Ini adalah tekanan halus yang menyerap kesadaran. Mereka terjebak dalam ruang tertutup."

"Jangan bilang..." Chafia menelan ludah, firasat buruk seketika menghimpit dadanya.

"Racun," potong Zahra dengan nada tegar namun sarat kecemasan. "Mereka telah memicu jebakan tak terlihat di dalam labirin bawah tanah itu."

❖ ❖ ❖

Zahra menarik kompas kristal lebih dekat ke matanya, mengamati guratan merah tipis yang merayap di sekeliling pendar keunguan. Keringat dingin merembes di pelipis tabib muda itu.

"Ini bukan racun biasa yang dijual di pasar gelap," kata Zahra, suaranya memberat oleh beban pengetahuan medisnya. "Racun ini adalah Napas Mamba Merah—gas beracun tingkat tinggi buatan laboratorium khusus Golongan Hitam."

"Napas Mamba Merah?" Chafia menoleh kaget. "Bukankah itu racun gas yang melumpuhkan syaraf dan menghentikan detak jantung dalam hitungan menit?"

"Benar," jawab Zahra seraya mengepalkan tangannya. "Gas itu bekerja tanpa rasa sakit pada awalnya. Korban hanya akan merasa mengantuk, lalu hawa murni di dalam tubuh mereka terikat rapat hingga tidak bisa disalurkan. Begitu hawa murni membeku, paru-paru mereka akan mencair dari dalam."

"Berapa lama waktu yang Arka dan Tera miliki?" tanya Chafia mendesak.

"Tidak lebih dari sepuluh menit sejak racun itu terhirup penuh," terang Zahra. "Melihat fluktuasi sinyal kristal ini, mereka sudah terpapar setidaknya selama lima menit. Jika kita tidak menyuntikkan penawar ke dalam pembuluh darah mereka sekarang, otak mereka akan mati sebelum sempat membakar hawa murni."

"Kita harus mendobrak masuk!" seru Chafia, hendak beranjak berdiri.

"Jangan bodoh, Chafia!" tahan Zahra seraya menarik jubah Chafia. "Lantai tiga labirin itu dilapisi dinding baja tebal. Jika kau mencoba mendobrak dari luar, kau hanya akan memicu alarm utama dan memberi waktu bagi musuh untuk menghabisi mereka lebih cepat!"

"Lalu apa rencana kita?!" desak Chafia, matanya menatap tajam pada pendar pirus yang makin samar di dalam kristal. "Kita tidak bisa hanya duduk di sini menyaksikan mereka mati perlahan!"

"Kita racik penawarnya dari luar," tegas Zahra dengan mata berbinar tekad. "Lalu kau yang akan mengantarkannya menembus benteng ini."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya