Uap putih tipis masih mengepul dari cawan tanah liat yang baru saja diminum oleh Arka dan Tera. Cairan penawar pahit getir itu perlahan-lahan merambat ke seluruh pembuluh darah, mengusir sisa-sisa kelumpuhan yang sempat mencengkeram saraf mereka setelah melewati jebakan gas beracun di labirin bawah tanah. Arka menarik napas dalam-dalam, merasakan aliran chi kembali merata di sekujur tubuhnya meski otot-ototnya masih terasa ngilu dan kaku. Di sampingnya, Tera perlahan membuka mata, mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat dingin, lalu berdiri dengan bertumpu pada dinding batu yang lembap.
"Apakah penawarnya sudah bekerja sepenuhnya pada tubuhmu?" tanya Arka pelan, melirik gadis berkerudung putih itu sambil meraba gagang pedang kayunya.
"Cukup untuk membuatku bisa kembali berdiri dan bertarung," jawab Tera dingin, suaranya masih terdengar serak namun menyiratkan ketegasan yang tidak luntur. "Tapi racun itu meninggalkan kelemahan pada sirkulasi tenaga dalam kita. Kita harus bergerak cepat sebelum musuh menyadari kita lolos."
Baru saja Tera melangkah maju menyusuri lorong batu yang suram, udara di hadapan mereka mendadak berubah dingin secara drastis. Nyala obor di dinding meredup, menyisakan keremangan yang mencekam. Dari balik kelokan koridor yang sempit dan berbatuan tajam, tiga sosok bayangan tinggi besar muncul perlahan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka mengenakan jubah abu-abu gelap dengan topeng besi utuh tanpa celah mata—hanya ada ukiran garis tipis yang memancarkan pendar energi kehitaman. Mereka adalah para pendekar elite penjaga labirin, pembunuh bayaran tingkat tinggi yang terkenal tidak pernah gagal menumpas penyusup.
"Tampaknya kalian menikmati ramuan penawar itu," suara serak dan berat terdengar menggema dari balik topeng besi sang pemimpin pendekar, memantul di dinding batu koridor yang sempit. "Sayangnya, itu adalah obat terakhir yang akan kalian rasakan di dunia ini."
Arka langsung merendahkan kuda-kuda tubuhnya, menempatkan diri di depan Tera untuk melindungi sisi buta gadis itu. "Jangan remehkan mereka, Tera. Ketiganya memiliki penguasaan tenaga dalam tingkat tinggi yang memancarkan hawa pembunuh."
"Aku tidak butuh perlindunganmu, Arka," balas Tera ketus, meski ia langsung menghunus pedangnya dan merapatkan posisinya di sebelah kiri Arka. "Konsentrasikan perhatianmu pada pimpinan di tengah. Aku akan menghadapi dua pengawal di sisi."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Arka maupun Tera untuk merundingkan strategi lanjutan, ketiga pendekar elite penjaga labirin itu bergerak serempak secara bersamaan, menerjang maju membelah sempitnya koridor batu dengan kecepatan kilat.
❖ ❖ ❖
Ruang koridor yang sempit dan berliku membuat ruang gerak Arka dan Tera sangat terbatas, memberikan keuntungan taktis yang luar biasa besar bagi para pendekar bertopeng besi. Begitu jarak di antara mereka menyusut, ketiga pendekar elite tersebut langsung menghujani keduanya dengan serangan pedang bercabang tiga yang mematikan. Bilah-bilah besi bergerigi itu melesat membelah udara, memancarkan kilau keperakan yang memantul dari cahaya obor redup di dinding.
Cring! Cring! Clang!
Suara benturan logam berderak nyaring memenuhi koridor sempit, menciptakan percikan api kecil yang berpendar di dalam kegelapan. Arka terpaksa memutar tubuhnya dengan susah payah untuk menghindari tusukan kilat yang mengarah langsung ke jantungnya. Pedang bercabang milik musuh di hadapannya bergerak sangat lincah, memanfaatkan setiap sudut dinding batu untuk memantulkan arah serangan dari berbagai sisi secara bersamaan.
"Gerakan mereka terlalu cepat untuk lorong sempit ini!" seru Arka di tengah desingan angin pedang yang menyentuh kulit pipinya.
"Jangan banyak mengeluh! Tangkis serangan dari sisi kananmu!" balas Tera tajam, sambil melompat ringan menghindari tebasan rendah yang mengincar pergelangan kakinya.