Langkah kaki Arka dan Tera menggema nyaring di sepanjang lorong batu yang gelap dan lembap di dalam Benteng Besi. Suasana di sekitar mereka begitu sunyi, tetapi ketegangan di udara terasa begitu pekat, seolah setiap detik membawa ancaman kematian yang tak kasat mata. Aroma besi berkarat dan darah kering mendominasi penciuman mereka, menjadi saksi bisu atas pertempuran-pertempuran kejam yang telah terjadi sebelumnya di tempat ini.
Ketika mereka akhirnya mencapai ujung lorong dan melangkah masuk ke dalam aula utama, sebuah pemandangan yang mengintimidasi langsung menyambut kedatangan mereka. Ruangan luas beratap tinggi itu diterangi oleh obor-obor api biru yang menyala di setiap sudut dinding batu. Di tengah aula, sesosok figur berbadan besar berdiri tegak menanti mereka, mengenakan zirah hitam legam yang berkilau dingin memantulkan cahaya api.
"Kalian akhirnya sampai juga, bocah-bocah bodoh," suara berat dan serak itu keluar dari balik helm bertanduk sang panglima, bergemuruh memenuhi ruangan.
Arka langsung menghunus pedangnya, menatap tajam ke arah sosok tersebut. "Jadi, kau adalah Panglima Bayangan yang memimpin pasukan hitam ini?"
Panglima tersebut tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan mengangkat sebuah pedang besar bermata dua yang permukaannya diselimuti oleh aura hitam pekat. Sebagai petarung terkuat Golongan Hitam berlapis zirah besi, kehadirannya saja sudah mampu menekan mental siapa pun yang berdiri di hadapannya.
"Bersiaplah, Arka," bisik Tera dingin di sampingnya, tangan kanannya telah menggenggam erat gagang pedang es miliknya. "Dia bukan lawan sembarangan. Zirah itu mampu menahan hampir semua serangan fisik."
Arka mengangguk pelan, merapatkan kuda-kidanya. "Aku tahu, Tera. Kita harus mencari kelemahannya bersama-sama."
Panglima bayangan itu mendengus remeh, tertawa kecil di balik pelindung wajahnya. "Kesombongan kalian akan menjadi batu nisan kalian sendiri di aula ini."
Tanpa buang waktu lagi, sang panglima mulai menghentakkan kakinya ke lantai batu, menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke telapak kaki Arka dan Tera. Pertempuran penentuan ini akhirnya resmi dimulai di jantung benteng musuh.
❖ ❖ ❖
Begitu hentakan kaki itu mereda, panglima bayangan tersebut melompat maju dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran seorang petarung berzirah tebal. Pedang besar di tangannya diayunkan dengan kekuatan penuh, melepaskan gelombang kejut dahsyat bermuatan energi hitam yang langsung melesat ke arah mereka berdua.
"Awas, menyingkir!" teriak Arka sambil menarik lengan Tera ke samping.
Bum!
Gelombang energi hitam itu menghantam pilar batu tempat mereka berdiri sedetik sebelumnya, menghancurkan batu-batu besar tersebut menjadi serpihan debu yang mengepul ke udara. Tekanan angin dari serangan itu bahkan membuat Arka dan Tera terdorong mundur beberapa langkah.
"Dia memiliki kekuatan tenaga dalam yang luar biasa besar," seru Tera, matanya menyipit tajam mengawasi setiap pergerakan musuh yang kembali bersiap melancarkan serangan susulan.
"Jangan beri dia kesempatan untuk mengambil jarak!" balas Arka, langsung melesat maju menerjang sang panglima dengan tebasan pedang mendatar mengarah ke leher musuh.
Panglima bayangan itu hanya mendengus dingin melihat serangan nekat Arka. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia menepis pedang Arka menggunakan sisi datar pedangnya sendiri. Benturan keras itu menghasilkan suara dentingan logam yang memekakkan telinga, mengirimkan getaran hebat yang membuat tangan Arka mati rasa seketika.
"Hanya itu kemampuanmu, pendekar muda?" cibir sang panglima, lalu memutar pedangnya untuk melayangkan sabetan balik yang sangat mematikan ke arah dada Arka.
Tera yang melihat kekasihnya terancam tidak tinggal diam. Ia melompat anggun ke udara, mengayunkan pedangnya untuk melepaskan tusukan es tajam yang memaksa sang panglima membatalkan serangannya dan mundur selangkah guna melindungi bagian rusuknya.