KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #57

Lautan Musuh di Benteng Merah

Suara lonceng perunggu yang memekakkan telinga tiba-tiba merobek kesunyian malam di Benteng Merah. Suara itu berdering nyaring tanpa henti, memantul di dinding-dinding batu tebal dan menciptakan gema yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Alarm darurat telah berbunyi, menandakan bahwa penyusupan mereka telah sepenuhnya terbongkar.

Di dalam aula utama benteng yang luas dan temaram, udara mendadak berubah panas dan mencekam. Dari balik pilar-pilar batu raksasa dan pintu-pintu rahasia di sekeliling ruangan, ratusan pasukan bayaran Golongan Hitam tumpah ruah keluar secara serempak. Mereka mengenakan zirah baja hitam legam dengan lambang bulan sabit merah menyala di dada, menghunuskan pedang panjang dan tombak beracun yang memancarkan kilau keperakan di bawah temaram cahaya obor.

"Sial, penyusupan kita ketahuan lebih cepat dari perkiraan!" seru Tera dengan napas memburu, merapatkan punggungnya ke punggung Arka di tengah aula. Ia menggenggam erat pedang pendeknya sementara simbol teratai di punggung tangan kanannya mulai berpendar hangat.

Arka tidak langsung menjawab. Matanya tajam memindai sekeliling, menghitung jumlah musuh yang terus meluber masuk dan memenuhi setiap sudut ruangan tanpa celah. "Jangan panik, Tera. Tetap fokus pada aliran energi di meridianmu. Kita tidak punya pilihan selain bertarung menembus mereka."

"Bagaimana kita bisa melawan ratusan orang sekaligus di tempat tertutup seperti ini?" tanya Tera lagi, nada suaranya menyiratkan ketegangan yang luar biasa saat melihat gelombang pasukan musuh semakin mendekat dengan formasi tempur yang rapi.

"Kita tidak melawan mereka sendirian. Ingat tujuan kita," jawab Arka dingin namun penuh keyakinan, mengangkat pedangnya hingga sejajar dengan dada.

Langkah kaki ratusan prajurit bayaran itu bergemuruh menghantam lantai batu marmer, menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke telapak kaki. Dalam hitungan detik, aula utama Benteng Merah telah berubah menjadi lautan manusia berdarah dingin yang siap meremajakan bilah pedang mereka dengan nyawa Arka dan Tera.

❖ ❖ ❖

Gelombang pertama pasukan bayaran Golongan Hitam menerjang maju secara serentak, mengayunkan senjata mereka membentuk lingkaran kematian yang mematikan. Arka dan Tera dikepung dari segala penjuru, mendapati diri mereka benar-benar terisolasi di tengah lautan musuh yang bersenjata lengkap tanpa ada jalur pelarian yang terlihat di mata.

Tring! Clang!

Arka bergerak secepat kilat, menepis tebasan tombak ganda dari sisi kiri dengan hantaman tenaga dalam tingkat menengah, lalu memutar tubuhnya untuk memotong arah serbuan pendekar pedang di belakangnya. "Tera, lindungi sisi kananmu! Mereka mencoba memecah formasi kita!"

"Aku tahu, Arka!" seru Tera, melompat rendah dan menghujamkan telapak tangannya yang diselimuti energi Yin dingin langsung ke lantai marmer.

Seketika itu juga, lapisan es tipis menjalar cepat di atas lantai, membuat puluhan prajurit bayaran yang berada di barisan depan tergelincir dan jatuh bertumpuk-tumpuk. Namun, kejatuhan mereka langsung digantikan oleh barisan prajurit di belakangnya yang melompat melewati rekan-rekan mereka dengan bilah pedang teracung tajam.

"Kalian tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari aula ini, tikus-tikus pengacau!" teriak seorang komandan pasukan bayaran berwajah parau, mengayunkan golok besar bermata dua ke arah Arka.

Arka menahan hantaman golok tersebut dengan kedua tangan yang memegang pedang, menahan beban berat yang membuat lututnya hampir menyentuh lantai. "Kalian kira markas ini bisa menahan kami selamanya?"

Lihat selengkapnya