Desau angin malam membawa aroma mesiu dan darah yang membeku di sepanjang lorong-lorong batu markas Golongan Hitam. Setelah pertempuran sengit di ruang arsip dan aula utama, rombongan utama Aliansi Putih berlari cepat menyusuri terowongan bawah tanah yang membawa mereka keluar menuju titik evakuasi dinding timur. Cahaya bulan purnama yang pucat akhirnya menyapa mata mereka, memberikan secercah harapan bahwa kebebasan sudah berada di depan mata. Namun, impian singkat itu hancur seketika saat mereka menembus pelataran gerbang luar benteng.
Di hadapan mereka, pasukan pengejar musuh yang dipimpin oleh para jenderal bayangan telah lebih dulu menutup jalur pelarian dengan barikade pasukan perisai berat. Ratusan prajurit berzirah besi hitam berbaris rapat membentuk dinding baja yang tidak dapat ditembus, mengangkat tombak-tombak panjang mereka ke depan membentuk hutan belati yang siap merobek siapa saja yang berani mendekat.
"Sial! Jalur utama sudah dikunci rapat!" seru Arka dengan napas memburu, menghentikan langkahnya mendadak di ujung jembatan gantung batu.
Tera menatap sekeliling dengan panik, melihat dinding batu benteng yang terlalu tinggi untuk dipanjat dalam waktu singkat di bawah hujan panah musuh. "Tidak ada jalan lain, Arka! Jika kita tertahan di sini lebih lama lagi, bala bantuan musuh dari sektor utara akan mengepung kita dari belakang!"
Suasana di antara para pendekar mendadak diliputi keputusasaan. Di tengah situasi yang amat kritis tersebut, dua sosok bertubuh kekar melangkah maju melewati barisan depan tanpa ragu sedikit pun. Fathan dan Galin, yang luka-luka pertempuran sebelumnya baru saja sedikit menutup, berdiri tegak menghadap gerombolan pasukan perisai berat musuh.
"Kalian tidak boleh berhenti di sini," ucap Fathan dengan suara tegas, memutar tombak gandanya hingga berdesing di udara malam. "Tugas kita adalah keluar dari tempat terkutuk ini hidup-hidup."
"Benar kata Fathan," sahut Galin sambil menyeringai tipis, memegang erat pedang besarnya yang berlumuran noda darah kering. "Biarkan kami yang membersihkan jalan untuk kalian semua."
Arka membelalakkan matanya, menyadari apa yang hendak dilakukan oleh kedua sahabat setianya itu. "Tidak! Kalian tidak bisa menahan mereka sendirian! Barikade itu terlalu kuat untuk diterobos begitu saja!"
"Ini bukan soal menerobos, Arka," balas Galin mantap tanpa menoleh ke belakang. "Ini soal memastikan kalian bisa melangkah keluar dari neraka ini."
Tanpa menunggu bantahan lebih lanjut, Fathan dan Galin melesat serentak ke depan, mendarat dengan dentuman keras tepat di hadapan barisan perisai berat musuh.
❖ ❖ ❖
Fathan dan Galin yang baru pulih langsung melangkah maju ke depan barisan, menolak untuk membiarkan rekan-rekan mereka terjebak di dalam benteng dan menjadi mangsa empuk pasukan bayangan. Tekad yang menyala di mata kedua pendekar itu mengalahkan rasa sakit di tubuh mereka yang belum pulih sempurna akibat bentrokan sebelumnya.
"Tangkap mereka! Jangan biarkan satu pun melarikan diri!" bentak komandan perisai musuh dari balik barisan baja dengan suara melengking penuh kemarahan.
Puluhan prajurit berzirah berat langsung bergerak serempak, mengayunkan tombak panjang mereka ke arah Fathan dan Galin secara bersamaan. Hutan tombak itu meluncur deras bagaikan badai kematian yang siap menembus daging dan tulang.
"Haaaaah!" teriak Fathan menggelegar, mengalirkan seluruh sisa tenaga dalam ke ujung tombak gandanya hingga memancarkan pendar cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
Fathan memutar tombaknya membentuk perisai lingkaran sempurna, menangkis hantaman puluhan tombak musuh dengan kekuatan penuh. Prang! Suara benturan baja terdengar memekakkan telinga, memercikkan ribuan bunga api yang menerangi malam. Tekanan dari hantaman itu membuat tanah di bawah kaki Fathan retak seketika, dan setetes darah segar mengalir perlahan dari sudut bibirnya.
Di sebelah kanannya, Galin mengamuk bagaikan raksasa yang bangkit dari tidurnya. Pedang besar di tangannya diayunkan secara horizontal dengan tenaga fisik yang luar biasa besar. Tebasan itu menghantam perisai besi baja musuh hingga beberapa prajurit di barisan depan terpental ke belakang, menimpa rekan-rekan mereka sendiri dalam kekacauan hebat.
"Kalian pikir barisan kaleng seperti ini bisa menghentikan langkah kami?!" tawa Galin meledak di tengah sengitnya benturan senjata, meskipun napasnya sudah mulai tersengat kelelahan yang amat sangat.
Arka yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka merasa dadanya sesak melihat pengorbanan luar biasa tersebut. "Fathan! Galin! Mundurlah, kita bisa mencari jalan lain bersama-sama!" teriak Arka penuh kecemasan.
"Fokus pada tujuan kalian, Arka!" seru Fathan tanpa mengalihkan pandangannya dari gelombang musuh yang terus mendesak maju. "Waktu kita tidak banyak!"