Malam yang tadinya diselimuti oleh keheningan mendadak pecah oleh suara alarm berderit nyaring dari puncak menara pengawas benteng utama musuh. Langit yang dihiasi oleh bulan sepucat tulang belulang seolah ikut menyaksikan ketegangan yang membuncah di balik dinding-dinding batu kokoh tersebut. Sesaat setelah melompat keluar melalui dinding timur, ratusan panah beracun meluncur deras bagai hujan lebat dari atas benteng musuh, membelah udara gelap dengan desingan tajam yang mematikan.
Arka, yang memimpin barisan terdepan pelarian kelompok itu, langsung membelalakkan matanya saat melihat langit mendadak gelap tertutup oleh gelombang proyektil mematikan. "Awas! Hujan panah dari menara atas! Lindungi diri kalian!" teriak Arka dengan suara menggelegar, mencabut pedangnya setengah jalan untuk menepis beberapa anak panah yang meluncur terlalu dekat ke arah wajahnya.
"Sial, mereka sudah membaca jalur pelarian kita!" geram Tera di sampingnya, sambil melompat menghindari hantaman anak panah pertama yang menancap dalam di atas tanah berbatu hingga mengeluarkan desis asap beracun ke udara.
Situasi berubah menjadi sangat mencekam dalam hitungan detik. Udara malam yang dingin mendadak terasa begitu panas oleh desau angin yang membawa ratusan mata panah berlapis racun ungu kebiruan. Setiap anak panah dirancang khusus untuk menembus jubah pelindung standar, memancarkan kilau beracun yang siap merenggut nyawa siapa saja yang tergores sedikit saja. Para anggota kelompok yang lain terpaksa menghentikan langkah mereka sejenak, merapatkan barisan di bawah bayangan tebing batu timur demi menghindari terjangan gelombang proyektil pertama yang menghujani tanah bagaikan badai es beracun.
"Jangan panik! Tetap pada formasi rapat!" seru Arka lagi, mencoba menenangkan beberapa anggota baru yang mulai memperlihatkan kepanikan di wajah mereka.
"Chafia, Zahra, kita butuh perisai sekarang!" teriak Tera sambil menepis sebuah anak panah yang meluncur lurus ke arah dadanya menggunakan sisi datar pedangnya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Chafia and Zahra melangkah mantap ke barisan paling depan, menghadap ke arah hujan panah yang terus menerjang tanpa henti dari atas ketinggian benteng.
❖ ❖ ❖
Chafia dan Zahra segera mengangkat tangan mereka secara bersamaan, memusatkan seluruh tenaga dalam ke telapak tangan untuk menciptakan perisai energi pelindung transparan yang berpijar terang di tengah kegelapan malam guna menangkis gelombang panah pertama. Cahaya kebiruan menyala benderang, membentuk kubah pelindung setengah lingkaran yang menutupi seluruh anggota kelompok dari terjangan maut tersebut.
Trang! Trang! Blar!
Ratusan anak panah beracun menghantam permukaan perisai energi itu secara bertubi-tubi, menciptakan percikan api magis dan suara dentingan logam yang memekakkan telinga. Setiap hantaman panah memantul jatuh ke tanah, meninggalkan jejak cairan beracun yang mendesis dan mengepulkan asap tipis di atas permukaan rumput.
"Bertahanlah! Jangan biarkan tenaga perisai kita goyah!" seru Chafia dengan gigi bergemeretuk, mengerahkan seluruh sisa energi internalnya untuk memperkokoh dinding transparan tersebut dari tekanan masif di sisi atas.
Zahra di sebelah kirinya mengangguk tegang, wajahnya memucat pasi karena beban hantaman panah yang terus bertambah banyak setiap detiknya. "Tenaga mereka... luar biasa kuat! Mereka mengerahkan seluruh pasukan pemanah elit di menara itu!" ucap Zahra terengah-engah, keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya.
Di balik perisai energi yang mulai bergetar hebat itu, Arka mengamati situasi dari balik pundak Chafia. Ia tahu persis bahwa kubah pelindung tersebut tidak akan sanggup menahan gempuran terus-menerus dalam waktu yang lama. Tekanan dari ratusan proyektil itu mulai membebani fisik kedua gadis tersebut hingga batas maksimal kemampuan mereka.
"Chafia, Zahra, perisai kalian luar biasa, tapi kita tidak bisa selamanya bersembunyi di bawah sini!" teriak Arka memperingatkan situasi genting di luar kubah pelindung.
"Kami tahu, Tuan Arka! Tapi jika perisai ini runtuh sekarang, kita semua akan menjadi sasaran empuk hujan panah itu!" balas Chafia dengan suara bergetar hebat, mencoba mempertahankan fokusnya di tengah dentuman panah yang semakin menggila di atas kepala mereka.
❖ ❖ ❖