Suara deru air yang jatuh dari ketinggian menciptakan gemuruh konstan yang meredam setiap jejak kaki di balik dinding tebing. Aroma lumut basah dan uap air dingin menyambut kedatangan rombongan kecil yang melangkah dengan sisa-sisa tenaga mereka. Kelompok akhirnya tiba kembali di gua tersembunyi di balik air terjun dengan selamat, membawa dokumen rahasia pimpinan Golongan Hitam di tangan Arka. Tirai air yang deras bertindak sebagai perisai alami yang menyembunyikan pintu masuk gua dari pandangan musuh di luar.
Arka melangkah masuk paling depan, napasnya memburu dan langkahnya sedikit pincang akibat serpihan batu yang menghantam betisnya dalam pelarian terakhir. Ia merapatkan genggamannya pada map kulit tebal berisi dokumen rahasia tersebut, memastikan benda berharga itu tidak basah oleh cipratan air terjun.
"Kita akhirnya sampai di dalam," ucap Arka dengan suara serak, menyandarkan tubuhnya pada dinding batu gua yang lembap sambil menatap rekan-rekannya satu persatu. "Tirai air ini menutup pandangan mereka sepenuhnya. Untuk sementara, kita aman dari kejaran pasukan Golongan Hitam."
Tera, yang berjalan tepat di belakang Arka dengan membawa obor kecil penerang jalan, segera menancapkan obor tersebut ke celah batu dinding gua. Ia menghela napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul keras di dalam dada.
"Aman bukan berarti kita bisa mengabaikan luka-luka yang kita bawa, Arka," balas Tera lirih, matanya melirik cemas ke arah bagian belakang rombongan tempat Fathan dan Galin dipapah oleh Kamil dan Yafid.
Kamil mendesah berat saat ia dan Yafid menurunkan tubuh Fathan dan Galin dengan perlahan ke atas permukaan tanah berbatu yang ditutupi jubah usang. Keringat bercampur debu dan darah kering tampak jelas melapisi wajah kedua pria yang sudah kehilangan kesadaran tersebut.
"Mereka bertahan sejauh yang mereka bisa sampai detik-detik terakhir sebelum kita melompat melewati tirai air ini," kata Kamil dengan nada penuh kekhawatiran, menatap nanar kondisi fisik rekan-rekannya yang kian melemah.
❖ ❖ ❖
Cahaya kemerahan dari obor yang menempel di dinding memantul di permukaan tetesan air yang merembes dari langit-langit gua, menciptakan suasana yang remang dan penuh bayangan muram. Suasana di dalam gua terasa sunyi dan muram; masing-masing anggota terduduk kelelahan dengan balutan luka baru di sekujur tubuh. Tidak ada lagi obrolan keras atau gurauan penyemangat seperti hari-hari sebelumnya; yang terdengar hanya deru air terjun di luar dan erangan tertahan dari mereka yang menahan perih.
Yafid menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah batu datar, memegang lengannya yang terlilit kain perban berlumuran noda darah kehitaman. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar hebat akibat kehabisan tenaga dan tekanan batin yang luar biasa sepanjang malam.
"Kita berhasil membawa dokumen itu keluar, tapi harganya terlalu mahal," gumam Yafid pelan, suaranya hampir tenggelam di bawah suara gemuruh air terjun. "Berapa banyak lagi dari kita yang harus nyaris mati sebelum perang ini benar-benar berakhir?"
Arka berjalan mendekati Yafid, meletakkan peta dan dokumen penting di atas batu tengah, lalu berjongkok di samping rekannya itu. "Yafid, pengorbanan tidak pernah datang tanpa rasa sakit. Tanpa luka-luka ini, dokumen di atas meja batu itu tidak akan pernah sampai ke tangan kita."
"Aku tahu, Arka. Hanya saja... melihat Fathan dan Galin ambruk begitu saja membuatku berpikir apakah kita benar-benar mampu melewati pertempuran pemungkas nanti," balas Yafid lesu, mengangkat wajahnya menatap Arka dengan sorot mata lelah.
"Kita harus mampu," potong Kamil tegas dari sisi seberang ruangan, sambil merapikan jubahnya yang robek di bagian bahu. "Jika kita menyerah di sini, kematian rekan-rekan kita di parit perbatasan akan menjadi sia-sia."
Rafar, yang sejak tadi duduk memeluk lututnya sambil membersihkan bilah belatinya dari kotoran lumpur, ikut mendongak. "Kamil benar. Kita sudah berada di titik terjauh perjalanan ini. Mundur bukanlah pilihan yang tersedia bagi kita."
Suasana hening kembali merayap di antara dinding-dinding batu gua, diisi oleh kesadaran pahit bahwa pertempuran yang sebenarnya baru akan dimulai esok hari.