KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #61

Pembalasan Darah dari Sarang Hitam

Malam di perbatasan wilayah barat seolah kehilangan seluruh sisa cahayanya ketika kabar kehancuran pos terdepan sampai di telinga markas pusat Golongan Hitam. Di dalam aula batu yang gelap dan dipenuhi aroma dupa menusuk, pimpinan tertinggi kelompok tersebut berdiri dengan raut wajah yang menggelap bagai badai. Berita mengenai hilangnya kotak arsip rahasia serta tewasnya para penjaga pilihan benar-benar melukai harga diri kelompok pembunuh bayaran paling ditakuti di daratan utama itu. Suasana aula mendadak beku ketika suara berat sang pimpinan menggema, memerintahkan pembalasan darah tanpa ampun.

"Beraninya mereka mempermainkan kekuasaan kita!" geram sang pimpinan dengan suara penuh kebencian, menatap tajam ke arah barisan komandan bayangan di hadapannya. "Kerahkan seluruh armada pasukan pembunuh bayaran terbaik! Ratakan tempat persembunyian mereka dengan tanah, dan jangan biarkan satu pun nyawa tersisa untuk bernapas!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun, genderang perang berdarah segera ditabuh di kedalaman sarang hitam. Puluhan pendekar pilihan dengan topeng besi dan jubah legam bergerak serempak bagaikan bayangan maut yang meluncur menembus malam. Mereka tidak lagi sekadar menjalankan misi pengintaian, melainkan sebuah operasi pemusnahan total yang dirancang untuk menghapus jejak kelompok Arka selamanya dari muka bumi.

Di tempat persembunyian kelompok Arka, ketenangan yang baru saja dirajut setelah malam penembusan ruang arsip mendadak terusik oleh firasat buruk yang merayap di dada setiap penghuninya. Fathan yang sedang memeriksa barisan pertahanan luar merasakan getaran aneh merambat dari permukaan tanah, sementara Zahra dan Chafia yang merawat para korban di dalam tenda mendadak dikagetkan oleh perubahan drastis suhu udara di sekitar mereka.

"Ada sesuatu yang datang," gumam Arka tajam, segera meraih bilah pedangnya yang tergeletak di atas meja kayu. "Dan kedatangan mereka kali ini tidak membawa niat baik."

❖ ❖ ❖

Perubahan alam terjadi begitu cepat hingga hampir melumpuhkan akal sehat. Langit di sekitar persembunyian kelompok Arka yang tadinya dihiasi bintang-bintang gemilang mendadak berubah menjadi gelap gulita dalam hitungan menit. Gumpalan awan hitam pekat menggeliat menyerupai monster raksasa, menutupi seluruh cahaya bulan dan menyelimuti lembah dengan aura kematian yang menyesakkan dada. Setiap orang yang menghirup udara malam itu merasakan sensasi terbakar di tenggorokan, seolah oksigen di sekitar mereka telah diracuni oleh kebencian yang mendalam.

"Aura apa ini? Rasanya sangat berat menekan dada!" teriak Tera sambil berlari keluar dari tenda medis, mencoba mengatur napasnya yang mendadak sesak.

"Itu adalah manifestasi qi pembunuh dari pasukan elit Golongan Hitam," jawab Arka tegas, matanya menatap tajam ke arah barisan bukit di seberang lembah. Di sanalah, ribuan titik cahaya obor berwarna keunguan mulai bermunculan, bergerak cepat mengepung tempat persembunyian mereka dari segala penjuru.

Fathan dan Galin segera bergabung dengan Arka di garis depan pertahanan, wajah kedua pemuda itu tampak tegang namun penuh tekad. "Jumlah mereka jauh lebih banyak dari sebelumnya, Arka! Kita dikepung total!" seru Fathan sambil menghunus pedang panjangnya.

Zahra dan Chafia keluar membawa kantung-kantung ramuan penawar darurat, membagikannya kepada para relawan yang siaga di belakang barisan. Kepanikan sempat melanda beberapa warga sipil yang mengungsi, namun ketegasan Arka dan rekan-rekannya berhasil menenangkan situasi sebelum kekacauan yang lebih besar terjadi.

"Jangan biarkan rasa takut menguasai kalian!" seru Arka kepada seluruh anggota kelompoknya. "Kita berdiri di sini bukan untuk lari, tetapi untuk melindungi apa yang telah kita perjuangkan bersama!"

Lihat selengkapnya