KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Kabut Kematian Tanpa Nama

Angin malam di Lembah Bukit Tengkorak mendadak bertiup liar, memutar dedaunan kering di tanah dan menyebarkan hawa dingin yang tak wajar. Di tengah medan pertempuran yang masih berantakan, Arka menghentikan langkah kakinya seraya mengusap peluh bercampur darah di dahinya. Di sampingnya, Tera, Danu, dan Rhea bersiap dalam posisi tempur, menyapu pandangan ke sekeliling celah bukit yang sunyi.

"Ada yang tidak beres dengan angin ini, Arka," bisik Tera seraya menggenggam erat busurnya. Matanya yang tajam menatap kegelapan di ujung lembah.

"Aku merasakannya juga, Tera," sahut Arka pelan. Ia menarik pedangnya sedikit lebih tinggi. "Aura keberadaan musuh tidak berkurang, justru terasa makin mengepung kita."

Danu menyapu kapak besarnya ke udara, mencoba menghalau rasa cemas yang mendadak menyergap. "Apakah mereka sudah kehabisan prajurit sampai harus bersembunyi di balik kegelapan seperti ini?"

"Jangan gegabah, Danu," tegur Rhea seraya memeriksa sisa anak panah dan belati di pinggangnya. "Lihat ke depan. Ada sesuatu yang merayap turun dari puncak bukit."

Tepat ketika kalimat Rhea selesai, gulungan hitam pekat mulai muncul dari sela-sela bebatuan tinggi. Kabut hitam legam berbau amis menyengat menyebar dengan cepat terbawa angin, meliputi seluruh penjuru lembah tempat kelompok bertempur. Dalam hitungan detik, sinar rembulan yang temaram tertutup sepenuhnya, menenggelamkan mereka ke dalam kegelapan yang pekat dan menyesakkan.

"Bau apa ini? Amis sekali!" seru Danu seraya menutupi hidungnya menggunakan lengan bajunya.

"Ini bukan bau lumpur atau darah biasa!" teriak Rhea dari balik kabut yang mulai mengaburkan sosoknya. "Arka, di mana kau?"

"Aku di sini, Rhea! Tetap saling berdekatan!" balas Arka nyaring, mencoba mempertahankan posisi kelompok agar tidak terpisah. "Tutup hidung dan mulut kalian! Jangan sampai menghirup udara ini terlalu banyak!"

"Arka, kabut ini bergerak terlalu cepat!" panggil Tera, suaranya terdengar cemas di tengah keheningan yang mencekam. "Angin membawanya langsung ke arah kita dari segala penjuru!"

Bau amis yang membakar hidung itu kian pekat, menyerupai kombinasi bangkai busuk dan logam berkarat yang dibakar. Kabut hitam tersebut seolah memiliki kehidupan sendiri, merayap dan mengurung setiap sudut lembah tanpa menyisakan celah sedikit pun.

❖ ❖ ❖

Arka segera merobek bagian bawah kemejanya dan mengikatkannya erat-erat mengelilingi hidung dan mulut. Namun, baru beberapa detik kain itu terpasang, rasa gatal dan panas yang menusuk mulai merembet di sekitar leher dan wajahnya.

"Kain ini tidak berpengaruh!" seru Arka gusar, menatap tangannya yang mulai memerah.

"Arka, ini bukan asap pembakaran biasa!" jerit Tera yang berada hanya dua langkah di sampingnya. Tangannya yang memegang busur mulai gemetar hebat.

Kabut tersebut ternyata bukan sekadar asap biasa, melainkan racun purba tak bernama yang langsung meresap melalui pori-pori kulit begitu dihirup. Rasa perih yang amat sangat tidak hanya menghantam saluran pernapasan, tetapi juga menyengat permukaan kulit yang terbuka, seolah-olah ribuan jarum beracun ditusukkan secara bersamaan.

"Ugh! Kulitku rasanya seperti disiram minyak panas!" rintih Danu, menyentuh lehernya yang kini melepuh kemerahan di bawah gulungan kabut hitam.

"Racun ini... racun ini meresap lewat pori-pori!" teriak Rhea memeringatkan. "Menggelembungkan pelindung hawa murni pun tidak sanggup menahannya!"

"Gunakan tenaga dalam untuk menahan peredarannya!" perintah Arka seraya memusatkan energi di titik pusat dadanya. Namun, begitu ia mencoba mengalirkan energi murni, racun itu justru bereaksi lebih ganas, menimbulkan rasa sakit luar biasa yang membuat Arka berlutut di tanah.

"Jangan gunakan tenaga dalam secara penuh, Arka!" seru Tera panik melihat Arka meringis kesakitan. "Racun ini memanfaatkan aliran hawa murni untuk menyebar lebih cepat ke organ dalam!"

"Sialan..." maki Arka seraya mencoba bangkit kembali, meski seluruh persendiannya terasa kaku dan panas. "Siapa yang menciptakan zat semacam ini?"

"Golongan Hitam..." bisik Rhea seraya menahan tubuhnya pada dinding batu. "Ini adalah racun purba yang pernah dimusnahkan seratus tahun lalu. Bagaimana bisa mereka memproduksinya kembali?"

Lihat selengkapnya