Angin malam yang berhembus menembus celah-celah reruntuhan benteng terasa begitu dingin, membawa hawa aneh yang manis namun menusuk hidung. Di tengah lembah batu yang sunyi, sepuluh anggota kelompok berdiri merapat. Pertempuran sengit baru saja usai beberapa saat lalu, meninggalkan jejak kelelahan yang teramat sangat pada wajah-wajah muda itu. Namun, rasa lega yang sempat hinggap di dada mereka mendadak sirna ketika sebuah kabut tipis berwarna keunguan merayap pelan dari celah-celah tanah yang retak.
"Bau apa ini?" tanyanya lembut, hidung Zahra berkerut tajam saat menghirup udara malam.
Arka mendongak, matanya menyipit menembus kegelapan. "Jangan dihirup! Ini bukan kabut biasa!"
"Semuanya, tutup jalan napas kalian sekarang!" jerit Zahra panik, jarinya yang gemetar bergegas meraih kantong obat di pinggangnya. "Ini Racun Pengikis Inti Purba! Racun yang dirancang khusus untuk menggerogoti energi spiritual!"
Namun peringatan itu terlambat. Sebelum mereka sempat membendung aliran napas, zat tak berwujud itu telah merembes masuk melalui pori-pori kulit dan saluran pernapasan. Racun purba tersebut bergerak cepat seperti ribuan cacing es yang menjalar ganas di dalam pembuluh darah, langsung menyasar dantian—inti tempat tenaga dalam mereka bersemayam.
"Ugh!" pekik Galin seraya memegang dadanya yang mendadak terasa dihantam bongkahan batu besar.
"Kenapa... kenapa hawa murniku tidak bisa disalurkan?" bisik Fathan dengan wajah pucat pasi. Ia mencoba menggerakkan energi spiritualnya untuk membentengi jantung, namun aliran itu membeku seketika.
"Sensasi ini sangat beracun," sahut Tera dengan suara yang mulai serak. Tangannya yang memegang tangkai pedang bergetar hebat. "Aliran energi spiritualku... terputus sepenuhnya!"
"Racun ini tidak cuma menyumbat," jelas Zahra dengan nada putus asa, napasnya mulai terengah-engah saat merasakan hawa dingin menggerogoti organ dalamnya sendiri. "Ia merusak jembatan antara pikiran dan inti tenaga dalam kita. Sembatan ini memutus benteng pelindung tubuh dari dalam!"
Di sekeliling mereka, pendar cahaya pelindung yang biasa membungkus tubuh para ksatria muda itu perlahan memudar, redup seperti lilin yang tersapu angin kencang. Perlindungan gaib yang selama ini menjadi perisai dari sabetan senjata dan tekanan hawa membunuh musuh kini hancur menjadi serpihan tak berguna.
"Arka, apa yang harus kita lakukan?" tanya Risha, suaranya gemetar saat merasakan seluruh persendiannya mendadak lemas dan kehilangan daya.
"Tetap dalam formasi!" seru Arka, mencoba menjaga ketenangan meski ia sendiri merasakan denyut nyeri yang membakar di pusat dadanya. "Jangan memaksakan aliran energi! Tahan napas kalian serendah mungkin!"
"Tidak bisa, Arka..." bisik Kamil seraya menyandarkan tubuhnya pada tombak kayu. "Setiap kali aku mencoba menyedot hawa murni, rasa sakitnya seperti menyayat pembuluh darahku!"
Pola racun purba itu bekerja begitu sistematis. Tanpa adanya perisai tenaga dalam yang melindungi, tubuh mereka kini rentan sepenuhnya terhadap hawa dingin malam dan serangan fisik apapun yang mengintai di balik kegelapan.
❖ ❖ ❖
Beban racun purba itu bertambah berlipat ganda bagi mereka yang belum pulih benar dari pertempuran sebelumnya. Fathan dan Galin, yang bertarung habis-habisan di garis depan pada pertempuran lalu, menjadi korban pertama yang tak sanggup lagi menahan gerogotan racun mematikan tersebut.
"Fathan! Galin!" teriak Rafar saat melihat kedua rekannya itu limbung.
Galin memegangi tenggorokannya yang terasa terbakar. Wajahnya yang semula tegap kini berubah kelabu, matanya membelalak menahan kesakitan yang teramat sangat dari dalam dadanya. "Daraku... rasanya panas sekali..."
"Galin, bertahanlah!" seru Fathan mencoba mengulurkan tangan untuk menopang tubuh saudaranya. Namun, gerakan itu justru memicu dorongan racun yang makin dalam merusak organ dalamnya.
"Khakk!"
Fathan jatuh berlutut terlebih dahulu. Lututnya menghantam tanah keras dengan dentuman pilu. Dari mulutnya, memancar semburan darah hitam pekat yang berbau amis dan asam, menetes membasahi tanah kering di bawahnya. Hanya berselang satu hitungan napas, Galin menyusul ambruk di sampingnya, memuntahkan cairan hitam yang sama derasnya.
"Fathan! Galin!" jerit Azalia, hendak berlari mendekati mereka, namun kakinya sendiri terasa bagai terpaku ke bumi.
"Jangan bergerak sembarangan, Azalia!" cegah Yafid dengan suara tertahan. "Semakin banyak bergerak, semakin cepat racun itu menjalar ke jantung!"
Zahra segera berlutut di antara Fathan dan Galin, jemarinya memeriksa denyut nadi di leher mereka dengan panik. "Denyut nadi mereka sangat lemah! Inti tenaga dalam mereka pecah akibat efek paksa dari racun ini!"
"Apakah ada penawarnya, Zahra?!" desak Chafia seraya pasrah melihat kedua rekannya tergeletak tak berdaya, tubuh mereka kejang-kejang kecil di atas tanah.
"Tidak ada penawar instan untuk Racun Purba ini!" jawab Zahra dengan mata berkaca-kaca. "Racun ini harus dikeluarkan dengan pembersihan medis yang memakan waktu jam-jaman. Di tempat terbuka seperti ini... kita tidak punya waktu!"