KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #64

Perisai Terakhir di Tubuh Tera

Malam di Benteng Hitam berubah menjadi lautan darah dan debu. Di tengah pelataran batu yang hancur berkeping-keping, Arka berlutut dengan satu kaki, napasnya memburu tak beraturan, dan darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya. Pedang kayunya telah patah menjadi dua, menyisakan dirinya yang hampir sepenuhnya kehabisan tenaga setelah bertarung melawan puluhan pendekar bayaran. Di hadapannya, Panglima Golongan Hitam berdiri menjulang dengan seringai mengerikan di balik topeng besi berdarah. Ia mengangkat tinggi-tinggi pedang panjangnya yang memancarkan pendar cahaya kehitaman, siap melayangkan tebasan maut yang akan mengakhiri riwayat Arka dalam satu ayunan telak.

"Waktumu sudah habis, pemuda bodoh!" geram sang panglima dengan suara menggelegar, mengerahkan seluruh tenaga hitamnya ke mata bilah pedang.

Arka mendongak dengan tatapan nanar, tubuhnya terlalu lemas untuk sekadar mengangkat tangan menangkis serangan yang datang secepat kilat itu. Ia bisa melihat bayangan kematian terpantul jelas di mata baja musuhnya. Namun, di saat yang paling kritis dan menentukan tersebut, sebuah bayangan putih melesat bagai kilat menembus debu malam dari arah samping.

Itu adalah Tera. Gadis berkerudung putih itu melihat Arka yang nyaris tak berdaya hendak diserang oleh tebasan pedang maut dari panglima musuh, dan tanpa memikirkan keselamatan nyawanya sendiri, ia langsung melompat menerjang tanpa keraguan sedikit pun.

"Arka, tidak!" teriak Tera membelah udara, mengabaikan segala logika bertempur demi menyelamatkan pria yang selama ini selalu ia perdebatkan.

Sang panglima mendesis kaget melihat intervensi mendadak tersebut, namun ia tidak menarik kembali serangannya, melainkan mengubah arah tebasan pedang itu agar langsung menghantam siapa saja yang berani menghalangi jalurnya.

❖ ❖ ❖

Gerakan Tera begitu cepat, didorong oleh kepanikan dan tekad yang melampaui batas kemampuan fisiknya. Sebelum bilah pedang maut sang panglima sempat menyentuh dada Arka, Tera sudah melompat menubruk tubuh pemuda itu ke samping.

Bugh!

Mereka berdua terpelanting jatuh di atas tanah berbatu. Namun, alih-alih berguling untuk mencari perlindungan, Tera dengan sigap memposisikan tubuhnya sebagai perisai hidup bagi Arka. Ia mendekap Arka erat-erat di dalam pelukannya, menutupi seluruh tubuh pemuda itu dengan tubuh mungilnya sendiri, menjadikan punggungnya sebagai sasaran empuk bagi tebasan pedang musuh yang sedang meluncur turun dengan kecepatan penuh.

"Tera! Bodoh, apa yang kau lakukan?!" bentak Arka dengan suara serak, terkejut luar biasa saat menyadari apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu.

"Diam dan jangan bergerak!" bisik Tera di telinga Arka, napasnya tersengal-sengal namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa besar.

Di detik berikutnya, tebasan pedang sang panglima mendarat dengan kekuatan penuh. Berkat gerakan cepat Tera yang memeluk erat tubuh Arka, bilah pedang utama tersebut meleset dari jantung Arka. Namun, ayunan pedang itu memicu efek samping yang jauh lebih mengerikan dari sekadar luka sayatan fisik: gelombang racun purba beracun pekat yang melapisi bilah pedang sang panglima langsung terlepas ke udara dalam bentuk uap hitam pekat.

Lihat selengkapnya