KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #65

Detik-Detik Menuju Kehampaan

Suasana di dalam gua tersembunyi itu terasa begitu pekat dan menyesakkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk pertempuran mematikan yang baru saja mereka tinggalkan di luar sana. Hujan lebat yang turun di luar menciptakan tirai air yang menghalangi pandangan, menyumbangkan suara gemuruh konstan yang berpadu dengan deru napas Arka yang memburu penuh kepanikan.

Arka membawa Tera masuk dengan langkah gontai, merangkul tubuh gadis itu yang terasa semakin dingin di dalam dekapan lengannya. Setelah pertempuran sengit melawan panglima bayangan, sebuah belati beracun sempat merobek pertahanan Tera, menyuntikkan racun purba yang kini menggerogoti tubuhnya secara perlahan.

"Tahan sebentar lagi, Tera," bisik Arka dengan suara bergetar, kepanikannya tidak mampu lagi disembunyikan di balik wajah tegangnya. "Kita sudah sampai di tempat yang aman. Kau akan segera mendapatkan pertolongan."

Tera tidak menjawab. Kepalanya bersandar lemah di bahu Arka, matanya setengah terpejam dengan bulu mata yang basah oleh keringat dingin. Bibirnya yang biasanya tampak kemerahan kini kehilangan seluruh warnanya, digantikan oleh semburat pucat yang mengkhawatirkan.

Dengan hati-hati yang luar biasa, Arka merebahkan tubuh gadis itu di atas bentangan helai jubah tebal yang bersih di sudut gua yang paling kering dan terlindung dari terpaan angin. Gerakannya sangat lambat, seolah takut bahwa sentuhan sekecil apa pun akan menambah rasa sakit yang sedang ditanggung oleh Tera.

"Arka..." panggil Tera pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara suara gemuruh hujan di luar gua.

"Ya, aku di sini, Tera. Aku tidak akan pergi ke mana pun," jawab Arka cepat, berlutut di sisi gadis itu dan menggenggam jemarinya yang terasa bagaikan es batu.

"Jangan... buang-buang tenaga untukku," lanjut Tera terbata-bata, napasnya tersengat di dada. "Racun itu... sudah masuk terlalu dalam."

"Jangan bicara sembarangan!" potong Arka dengan nada tegas yang menyembunyikan rasa takut yang teramat sangat. "Kita sudah melewati banyak rintangan bersama-sama. Kau tidak boleh menyerah sekarang, Tera!"

Tera hanya tersenyum lemah, sebuah senyuman tipis yang justru membuat hati Arka semakin terasa seperti diiris-iris sembilu tajam. Di dalam keremangan gua yang hanya diterangi oleh pantulan cahaya obor kecil, detik-detik menegangkan menuju kehampaan itu resmi dimulai.

❖ ❖ ❖

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti sudut gua begitu percakapan kecil di antara mereka mereda. Arka menatap tajam ke arah dada Tera, memperhatikan naik turunnya napas gadis itu yang semakin lama menjadi semakin dangkal dan tidak beraturan.

Detak jantung Tera yang tadinya cepat dan memburu akibat sisa-sisa pertempuran kini berdetak semakin lambat, melemah di setiap detik yang berjalan perlahan. Setiap jeda antara satu detak ke detak berikutnya terasa begitu panjang, menciptakan ketakutan luar biasa di dalam benak Arka bahwa itu akan menjadi detak terakhir yang didengarnya.

"Tera, dengarkan aku," panggil Arka lagi, suaranya kini mulai bergetar hebat. Ia merapatkan genggaman tangannya, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya ke tangan gadis itu yang sudah mati rasa. "Buka matamu. Lihat aku."

Perlahan-lahan, Tera membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Tatapannya yang biasanya tajam dan penuh wibawa kini tampak sayu, kehilangan fokus, seolah jiwanya sudah mulai melayang meninggalkan raga yang kesakitan.

Lihat selengkapnya