KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #66

Runtuhnya Ketegasan Sang Pemimpin

Malam di benteng utama Golongan Hitam berubah menjadi tempat paling sunyi dan menakutkan di muka bumi. Di tengah puing-puing aula utama yang masih diselimuti sisa asap mesiu dan pendaran api biru, dunia Arka mendadak berhenti berputar. Di hadapannya, Tera terbaring lemah di atas lantai batu marmer yang dingin, bermandi genangan darah segar yang mengalir dari luka tusuk di dada kirinya. Serangan mendadak dari para pengawal bayangan tadi menembus pertahanan Tera saat gadis itu mencoba melindungi Arka dari tusukan maut.

Menyaksikan wanita yang dicintainya sekarat di hadapannya tanpa bisa ia cegah sedikit pun, ketegasan dan kewibawaan Arka sebagai pemimpin yang selama ini disegani runtuh seketika. Pertahanan mental yang ia bangun bertahun-tahun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

"Tera... tidak, buka matamu, kumohon!" teriak Arka dengan suara yang nyaris tak dikenali lagi, mencampakkan pedangnya ke lantai batu dengan bunyi dentang yang memekakkan telinga.

Ia menjatuhkan lututnya ke lantai yang keras, tidak peduli pada serpihan batu tajam yang merobek celananya. Tangannya yang gemetar hebat segera merengkuh tubuh Tera yang mulai mendingin, mendekapnya erat ke dalam pelukan seolah ingin menahan nyawa sang kekasih agar tidak terbang meninggalkan raga.

"Arka... simpan tenagamu... kita harus... keluar dari sini," bisik Tera terbata-bata, darah segar mengalir melalui sudut bibirnya. Napas gadis itu terdengar sangat pendek, berat, dan putus-putus.

"Jangan bicara yang tidak-tidak! Kau tidak boleh pergi, Tera! Kau berjanji akan melihat fajar bersama setelah semua ini berakhir!" rintih Arka, air matanya tumpah membasahi pipi, bercampur dengan debu dan darah yang mengotori wajahnya.

❖ ❖ ❖

Topeng ketegaran, wibawa baja, dan ketenangan mutlak yang selama ini selalu Arka kenakan di hadapan para sahabatnya kini runtuh tak bersisa. Air mata penyesalan dan keputusasaan tumpah begitu deras dari mata Arka, menghapus seluruh citra pemimpin perkasa yang selama ini menjadi sandaran hidup bagi seluruh anggota kelompok. Ia bukan lagi panglima perang atau pendekar tanpa rasa takut; ia hanyalah seorang manusia biasa yang sedang menyaksikan belahan jiwanya direnggut maut secara perlahan di hadapan matanya sendiri.

"Kenapa harus kau? Kenapa bukan aku yang terkena tusukan itu?" isak Arka pecah, merutuki kebodohannya sendiri yang gagal melindungi wanita yang paling ia kasihi di dunia ini.

Tera mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah dengan susah payah, lalu menyentuh pelan pipi Arka yang basah oleh air mata. Senyuman tipis dan lemah tersungging di bibir pucatnya, berusaha menenangkan pria yang kini hancur lebur di hadapannya.

"Jangan salahkan dirimu... Arka... ini adalah... pilihan terbaikku," suara Tera melemah, matanya mulai sayu dan berbayang kabut kematian.

"Tidak ada yang baik dari kematianmu, Tera! Aku tidak bisa memimpin dunia persilatan ini jika kau tidak ada di sisiku!" seru Arka penuh kepedihan, membenamkan wajahnya di ceruk leher Tera sambil terisak keras.

Lihat selengkapnya