Desir angin malam membawa hawa dingin yang menusuk tulang ke dalam gua persembunyian sementara yang terletak di balik air terjun tersembunyi. Di sudut ruangan batu yang temaram, cahaya obor berkedip lemah memantulkan bayangan-bayangan muram di dinding. Arka berlutut di sisi pembaruan batu, menatap wajah Tera yang sangat pucat pasi dengan keringat dingin membasahi sekujur pelipisnya. Napas gadis itu terdengar sangat tersengat-sengat, lemah, dan terputus-putus.
Zahra, tabib utama kelompok yang selama ini dikenal tenang dalam menghadapi berbagai luka parah, duduk bersila di samping Tera dengan jemari yang bergetar hebat. Ia mengambil pergelangan tangan Tera yang terasa dingin bagaikan es, lalu menempelkan tiga jarinya di atas titik nadi utama gadis itu. Suasana di dalam gua mendadak terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di ruangan itu ditarik habis oleh ketegangan yang teramat sangat.
"Bagaimana keadaan nadinya, Zahra?" tanya Arka dengan suara parau, menatap lekat-lekat ke arah sang tabib yang tak kunjung melepaskan pegangannya dari tangan Tera.
Zahra tidak segera menjawab. Matanya yang biasanya tajam dan penuh keyakinan kini tampak kosong, berkaca-kaca menahan luapan emosi yang mendalam. Perlahan-lahan, Zahra mengangkat wajahnya menatap Arka dengan pandangan penuh keputusasaan mutlak yang membuat jantung Arka seolah berhenti berdetak sesaat.
"Arka..." bisik Zahra terbata-bata, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku... aku sudah memeriksa nadinya berulang kali..."
"Jangan bertele-tele, Zahra! Katakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tera!" bentak Arka tertahan, rasa panik mulai merayap dan membakar sekujur dadanya.
Para sahabat yang berdiri di belakang Arka—Kamil, Rafar, Yafid, dan Chafia—menahan napas mereka secara bersamaan. Ruangan gua mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan suara tetesan air dari langit-langit gua dan desau angin luar yang menderu pelan.
❖ ❖ ❖
Zahra menarik napas panjang dengan susah payah, berusaha meredakan getaran di bibirnya sebelum menyampaikan kenyataan pahit yang mencabik-cabik hatinya sendiri sebagai seorang tabib. Ia menggelengkan kepala perlahan, menatap Arka dengan sorot mata yang menyiratkan kekalahan total.
"Racun itu... racun itu sudah menyebar terlalu jauh ke dalam pusat meridiannya, Arka," ucap Zahra dengan suara yang nyaris tak terdengar di telinga.
"Pasti ada penawarnya, Zahra! Kau memiliki seratus satu resep ramuan legendaris di dalam kantong obatmu!" sergah Arka tidak percaya, mencengkeram erat bahu sang tabib dengan tatapan memohon. "Keluarga kita, perguruan kita, semua memiliki metode penyembuhan! Gunakan semuanya!"
Zahra menundukkan kepalanya, air mata pertamanya menetes jatuh membasahi permukaan batu di hadapannya. "Dengarkan aku, Arka. Dengan suara terbata-bata, aku harus menyatakan kebenaran ini: racun purba tak bernama itu mustahil disembuhkan dengan ramuan, tabib, atau obat biasa manapun di dunia persilatan."
Kalimat itu meluncur bagaikan bilah pedang tajam yang menghujam langsung ke dada setiap orang yang mendengarnya. Kamil memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Rafar membuang muka ke arah dinding gua yang gelap.
"Obat biasa?" ulang Arka dengan nada suara meninggi, tidak terima dengan vonis tersebut. "Siapa yang bilang ini obat biasa? Ini racun dari Golongan Hitam! Pasti ada penawar khusus di markas mereka!"
"Bukan sekadar racun biasa dari musuh, Arka," potong Chafia yang sejak tadi berdiri di samping Zahra dengan tangan gemetar. Gadis itu melangkah maju mendekati pembaruan Tera, menatap nanar ke arah pembuluh darah di leher Tera yang kini mulai membiru kehitaman. "Kau tidak mengerti... struktur racun itu jauh melampaui batas ilmu pengobatan dunia kita saat ini."