Udara di dalam gua persembunyian darurat terasa begitu pengap dan menyesakkan dada, dipenuhi oleh kepedihan yang merayap di setiap sudut ruangan. Di atas alas jerami yang digelar di lantai batu, Fathan dan Galin terbaring tak berdaya dengan wajah pucat pasi. Racun purba dari bilah golok musuh telah menyebar ke sekujur aliran darah mereka, membuat napas kedua pendekar tangguh itu terdengar begitu lemah dan terputus-putus. Chafia dan Zahra sibuk meracik berbagai ramuan penawar racun di sudut ruangan, namun cairan hitam yang keluar dari luka di tubuh Fathan dan Galin terus saja menolak khasiat obat-obatan tersebut.
"Ramuan ini tidak cukup kuat untuk menahan laju racun itu," bisik Chafia dengan suara bergetar, keringat bercucuran deras di pelipisnya saat ia mengelap dahi Galin yang panas membara. "Racun ini diciptakan menggunakan kutukan darah hitam leluhur musuh; racun itu menggerogoti organ dalam secara perlahan dari dalam."
Arka mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menatap nanar ke arah dua sahabat setianya yang sedang berjuang melawan maut. Rasa bersalah yang teramat berat menghimpit rongga dadanya. "Pasti ada cara lain, Chafia. Jangan katakan bahwa kita tidak bisa menyelamatkan mereka setelah semua pengorbanan yang mereka berikan di gerbang benteng."
Tera mendekati Arka, meletakkan tangan halusnya di pundak pemuda itu untuk memberikan ketenangan batin. "Tenangkan dirimu, Arka. Kita sedang menghadapi musuh yang menggunakan ilmu hitam tingkat tinggi; kita tidak boleh bertindak gegabah dalam kepanikan."
Chafia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemarinya sendiri yang berlumuran noda obat. Ia tampak berpikir keras, meresapi setiap guliran ingatan dari pelajaran pengobatan kuno yang pernah ia pelajari di perguruannya dulu. Di tengah keputusasaan yang melanda seluruh ruangan, Chafia tiba-tiba teringat akan sebuah catatan kuno tersembunyi di dalam halaman terdalam Kitab Teratai Agung milik perguruan Arka.
"Tunggu sebentar..." ucap Chafia tiba-tiba dengan mata membelalak lebar, mengangkat kepalanya menatap Arka penuh harap. "Catatan itu... aku ingat sekarang!"
Arka mengerutkan dahinya, menatap Chafia penuh selidik. "Catatan apa yang kau maksud, Chafia?"
"Halaman paling akhir dari Kitab Teratai Agung," jawab Chafia cepat, suaranya terdengar mendesak. "Buku itu bukan sekadar panduan tenaga dalam atau warisan jurus sakti perguruanmu. Di balik lembaran kulit rusa yang dijahit ganda, terdapat rahasia penyembuhan mutlak yang diwariskan oleh para leluhur suci."
❖ ❖ ❖
Semua pasang mata di dalam gua langsung tertuju kepada Chafia. Ki Ranu yang berdiri di dekat pintu masuk melangkah mendekat, matanya menyipit menuntut penjelasan lebih lanjut. "Penyembuhan mutlak seperti apa yang kau maksud, anak muda? Apakah itu benar-benar bisa menarik racun purba dari tubuh Fathan dan Galin?"
Chafia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya sebelum menjelaskan prinsip pengobatan kuno tersebut. "Chafia menjelaskan bahwa ada satu-satunya cara untuk menarik racun purba tersebut keluar dari tubuh manusia, yaitu menggunakan inti energi murni dari Kitab Teratai Agung."
Arka menatap Chafia dengan rasa tak percaya. "Inti energi murni dari kitab itu? Maksudmu kita harus menyalurkan chi spiritual kitab ke dalam tubuh mereka?"
"Bukan sekadar menyalurkan chi biasa, Arka," koreksi Chafia dengan nada serius dan sorot mata yang tidak main-main. "Kitab Teratai Agung harus dibuka pada halaman penyucian tertinggi, lalu energi spiritual murni di dalamnya ditarik keluar secara paksa melalui resonansi dantianmu untuk membersihkan setiap tetes darah yang telah tercemar di tubuh Fathan dan Galin."
Tera menggeleng pelan, keterkejutan jelas terlihat di wajahnya. "Tapi hal itu belum pernah kita lakukan sebelumnya! Kitab itu selama ini hanya kita gunakan sebagai sumber peningkatan tenaga dalam dan kompas spiritual perjalanan kita."
"Karena sebelumnya kita belum pernah menghadapi racun yang mematikan selusuh organ tubuh dalam hitungan jam," tegas Chafia. "Jika kita tidak menggunakan metode ini sekarang, menjelang sore nanti Fathan dan Galin akan kehilangan nyawa mereka secara perlahan."
Fathan yang terbaring lemah di atas jerami membuka matanya perlahan, menatap Arka dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Jangan... jangan korbankan masa depan perguruanmu demi kami, Arka..." bisiknya parau, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin gua.
Galin ikut mengerang pelan, mencoba mengangkat tangannya namun gagal karena tenaganya sudah terkuras habis. "Benar... biarkan kami pergi dengan tenang... jangan gadaikan pusaka suci itu..."
Arka merasakan tenggorokannya tercekat hebat mendengar kata-kata sahabatnya. Ia menolak untuk menyerah pada takdir yang merenggut orang-orang terkasih di sekitarnya. Namun, saat ia hendak menyetujui usulan Chafia, gadis itu mengangkat sebelah tangannya dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah muram dan ragu-ragu.