Suasana di dalam gua pertapaan kuno itu terasa begitu sunyi dan mencekam, seolah waktu pun enggan berputar di tempat yang dipenuhi oleh aura magis yang pekat tersebut. Dinding-dinding batu purba di sekeliling mereka memancarkan cahaya kebiruan yang redup, menyinari sosok Tera yang terbaring lemah di atas sebuah altar batu beralaskan jubah sutra yang mulai ternoda oleh tetesan darah. Di hadapan altar tersebut, Arka berdiri terpaku dengan tubuh gemetar hebat, menatap sebuah prasasti pusaka leluhur yang melayang di atas genangan air suci. Prasasti itu memancarkan pusaran energi keemasan yang luar biasa besar, menjadi sumber kekuatan tertinggi dari perguruan silat mereka yang telah diwariskan turun-temurun selama ribuan tahun.
Arka dihadapkan pada pilihan paling menyiksa dalam hidupnya: mempertahankan warisan leluhur perguruan atau merelakannya demi menyelamatkan nyawa Tera yang kini berada di ambang kematian. Racun kegelapan yang menjalar di tubuh wanita itu sudah menggerogoti organ vitalnya, dan satu-satunya cara untuk menyedot racun tersebut adalah dengan memanfaatkan aliran energi murni dari prasasti pusaka leluhur. Namun, ritual pemurnian itu menuntut harga yang sangat mahal bagi siapa pun yang memandunya.
"Arka... jangan... jangan korbankan pusaka itu demi aku..." bisik Tera dengan suara yang sangat parau, matanya terbuka setengah, menatap Arka penuh permohonan di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal. "Prasasti itu adalah kehormatan perguruan... martabat leluhur kita..."
"Diamlah, Tera! Jangan bicara dulu, simpan tenagamu!" seru Arka dengan suara bergetar, air mata penyesalan dan ketakutan tanpa sadar menetes membasahi pipinya. "Aku tidak peduli pada kehormatan perguruan atau warisan leluhur jika itu harus dibayar dengan nyawamu! Tanpa dirimu, semua kesaktian ini tidak ada artinya bagiku!"
Tera menggelengkan kepalanya lemah, air mata hangat turut mengalir di sudut matanya yang sayu. "Dunia persilatan... sangat kejam, Arka... Jika kau kehilangan kesaktian itu... kau tidak akan bisa melindungi kelompok kita dari faksi musuh..."
Arka mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap andal di telapak tangannya, menahan beban psikologis yang begitu berat menghantam dadanya. "Biarkan dunia persilatan mencercaku sebagai pengkhianat atau pengecut! Aku hanya ingin kau tetap hidup bersamaku, Tera!" bentak Arka lirih, menyuarakan isi hatinya yang paling dalam di tengah keheningan gua keramat tersebut.
Prasasti pusaka di hadapan mereka terus berdenyut memancarkan cahaya keemasan yang semakin menyilaukan mata, seolah menuntut sebuah keputusan mutlak dari sang pewaris sah terakhir perguruan silat agung tersebut. Arka menatap altar batu tempat Tera berbaring, menyadari bahwa setiap detik yang terbuang berarti mendekatkan wanita yang dicintainya itu pada gerbang kematian yang abadi.
❖ ❖ ❖
Jika ia memilih menyelamatkan Tera, ia harus merelakan sebagian besar kesaktian jurus perguruan yang telah dibangun dan diwariskan turun-temurun lenyap seketika dari dalam tubuhnya. Ritual pengalihan energi suci itu mengharuskan Arka mengorbankan inti tenaga dalam warisan leluhur yang tersimpan di dalam meridian darahnya untuk menetralisir racun mematikan yang merusak tubuh Tera.
Arka menatap telapak tangannya sendiri, merasakan aliran energi keemasan yang selama ini menjadi sumber kebanggaan dan kekuatan utamanya di dunia persilatan. Selama bertahun-tahun, ia berlatih siang dan malam, menempa diri melampaui batas fisik manusia demi menguasai seluruh rahasia jurus tertinggi perguruan tersebut. Dan kini, dalam waktu kurang dari satu kedipan mata, ia harus merelakan semuanya musnah begitu saja tanpa bisa ditarik kembali.
"Apakah kau benar-benar sanggup hidup sebagai orang biasa setelah semua ini, Arka?" suara batinnya berbisik tajam, menggema di dalam kepalanya yang terasa mau pecah. "Hilangnya inti tenaga dalam itu berarti kau akan kehilangan seluruh kemampuan bela dirimu secara permanen."
Tera yang melihat keraguan di wajah Arka berusaha mengangkat tangannya yang terasa sangat berat, menyentuh pergelangan tangan pria itu dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. "Arka... aku tahu... betapa besar pengorbanan yang harus kau berikan... Jangan lakukan ini... carilah cara lain..."
"Tidak ada cara lain lagi, Tera!" jawab Arka dengan suara serak, menggenggam jemari Tera yang terasa begitu dingin di dalam telapak tangannya. "Aku sudah memeriksa seluruh gulungan pengobatan kuno, dan ritual ini adalah satu-satunya jalan pintas untuk menarik racun itu keluar dari tubuhmu."
"Tapi risikonya... masa depanmu..." rintih Tera dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.