KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Keadilan Dunia dan Nyawa Tercinta

Malam merangkak semakin larut, menyisakan keheningan yang kian pekat di dalam gua tersembunyi di balik tirai air terjun. Cahaya obor yang menempel di dinding batu memancarkan nyala kemerahan yang menari-nari di atas permukaan genangan air kecil, menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk di dinding gua. Di sudut ruangan yang agak sunyi, Arka duduk bersila seorang diri di atas batu datar, menatap kosong ke arah bilah pedangnya yang tergeletak di pangkuannya. Desir air terjun di luar terdengar seperti bisikan konstan yang mengiringi gejolak pikiran di kepalanya.

Arka merenungkan makna sejati dari ilmu bela diri dan keadilan yang selama ini ia junjung tinggi bersama para sahabatnya.

Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di dunia persilatan, ia diajarkan bahwa seorang pendekar sejati harus mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membela yang lemah, menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu, dan menumpas kezaliman sampai ke akar-akarnya. Namun, di bawah tekanan perang yang begitu kejam melawan Golongan Hitam, prinsip-prinsip luhur itu kini diuji hingga batas kemampuannya yang paling rapuh.

Ia menghela napas panjang, meraba gagang pedangnya yang dingin dengan jemari yang sedikit bergetar. "Apakah arti dari sebuah kemenangan besar di medan perang," bisik Arka pelan pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh air, "jika dunia yang kita selamatkan ternyata kosong karena kehilangan orang-orang yang kita kasihi?"

Di sisi lain gua, Kamil dan Rafar tampak terlelap dalam keletihan yang amat sangat setelah berhari-hari bertarung tanpa henti. Sementara itu, di dekat sudut tempat Arka merenung, Tera terbaring lemah dengan pernapasan yang semakin tersengal-sengal akibat racun mematikan yang mulai menyebar di sekujur tubuhnya.

Arka mengalihkan pandangannya dari pedang di pangkuannya, menatap sosok Tera yang wajahnya tampak sangat pucat pasi di bawah temaram cahaya obor. Rasa sakit yang teramat sangat menusuk dadanya, jauh lebih nyeri daripada luka sayatan pedang mana pun yang pernah ia terima di medan pertempuran.

❖ ❖ ❖

Pertentangan batin yang hebat berkecamuk di dalam dada Arka, menghancurkan ketenangan jiwa yang selama ini ia bangun melalui latihan meditasi bertahun-tahun.

Pertentangan batin berkecamuk hebat: apakah menegakkan keadilan dunia persilatan lebih penting daripada mempertahankan nyawa wanita yang telah mencuri hatinya?

Ia teringat pada sumpah suci yang diucapkannya di hadapan para tetua perguruan tinggi dulu—sebuah sumpah untuk mengutamakan keselamatan dunia dan kehormatan persilatan di atas segalanya, bahkan jika harus mengorbankan kepentingan pribadi. Namun, bayangan Tera yang tersenyum hangat di sisinya selama masa-masa sulit pelarian mereka membuat sumpah itu terasa begitu hampa dan tidak bermakna.

"Arka," panggil sebuah suara lirih yang nyaris tak terdengar dari arah tempat peristirahatan Zahra.

Arka menoleh cepat, melihat Zahra berjalan mendekatinya dengan langkah gontai dan wajah yang menyiratkan keputusasaan mendalam. Zahra berlutut di dekat Arka, menatap lurus ke dalam mata pemuda itu dengan sorot mata yang penuh beban.

"Ada apa, Zahra? Apakah kondisi Tera semakin memburuk?" tanya Arka cemas, suaranya bergetar hebat.

Zahra menundukkan kepalanya sejenak sebelum menjawab, "Racun dari panah bermata duri itu telah menembus jalur meridian utamanya. Ramuan penawar yang kita miliki tidak mampu lagi menghentikan penyebarannya. Dalam hitungan jam, racun itu akan mencapai jantungnya."

"Tidak... pasti ada cara lain!" sanggah Arka setengah berbisik namun penuh penekanan. "Kau adalah tabib terhebat di negeri ini, Zahra! Gunakan seluruh kemampuanmu!"

"Aku sudah mengerahkan segalanya, Arka," jawab Zahra dengan suara parau, air mata hampir menetes di pipinya. "Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan menyalurkan seluruh sisa tenaga dalam murni milik seorang pendekar tingkat tinggi secara langsung ke titik nadinya. Tapi risikonya... orang yang menyalurkan tenaga itu akan kehilangan seluruh ilmu bela dirinya selamanya."

Arka tertegun mendengar penjelasan tersebut. Keputusan besar kini berada di ujung tanduk, menuntut pengorbanan tertinggi yang pernah ada dalam sejarah dunia persilatan.

Lihat selengkapnya